FITNESS & HEALTH
Stalking Mantan Doi: Berangkat Penasaran, Pulang Nyari Playlist Galau
Yatin Suleha
Senin 08 Juni 2026 / 14:53
- Dulu, istilah “cemburu retroaktif” ini identik banget sama penderita OCD.
- Tapi sekarang, makin banyak orang yang sengaja datang konsultasi ke psikolog gara-gara ngerasain hal yang sama.
- Orang-orang yang terjebak dalam kondisi cemburu retroaktif biasanya sering dihantui oleh pikiran-pikiran mengganggu.
Jakarta: Dulu, istilah “cemburu retroaktif” ini identik banget sama penderita OCD. Tapi sekarang, makin banyak orang yang sengaja datang konsultasi ke psikolog gara-gara ngerasain hal yang sama, sampai-sampai mereka mikir, “Jangan-jangan gue OCD ya?”
Nah, gara-gara fenomena ini makin ramai, para ahli pun makin tertarik buat meneliti gejalanya secara mendalam.
Tapi tahu ga sih? Brian Thompson Ph.D., seorang psikolog spesialis kecemasan, sempat nge-spill di Psychology Today kalau frasa “cemburu retroaktif” ini aslinya bukan istilah resmi dari dunia psikologi, melainkan bahasa yang viral dan berkembang dari obrolan netizen di media sosial!
Istilah ini dipakai untuk menggambarkan rasa tersiksa dan tidak nyaman, yang muncul akibat memikirkan riwayat asmara atau kedekatan seksual, yang pernah dilalui oleh pasangan di masa lalunya.
Orang-orang yang terjebak dalam kondisi ini biasanya sering dihantui oleh pikiran-pikiran mengganggu, serta menyakitkan mengenai mantan kekasih dari pasangannya yang sekarang.
Efeknya tidak cuma memicu rasa cemburu, tetapi juga mengundang badai emosi lain, seperti ketakutan atau kecemasan, kemarahan, kesedihan, hingga rasa malu.
.jpg)
(Cemburu retroaktif (retroactive jealousy) fokus utamanya bukanlah ancaman di masa kini, melainkan bayang-bayang atau detail hubungan pasangan dengan mantan-mantan mereka di masa lalu. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Mereka bahkan sering kali terbayang-bayang atau mengimajinasikan secara visual, bagaimana kemesraan romantis maupun aktivitas seksual, yang dulu dilakukan pasangannya bersama sang mantan, dan bayangan itu terasa sangat mengusik ketenangan pikiran.
Demi meredakan rasa tidak nyaman tersebut, ada tiga respons yang biasanya refleks dilakukan.
1. Memberondong pasangan dengan pertanyaan detail, yang berulang-ulang seputar hubungan masa lalunya.
2. Berburu informasi mengenai sang mantan secara daring di media sosial, atau melakukan “cyberstalking”.
3. Terus memutar ulang kenangan masa lalu pasangan di dalam kepala, atau sibuk membanding-bandingkannya dengan kondisi sekarang.
Niat awal dari berbagai tindakan ini sebenarnya adalah demi mengurangi rasa cemas, serta mencari kepastian bahwa hubungan, yang sedang dijalani saat ini berharga dan istimewa.
Sialnya, cara ini justru sering kali memicu efek bumerang, yang malah membuat luka emosional dan rasa khawatir menjadi semakin parah.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(TIN)
Nah, gara-gara fenomena ini makin ramai, para ahli pun makin tertarik buat meneliti gejalanya secara mendalam.
Tapi tahu ga sih? Brian Thompson Ph.D., seorang psikolog spesialis kecemasan, sempat nge-spill di Psychology Today kalau frasa “cemburu retroaktif” ini aslinya bukan istilah resmi dari dunia psikologi, melainkan bahasa yang viral dan berkembang dari obrolan netizen di media sosial!
Istilah ini dipakai untuk menggambarkan rasa tersiksa dan tidak nyaman, yang muncul akibat memikirkan riwayat asmara atau kedekatan seksual, yang pernah dilalui oleh pasangan di masa lalunya.
Orang-orang yang terjebak dalam kondisi ini biasanya sering dihantui oleh pikiran-pikiran mengganggu, serta menyakitkan mengenai mantan kekasih dari pasangannya yang sekarang.
Efeknya tidak cuma memicu rasa cemburu, tetapi juga mengundang badai emosi lain, seperti ketakutan atau kecemasan, kemarahan, kesedihan, hingga rasa malu.
.jpg)
(Cemburu retroaktif (retroactive jealousy) fokus utamanya bukanlah ancaman di masa kini, melainkan bayang-bayang atau detail hubungan pasangan dengan mantan-mantan mereka di masa lalu. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Mereka bahkan sering kali terbayang-bayang atau mengimajinasikan secara visual, bagaimana kemesraan romantis maupun aktivitas seksual, yang dulu dilakukan pasangannya bersama sang mantan, dan bayangan itu terasa sangat mengusik ketenangan pikiran.
Demi meredakan rasa tidak nyaman tersebut, ada tiga respons yang biasanya refleks dilakukan.
1. Memberondong pasangan dengan pertanyaan detail, yang berulang-ulang seputar hubungan masa lalunya.
2. Berburu informasi mengenai sang mantan secara daring di media sosial, atau melakukan “cyberstalking”.
3. Terus memutar ulang kenangan masa lalu pasangan di dalam kepala, atau sibuk membanding-bandingkannya dengan kondisi sekarang.
Niat awal dari berbagai tindakan ini sebenarnya adalah demi mengurangi rasa cemas, serta mencari kepastian bahwa hubungan, yang sedang dijalani saat ini berharga dan istimewa.
Sialnya, cara ini justru sering kali memicu efek bumerang, yang malah membuat luka emosional dan rasa khawatir menjadi semakin parah.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(TIN)