Kenapa Malam Hari Suka Overthinking? Ternyata Otak Lagi Begini
- Rasa capek bisa bikin otak nggak seoptimal biasanya dalam mengatur emosi dan melihat suatu masalah.
- Suasana malam yang lebih sepi bikin pikiran gampang muter dan fokus ke hal-hal yang bikin kepikiran.
- Masalah yang terasa berat tengah malam bisa kelihatan jauh lebih biasa setelah bangun pagi.
Jakarta: Pernah nggak, siang hari hidup terasa biasa aja, tapi begitu malam, otak malah mendadak ngajak rapat? Chat yang belum dibalas jadi kepikiran, salah ngomong beberapa hari lalu diputar ulang, bahkan kejadian bertahun-tahun lalu tiba-tiba muncul lagi. Padahal masalahnya nggak nambah, cuma pas malam pikiran kayak punya waktu lebih banyak buat muter ke mana-mana.
Dalam artikel Why Our Brain Tells Us Horror Stories at Night di Psychology Today, Anna Katharina Schaffner, Ph.D., seorang burnout and executive coach sekaligus penulis buku Exhausted: An A-Z for the Weary, membahas kenapa otak bisa lebih gampang masuk ke mode pikiran negatif saat malam.

Seseorang yang mengalami overthinking pada malam hari. Ilustrasi: AI Generated
Kenapa malam bikin overthinking?
Salah satu alasannya ternyata sesimpel karena kita capek. Saat tubuh mulai lelah, prefrontal cortex, bagian otak yang membantu mengatur emosi, mengontrol pikiran, dan menilai situasi secara rasional, bisa nggak bekerja seoptimal biasanya. Akibatnya, hal kecil yang sebenarnya masih aman-aman aja bisa terasa jauh lebih serius. Otak jadi lebih gampang fokus ke kemungkinan buruk daripada mikirin solusi.
Jam biologis tubuh juga ikut berperan. Saat malam sampai dini hari, suasana hati bisa cenderung lebih rendah sehingga pikiran negatif terasa makin menonjol. Makanya, masalah yang siang tadi cuma terasa, “Yaudah, nanti dipikirin,” bisa berubah jadi, “Gimana kalo semuanya berantakan?” pas udah lewat tengah malam.
Malam sepi, pikiran malah rame
Siang hari, otak kita punya banyak distraksi. Ada kerjaan, ngobrol, notifikasi, kendaraan, suara orang, atau sekadar sibuk scroll media sosial. Begitu malam, semuanya mulai senyap. Nah, di suasana yang lebih tenang ini, pikiran yang sebelumnya ketutup kesibukan bisa muncul lagi.
Kita jadi mengulang percakapan, mengingat kejadian lama, atau membayangkan berbagai kemungkinan yang belum tentu terjadi. Kondisi ini dikenal sebagai rumination, yaitu kebiasaan memikirkan sesuatu berulang kali tanpa benar-benar menemukan jalan keluarnya. Jadi, bukannya masalahnya makin besar. Bisa jadi kita aja yang lagi melihatnya dari kondisi otak yang udah capek.
Kenapa pagi terasa lebih santai?
Pernah bangun tidur lalu mikir, “Lah, semalam gue kenapa panik banget, ya?” Nah, itu bisa terjadi karena setelah tidur, otak kembali punya kesempatan buat bekerja lebih optimal dalam mengatur emosi dan melihat situasi. Masalah yang terasa kayak kiamat kecil pukul 02.00 bisa kelihatan jauh lebih masuk akal saat pagi.
Jadi, kalo malam ini otak mulai bikin skenario ke mana-mana, nggak perlu langsung dipercaya semuanya. Bisa jadi itu cuma otak yang lagi capek, ditambah suasana malam yang bikin pikiran terdengar jauh lebih berisik.
Desi Indasari
(FIR)