Influenza A pada Bayi dan Balita, Jangan Anggap Cuma Flu Biasa
- Influenza A merupakan salah satu virus penyebab influenza yang bisa menyerang bayi dan balita.
- Anak di bawah 5 tahun, terutama yang berusia di bawah 2 tahun, lebih berisiko mengalami komplikasi.
- Sulit bernapas, dehidrasi, atau anak terlihat sangat lemas jadi tanda yang nggak boleh disepelekan.
Jakarta: Influenza A mungkin kedengarannya kayak flu biasa, tapi kalo yang kena bayi atau balita, orang tua perlu lebih aware. Influenza musiman memang paling sering disebabkan virus influenza tipe A atau B dan bisa menyerang siapa aja. Namun, anak kecil termasuk kelompok yang punya risiko lebih tinggi mengalami komplikasi.

(Ilustrasi virus Influenza A. Foto: AI Generated)
Gejala influenza A pada anak
Gejalanya bisa muncul cukup tiba-tiba. Anak dapat mengalami demam, batuk, pilek atau hidung tersumbat, sakit tenggorokan, badan pegal, sakit kepala, dan terlihat lebih lemas dari biasanya.
Nah, pada bayi yang belum bisa ngomong, orang tua mungkin lebih susah mengenalinya. Perubahan perilaku seperti jadi jauh lebih rewel, susah makan atau minum, atau terlihat nggak seaktif biasanya juga perlu diperhatikan.
Yang perlu diingat, nggak semua anak dengan influenza mengalami demam. Jadi, jangan cuma mengandalkan termometer buat melihat kondisi si kecil.
Kenapa bayi dan balita lebih berisiko?
Menurut CDC, anak di bawah 5 tahun punya risiko lebih tinggi mengalami komplikasi influenza, terutama yang masih berusia di bawah 2 tahun. Bayi di bawah 6 bulan bahkan menjadi kelompok anak dengan risiko rawat inap dan kematian akibat flu yang paling tinggi.
Komplikasi influenza bisa berupa infeksi telinga, dehidrasi, pneumonia, sampai kondisi yang membutuhkan perawatan di rumah sakit. Jadi, kalo si kecil mulai sakit, kondisinya memang perlu dipantau lebih dekat.
Waspadai tanda bahaya
Ada beberapa tanda yang nggak boleh dianggap sepele. Segera cari pertolongan medis kalo anak mengalami napas cepat atau sulit bernapas, bibir atau wajah terlihat kebiruan, tulang rusuk tertarik saat bernapas, nyeri dada, kejang, atau terlihat sangat lemas.
Tanda dehidrasi seperti nggak buang air kecil selama sekitar delapan jam, mulut kering, dan nggak mengeluarkan air mata saat menangis juga perlu diperhatikan.
Lalu, gimana penanganannya?
Kalo anak dicurigai mengalami influenza, sebaiknya konsultasikan kondisinya ke tenaga kesehatan, terutama karena bayi dan balita termasuk kelompok berisiko.
Dokter dapat mempertimbangkan obat antivirus untuk anak dengan influenza. Menurut CDC, obat antivirus paling efektif kalo diberikan dalam satu sampai dua hari sejak gejala mulai muncul. Pada anak yang berisiko mengalami komplikasi, pengobatan dini jadi makin penting.
Untuk pencegahan, vaksin influenza direkomendasikan secara rutin mulai usia 6 bulan. WHO juga memasukkan anak usia 6 bulan sampai 5 tahun sebagai kelompok yang perlu mendapat perhatian dalam pencegahan influenza.
Desi Indasari
(FIR)