- Vasektomi bekerja dengan memotong atau menutup saluran yang membawa sperma.
- Efek kontrasepsinya nggak langsung aktif setelah prosedur dilakukan.
- Vasektomi nggak membuat pria kehilangan gairah seksual atau kemampuan ereksi.
Jakarta: Kalau ngomongin kontrasepsi, yang langsung kepikiran biasanya pil KB, suntik, spiral, atau kondom. Padahal, pria juga punya pilihan kontrasepsi jangka panjang, salah satunya vasektomi.
Vasektomi merupakan prosedur kontrasepsi permanen dengan cara memotong atau menutup vas deferens, yaitu saluran yang membawa sperma dari testis. Setelah saluran ini ditutup, sperma nggak bisa lagi masuk ke air mani dan membuahi sel telur.

(Foto: AI Generated)
Jadi, cara kerjanya gimana?
Gampangnya, dokter “nutup jalan” sperma. Vasektomi termasuk operasi kecil yang biasanya dilakukan dengan anestesi lokal. Setelah tindakan, pasien umumnya bisa pulang di hari yang sama.
Tapi jangan salah, vasektomi nggak langsung bikin pria bebas dari risiko kehamilan.
Masih ada sperma yang tertinggal di saluran reproduksi setelah prosedur. Makanya, kontrasepsi lain tetap perlu digunakan sampai pemeriksaan sperma memastikan jumlah sperma sudah cukup rendah atau tidak terdeteksi sesuai kriteria medis.
Jadi, baru selesai vasektomi bukan berarti besoknya langsung bisa lepas kontrasepsi. Ada masa tunggunya.
Terus masih bisa ereksi?
Nah, ini yang sering bikin orang salah paham.
Vasektomi nggak membuat pria kehilangan gairah seksual, kemampuan ereksi, atau kemampuan orgasme. Produksi testosteron juga tetap berjalan karena testis nggak diangkat.
Pria tetap bisa berhubungan seksual dan ejakulasi setelah vasektomi. Air mani juga tetap keluar, hanya saja nggak lagi membawa sperma dalam jumlah yang bisa menyebabkan kehamilan setelah prosedur dinyatakan berhasil.
Jadi, bukan berarti setelah vasektomi urusan ranjang ikut tamat. Yang berubah adalah fungsi reproduksinya.
Efektif banget, tapi sifatnya permanen
Vasektomi termasuk metode kontrasepsi yang sangat efektif. Menurut CDC, tingkat kegagalan penggunaan tipikalnya sekitar 0,15 per 100 pengguna pada tahun pertama.
Meski begitu, metode ini tetap punya kemungkinan gagal, meskipun kecil. Selain itu, vasektomi dirancang sebagai kontrasepsi permanen. Pembalikan vasektomi memang bisa dilakukan, tetapi hasilnya nggak selalu berhasil mengembalikan kesuburan.
Karena itu, keputusan menjalani vasektomi sebaiknya dipikirkan matang-matang dan dibahas bersama tenaga kesehatan.
Oh iya, ada satu hal lagi yang nggak boleh kelewat: vasektomi nggak melindungi dari infeksi menular seksual (IMS). Kalau ingin mencegah penularan IMS, kondom tetap diperlukan.
Desi Indasari
(FIR)