FITNESS & HEALTH
Udara Makin Tak Bersahabat, Kesehatan dan Keuangan Keluarga Ikut Teruji
A. Firdaus
Sabtu 19 September 2026 / 11:44
- Kualitas udara dan abu vulkanik meningkatkan perhatian terhadap kesehatan pernapasan. Simak pentingnya pencegahan dan kesiapan finansial keluarga menghadapi risiko medis.
- Di tengah kondisi seperti ini, menjaga kesehatan pernapasan bukan lagi sekadar soal menghindari batuk atau pilek.
- Kemenkes juga menekankan pentingnya memberikan perhatian lebih kepada kelompok rentan selama periode kualitas udara buruk.
Jakarta: Belakangan ini, udara di sejumlah wilayah Indonesia terasa makin tidak bersahabat. Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan masih muncul di sejumlah daerah, sementara musim kering membuat konsentrasi polutan di udara berpotensi meningkat.
Situasi tersebut datang bersamaan dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda. Erupsi yang berlangsung sejak awal September 2026 menyebabkan sebaran abu vulkanik di sejumlah wilayah dan turut menjadi perhatian karena abu dapat mengganggu kualitas udara serta kesehatan pernapasan. BNPB mencatat aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga per 11 September 2026.
Di tengah kondisi seperti ini, menjaga kesehatan pernapasan bukan lagi sekadar soal menghindari batuk atau pilek. Paparan asap, partikulat, maupun abu vulkanik dapat meningkatkan risiko gangguan saluran pernapasan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit pernapasan tertentu.
Kementerian Kesehatan sebelumnya juga melaporkan peningkatan kasus ISPA di wilayah yang terdampak karhutla. Per 27 Agustus 2026, misalnya, tercatat 4.082 kasus ISPA dalam satu hari dengan jumlah kumulatif 13.449 kasus dari 63 kabupaten/kota di tujuh provinsi terdampak karhutla.
Masalah kesehatan biasanya tidak berhenti pada keluhan fisik. Ketika seseorang membutuhkan pemeriksaan, obat, atau bahkan perawatan di rumah sakit, ada konsekuensi lain yang ikut muncul, yaitu biaya.
Pengeluaran medis yang datang secara tiba-tiba bisa menjadi tantangan tersendiri bagi keluarga. Apalagi ketika biaya perawatan terus mengalami perubahan dari waktu ke waktu.
Data internal klaim medis Prudential Indonesia menunjukkan biaya perawatan gangguan pernapasan untuk kelas rumah sakit dan jenis tindakan yang sama meningkat 106,3 persen, dari sekitar Rp49,9 juta pada 2023 menjadi Rp103 juta pada 2025.
Kenaikan juga terlihat pada biaya fasilitas penunjang. Tarif kamar rawat inap VIP, misalnya, tercatat meningkat 57 persen dari Rp1,5 juta menjadi Rp2,35 juta per hari.
Angka tersebut menjadi pengingat bahwa risiko kesehatan dan kondisi finansial keluarga memang saling berkaitan. Ketika kebutuhan medis datang tanpa rencana, tabungan atau dana darurat bisa ikut terkuras.
Menghadapi kondisi udara yang kurang baik tidak selalu harus dimulai dari langkah besar. Kebiasaan sehari-hari justru menjadi lapisan perlindungan pertama.
Memantau kualitas udara sebelum beraktivitas di luar rumah, menggunakan masker ketika kondisi udara tidak sehat, menjaga kebersihan lingkungan, memastikan asupan makanan dan cairan tetap baik, serta segera mencari pertolongan medis ketika muncul gejala yang mengkhawatirkan merupakan beberapa langkah yang bisa dilakukan.
Kemenkes juga menekankan pentingnya memberikan perhatian lebih kepada kelompok rentan selama periode kualitas udara buruk. Paparan asap dapat memicu gangguan seperti ISPA, batuk, sesak napas, asma, PPOK, hingga iritasi mata dan kulit.
Pada situasi tertentu, masyarakat juga perlu mengikuti informasi resmi mengenai perkembangan kualitas udara dan aktivitas gunung api. BNPB, misalnya, mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi hujan abu dan bahaya lain dari aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Chief Health Officer Prudential Indonesia, Yosie William Iroth, mengatakan kesiapan menghadapi risiko kesehatan perlu dilihat secara lebih menyeluruh. Menurutnya, upaya menjaga kesehatan tidak hanya berkaitan dengan pencegahan penyakit, tetapi juga kesiapan menghadapi konsekuensi ketika seseorang membutuhkan perawatan medis.
"Ketika berbicara tentang risiko gangguan kesehatan, yang perlu dipersiapkan bukan hanya bagaimana mencegah penyakit, tetapi juga bagaimana menghadapi dampaknya jika perawatan medis dibutuhkan. Di tengah biaya kesehatan yang terus meningkat, perlindungan kesehatan menjadi bagian penting dari kesiapan finansial keluarga. Karena itu, prevention dan protection perlu berjalan beriringan agar masyarakat tidak hanya lebih sehat, tetapi juga lebih siap menghadapi risiko yang tidak terduga," ujar Yosie.
Prinsip tersebut pada dasarnya bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Menjaga kesehatan merupakan bentuk pencegahan, sementara menyiapkan dana darurat dan perlindungan kesehatan dapat menjadi bagian dari langkah menghadapi risiko yang tidak bisa diprediksi.
Prudential Indonesia sendiri mencatat telah membayarkan total klaim dan manfaat sebesar Rp8,9 triliun kepada lebih dari 149.000 nasabah sepanjang semester pertama 2026. Nilai tersebut meningkat 26 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dari jumlah tersebut, klaim medis mencapai Rp3,3 triliun atau tumbuh 15 persen secara tahunan.
Di sisi pencegahan, perusahaan juga menjalankan sejumlah inisiatif lingkungan dan kesehatan masyarakat, mulai dari penanaman mangrove, diskusi mengenai dampak mikroplastik terhadap kesehatan dan lingkungan, hingga program Desa Maju Prudential yang mencakup fasilitas air bersih dan edukasi lingkungan.
Pada akhirnya, menghadapi kondisi lingkungan yang berubah memang membutuhkan lebih dari sekadar respons ketika masalah sudah terjadi. Kebiasaan hidup sehat, perhatian terhadap kualitas udara, dan kesiapan menghadapi kebutuhan medis dapat berjalan beriringan.
Sebab, menjaga kesehatan bukan hanya tentang bagaimana tetap sehat hari ini. Ada pula soal bagaimana memastikan diri dan keluarga tetap punya ruang untuk menghadapi berbagai kemungkinan yang datang tanpa pemberitahuan.
(FIR)
Situasi tersebut datang bersamaan dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda. Erupsi yang berlangsung sejak awal September 2026 menyebabkan sebaran abu vulkanik di sejumlah wilayah dan turut menjadi perhatian karena abu dapat mengganggu kualitas udara serta kesehatan pernapasan. BNPB mencatat aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga per 11 September 2026.
Di tengah kondisi seperti ini, menjaga kesehatan pernapasan bukan lagi sekadar soal menghindari batuk atau pilek. Paparan asap, partikulat, maupun abu vulkanik dapat meningkatkan risiko gangguan saluran pernapasan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit pernapasan tertentu.
Kementerian Kesehatan sebelumnya juga melaporkan peningkatan kasus ISPA di wilayah yang terdampak karhutla. Per 27 Agustus 2026, misalnya, tercatat 4.082 kasus ISPA dalam satu hari dengan jumlah kumulatif 13.449 kasus dari 63 kabupaten/kota di tujuh provinsi terdampak karhutla.
Ketika kesehatan mulai berdampak ke dompet
Masalah kesehatan biasanya tidak berhenti pada keluhan fisik. Ketika seseorang membutuhkan pemeriksaan, obat, atau bahkan perawatan di rumah sakit, ada konsekuensi lain yang ikut muncul, yaitu biaya.
Pengeluaran medis yang datang secara tiba-tiba bisa menjadi tantangan tersendiri bagi keluarga. Apalagi ketika biaya perawatan terus mengalami perubahan dari waktu ke waktu.
Data internal klaim medis Prudential Indonesia menunjukkan biaya perawatan gangguan pernapasan untuk kelas rumah sakit dan jenis tindakan yang sama meningkat 106,3 persen, dari sekitar Rp49,9 juta pada 2023 menjadi Rp103 juta pada 2025.
Kenaikan juga terlihat pada biaya fasilitas penunjang. Tarif kamar rawat inap VIP, misalnya, tercatat meningkat 57 persen dari Rp1,5 juta menjadi Rp2,35 juta per hari.
Angka tersebut menjadi pengingat bahwa risiko kesehatan dan kondisi finansial keluarga memang saling berkaitan. Ketika kebutuhan medis datang tanpa rencana, tabungan atau dana darurat bisa ikut terkuras.
Mulai dari hal yang sederhana
Menghadapi kondisi udara yang kurang baik tidak selalu harus dimulai dari langkah besar. Kebiasaan sehari-hari justru menjadi lapisan perlindungan pertama.
Memantau kualitas udara sebelum beraktivitas di luar rumah, menggunakan masker ketika kondisi udara tidak sehat, menjaga kebersihan lingkungan, memastikan asupan makanan dan cairan tetap baik, serta segera mencari pertolongan medis ketika muncul gejala yang mengkhawatirkan merupakan beberapa langkah yang bisa dilakukan.
Kemenkes juga menekankan pentingnya memberikan perhatian lebih kepada kelompok rentan selama periode kualitas udara buruk. Paparan asap dapat memicu gangguan seperti ISPA, batuk, sesak napas, asma, PPOK, hingga iritasi mata dan kulit.
Pada situasi tertentu, masyarakat juga perlu mengikuti informasi resmi mengenai perkembangan kualitas udara dan aktivitas gunung api. BNPB, misalnya, mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi hujan abu dan bahaya lain dari aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Sehat hari ini, siap menghadapi risiko esok
Chief Health Officer Prudential Indonesia, Yosie William Iroth, mengatakan kesiapan menghadapi risiko kesehatan perlu dilihat secara lebih menyeluruh. Menurutnya, upaya menjaga kesehatan tidak hanya berkaitan dengan pencegahan penyakit, tetapi juga kesiapan menghadapi konsekuensi ketika seseorang membutuhkan perawatan medis.
"Ketika berbicara tentang risiko gangguan kesehatan, yang perlu dipersiapkan bukan hanya bagaimana mencegah penyakit, tetapi juga bagaimana menghadapi dampaknya jika perawatan medis dibutuhkan. Di tengah biaya kesehatan yang terus meningkat, perlindungan kesehatan menjadi bagian penting dari kesiapan finansial keluarga. Karena itu, prevention dan protection perlu berjalan beriringan agar masyarakat tidak hanya lebih sehat, tetapi juga lebih siap menghadapi risiko yang tidak terduga," ujar Yosie.
Prinsip tersebut pada dasarnya bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Menjaga kesehatan merupakan bentuk pencegahan, sementara menyiapkan dana darurat dan perlindungan kesehatan dapat menjadi bagian dari langkah menghadapi risiko yang tidak bisa diprediksi.
Prudential Indonesia sendiri mencatat telah membayarkan total klaim dan manfaat sebesar Rp8,9 triliun kepada lebih dari 149.000 nasabah sepanjang semester pertama 2026. Nilai tersebut meningkat 26 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dari jumlah tersebut, klaim medis mencapai Rp3,3 triliun atau tumbuh 15 persen secara tahunan.
Di sisi pencegahan, perusahaan juga menjalankan sejumlah inisiatif lingkungan dan kesehatan masyarakat, mulai dari penanaman mangrove, diskusi mengenai dampak mikroplastik terhadap kesehatan dan lingkungan, hingga program Desa Maju Prudential yang mencakup fasilitas air bersih dan edukasi lingkungan.
Pada akhirnya, menghadapi kondisi lingkungan yang berubah memang membutuhkan lebih dari sekadar respons ketika masalah sudah terjadi. Kebiasaan hidup sehat, perhatian terhadap kualitas udara, dan kesiapan menghadapi kebutuhan medis dapat berjalan beriringan.
Sebab, menjaga kesehatan bukan hanya tentang bagaimana tetap sehat hari ini. Ada pula soal bagaimana memastikan diri dan keluarga tetap punya ruang untuk menghadapi berbagai kemungkinan yang datang tanpa pemberitahuan.
(FIR)