FITNESS & HEALTH
Stop Bikin Skenario Palsu di Kepala! Ini 9 Cara Jinakin Overthinking
A. Firdaus
Selasa 09 Juni 2026 / 11:05
- Saat malam hari ketika tubuh lelah tetapi kepala justru semakin ramai.
- Manusia disebut memiliki dua sisi diri, yaitu diri kecil dan diri besar.
- Saat seseorang mulai melepaskan diri dari dominasi pikiran dan ego, ruang untuk menerima ketenangan dan cinta menjadi lebih terbuka.
Jakarta: Banyak orang pernah mengalami momen ketika pikiran terasa tidak bisa berhenti bekerja. Terutama saat malam hari ketika tubuh lelah tetapi kepala justru semakin ramai.
Berbagai kekhawatiran, penyesalan, ketakutan, hingga percakapan yang terus terulang di dalam kepala sering membuat seseorang sulit tidur dan sulit merasa tenang. Kondisi ini bukan hanya melelahkan secara mental, tetapi juga dapat memengaruhi emosi, energi, hingga kualitas hidup sehari-hari.
Fenomena overthinking atau berpikir berlebihan, kini semakin sering dialami banyak orang di tengah tekanan hidup yang serba cepat. Pikiran yang terus berputar tanpa henti, membuat seseorang terjebak dalam lingkaran kekhawatiran yang sulit dihentikan.
Tidak sedikit yang akhirnya merasa frustrasi karena terus mengulang masalah yang sama di dalam kepala, tetapi tetap tidak menemukan solusi.
Dilansir dari Psychology Today, Judith Orloff M.D., seorang psikiater dan empati mengungkapkan bahwa banyak pasien datang dengan keluhan pikiran, yang terlalu aktif.
Mereka merasa suara dalam kepala begitu mendominasi, hingga menenggelamkan hal-hal lain di sekitar mereka. Pikiran terus bergerak tanpa jeda, memaksa mereka mengulang cerita dan emosi yang sama berulang kali.
Dalam penjelasannya, manusia disebut memiliki dua sisi diri, yaitu diri kecil dan diri besar. Diri kecil lebih dipenuhi ego, emosi, dan pergulatan pikiran. Sedangkan diri besar lebih terhubung dengan hati dan ketenangan batin.
Berpikir berlebihan sering muncul, ketika ego merasa terluka dan sulit melepaskan rasa sakit tersebut. Ego cenderung mempertahankan kemarahan, rasa takut, dan dendam dibanding membiarkan seseorang benar-benar pulih. Akibatnya, pikiran terus dipenuhi kecemasan dan tekanan emosional.
Sebaliknya, empati disebut sebagai jalan menuju hati. Dengan beralih dari pikiran yang sibuk menuju kesadaran yang lebih tenang, proses penyembuhan emosional bisa lebih mudah terjadi.
Dalam buku The Genius of Empathy, dijelaskan beberapa strategi sederhana, yang dapat membantu mengurangi overthinking dan membawa pikiran kembali lebih tenang.
Berikut adalah sembilan langkah, yang bisa dilakukan untuk membantu meredakan kebiasaan berpikir berlebihan:
1. Mengenali pola pikiran yang tidak produktif dengan penuh kasih terhadap diri sendiri.
2. Memusatkan perhatian pada napas melalui hidung, agar fokus berpindah dari pikiran menuju tubuh.
3. Mengingatkan diri sendiri dengan lembut. Berpikir berlebihan tidak akan membantu menyelesaikan masalah, itu hanya membuatku frustrasi.
4. Fokus pada kondisi saat ini, dan tidak terus membangun cerita menakutkan tentang masa depan.
5. Belajar menerima hal-hal yang memang tidak bisa dikendalikan.
6. Meletakkan tangan di dada sambil membayangkan sesuatu, yang menenangkan dan membangkitkan semangat.
7. Mengulang kalimat positif seperti, “Semua baik-baik saja. Seiring waktu, masalah ini akan teratasi.”
8. Mendengarkan musik yang lembut untuk membantu pikiran lebih rileks, dan terhubung dengan emosi yang lebih tenang.
9. Menikmati suasana alam seperti matahari terbenam, langit pagi, atau cahaya bulan untuk membantu menenangkan hati.
Saat seseorang mulai melepaskan diri dari dominasi pikiran dan ego, ruang untuk menerima ketenangan dan cinta menjadi lebih terbuka.
Dari kondisi tersebut, seseorang mungkin mulai menyadari bahwa selalu ada kemungkinan baru untuk memperbaiki keadaan, termasuk memperbaiki hubungan dan cara memandang masalah yang sedang dihadapi.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Berbagai kekhawatiran, penyesalan, ketakutan, hingga percakapan yang terus terulang di dalam kepala sering membuat seseorang sulit tidur dan sulit merasa tenang. Kondisi ini bukan hanya melelahkan secara mental, tetapi juga dapat memengaruhi emosi, energi, hingga kualitas hidup sehari-hari.
Fenomena overthinking atau berpikir berlebihan, kini semakin sering dialami banyak orang di tengah tekanan hidup yang serba cepat. Pikiran yang terus berputar tanpa henti, membuat seseorang terjebak dalam lingkaran kekhawatiran yang sulit dihentikan.
Tidak sedikit yang akhirnya merasa frustrasi karena terus mengulang masalah yang sama di dalam kepala, tetapi tetap tidak menemukan solusi.
Dilansir dari Psychology Today, Judith Orloff M.D., seorang psikiater dan empati mengungkapkan bahwa banyak pasien datang dengan keluhan pikiran, yang terlalu aktif.
Mereka merasa suara dalam kepala begitu mendominasi, hingga menenggelamkan hal-hal lain di sekitar mereka. Pikiran terus bergerak tanpa jeda, memaksa mereka mengulang cerita dan emosi yang sama berulang kali.
Dalam penjelasannya, manusia disebut memiliki dua sisi diri, yaitu diri kecil dan diri besar. Diri kecil lebih dipenuhi ego, emosi, dan pergulatan pikiran. Sedangkan diri besar lebih terhubung dengan hati dan ketenangan batin.
Berpikir berlebihan sering muncul, ketika ego merasa terluka dan sulit melepaskan rasa sakit tersebut. Ego cenderung mempertahankan kemarahan, rasa takut, dan dendam dibanding membiarkan seseorang benar-benar pulih. Akibatnya, pikiran terus dipenuhi kecemasan dan tekanan emosional.
Sebaliknya, empati disebut sebagai jalan menuju hati. Dengan beralih dari pikiran yang sibuk menuju kesadaran yang lebih tenang, proses penyembuhan emosional bisa lebih mudah terjadi.
Dalam buku The Genius of Empathy, dijelaskan beberapa strategi sederhana, yang dapat membantu mengurangi overthinking dan membawa pikiran kembali lebih tenang.
Berikut adalah sembilan langkah, yang bisa dilakukan untuk membantu meredakan kebiasaan berpikir berlebihan:
1. Mengenali pola pikiran yang tidak produktif dengan penuh kasih terhadap diri sendiri.
2. Memusatkan perhatian pada napas melalui hidung, agar fokus berpindah dari pikiran menuju tubuh.
3. Mengingatkan diri sendiri dengan lembut. Berpikir berlebihan tidak akan membantu menyelesaikan masalah, itu hanya membuatku frustrasi.
4. Fokus pada kondisi saat ini, dan tidak terus membangun cerita menakutkan tentang masa depan.
5. Belajar menerima hal-hal yang memang tidak bisa dikendalikan.
6. Meletakkan tangan di dada sambil membayangkan sesuatu, yang menenangkan dan membangkitkan semangat.
7. Mengulang kalimat positif seperti, “Semua baik-baik saja. Seiring waktu, masalah ini akan teratasi.”
8. Mendengarkan musik yang lembut untuk membantu pikiran lebih rileks, dan terhubung dengan emosi yang lebih tenang.
9. Menikmati suasana alam seperti matahari terbenam, langit pagi, atau cahaya bulan untuk membantu menenangkan hati.
Saat seseorang mulai melepaskan diri dari dominasi pikiran dan ego, ruang untuk menerima ketenangan dan cinta menjadi lebih terbuka.
Dari kondisi tersebut, seseorang mungkin mulai menyadari bahwa selalu ada kemungkinan baru untuk memperbaiki keadaan, termasuk memperbaiki hubungan dan cara memandang masalah yang sedang dihadapi.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)