FEATURE

Kebiasaan Bilang Maaf Ini Ternyata Ada Namanya

A. Firdaus
Sabtu 19 September 2026 / 17:47
Ringkasnya gini..
  • Terlalu sering minta maaf bisa terjadi meski sebenarnya kita nggak melakukan kesalahan.
  • Kebiasaan ini bisa berkaitan dengan rasa ragu terhadap diri sendiri dan takut merepotkan orang lain.
  • Ada beberapa cara simpel buat mengurangi kebiasaan over-apologizing.

Jakarta: Pernah nggak, baru mau minta bantuan tapi yang keluar duluan malah, “Maaf ganggu”? Atau baru telat beberapa menit langsung, “Maaf banget, ya.” Kalo ini sering kejadian, bisa jadi kamu punya kebiasaan over-apologizing, alias terlalu sering minta maaf meski sebenarnya nggak salah.

Dalam artikel Psychology Today berjudul “3 Ways to Stop Your Over-Apologizing Habit”, psikolog Mark Travers, Ph.D., membahas kebiasaan meminta maaf secara berlebihan. Menurut Travers, pola ini bisa muncul saat seseorang terlalu khawatir dianggap merepotkan, mengganggu, atau bikin orang lain nggak nyaman.


Gambar Codex 19 Sep 2026, 14_11_50
(Ilustrasi kebiasaan meminta maaf secara berlebihan atau over-apologizing. Foto: AI Generated)

 

Coba ganti “maaf” dengan “terima kasih”

Salah satu cara simpel buat mengurangi kebiasaan ini adalah mengganti “maaf” dengan “terima kasih”.

Misalnya, daripada bilang, “Maaf udah bikin kamu nunggu,” coba ganti jadi, “Makasih udah nunggu.” Begitu juga saat lagi curhat. Kalimat “Maaf ya aku banyak cerita” bisa berubah jadi, “Makasih udah mau dengerin.”

Menurut Travers, perubahan kecil ini bikin fokus kalimat bergeser dari rasa bersalah menjadi apresiasi. Jadi, kamu tetap menghargai orang lain tanpa otomatis menempatkan diri sebagai pihak yang salah.


 


 

Jangan buru-buru nyalahin diri sendiri

Kebiasaan minta maaf juga bisa muncul karena kita terlalu cepat menganggap sesuatu sebagai kesalahan sendiri.

Contohnya, seseorang balas chat cuma, “Oh, iya.” Kamu langsung mikir, “Gue salah ngomong, ya?” atau “Jangan-jangan gue ganggu?” Padahal, belum tentu ada hubungannya sama kamu.

Sebelum refleks bilang “maaf”, coba berhenti sebentar dan tanya diri sendiri: gue emang ngelakuin sesuatu yang perlu dimaafin?

Kalo nggak, ya nggak perlu maksa diri buat minta maaf.

 

Ngomongin kebutuhan tanpa merasa bersalah

“Maaf ganggu, boleh minta tolong?” mungkin sudah jadi kalimat otomatis. Padahal, minta bantuan nggak otomatis berarti kamu sedang merepotkan orang lain.

Coba langsung bilang, “Boleh minta tolong?” atau “Gue butuh bantuan sebentar.” Lebih simpel dan nggak bikin kebutuhanmu terdengar seperti sesuatu yang harus kamu minta maafkan.

Bukan berarti kata “maaf” harus dihapus total. Saat memang melakukan kesalahan, minta maaf tetap penting. Tapi kalo kata itu sudah keluar otomatis setiap kali kamu merasa sedikit nggak enak, mungkin saatnya berhenti sebentar dan mikir: gue beneran salah, atau cuma takut dianggap salah?


Desi Indasari



Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(FIR)

MOST SEARCH