FITNESS & HEALTH

Sikat Gigi Tiap Hari, Kenapa Gigi Masih Bermasalah?

A. Firdaus
Jumat 18 September 2026 / 11:09
Ringkasnya gini..
  • Lebih dari 95 persen masyarakat Indonesia sudah menyikat gigi setiap hari.
  • Kebiasaan menyikat gigi memang perlu diperhatikan, bukan hanya soal seberapa sering dilakukan, tetapi juga kapan dan bagaimana caranya.
  • Drg. Tari mengatakan sebanyak 45,7 persen masyarakat mengonsumsi makanan atau minuman manis lebih dari satu kali dalam sehari.
Jakarta: Sikat gigi setiap hari ternyata belum otomatis membuat kesehatan gigi dan mulut terjaga. Pasalnya, meski lebih dari 95 persen masyarakat Indonesia mengaku sudah menyikat gigi setiap hari, sebagian besar masih melakukannya pada waktu yang kurang tepat.

Wakil Ketua Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PB PDGI) drg. Tari Tritarayati, SH., MH.Kes mengatakan, berdasarkan data survei kesehatan, kurang dari tiga persen masyarakat Indonesia yang menyikat gigi pada waktu yang benar, yakni setelah sarapan dan sebelum tidur malam.

"Kalau kita lihat dari data yang ada, 95 persen ke atas masyarakat sudah menyikat gigi. Tetapi survei membuktikan bahwa cara dan waktu menyikat giginya salah," kata drg. Tari dalam konferensi pers Bulan Kesehatan Gigi Nasional (BKGN) 2026 melansir Antara.
 

Sikat Gigi Pagi Belum Tentu Tepat


Gambaran soal kebiasaan ini juga terlihat saat Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono berinteraksi dengan siswa sekolah dasar dalam peresmian BKGN 2026 di SDN Menteng 01.

Ketika ditanya siapa yang menyikat gigi pada pagi hari, seluruh siswa mengangkat tangan. Namun, saat pertanyaannya berubah menjadi siapa yang menyikat gigi setelah sarapan, tak ada satu pun siswa yang mengangkat tangan.

Menurut Tari, situasi tersebut menunjukkan bahwa masyarakat masih perlu mendapatkan edukasi mengenai waktu menyikat gigi yang tepat.

"Jadi itu suatu hal yang menunjukkan bahwa waktunya juga kurang tepat," ujar Dante.

Kebiasaan menyikat gigi memang perlu diperhatikan, bukan hanya soal seberapa sering dilakukan, tetapi juga kapan dan bagaimana caranya. Edukasi mengenai hal tersebut menjadi penting agar kebiasaan baik yang sudah dilakukan masyarakat tidak berhenti pada rutinitas semata.
 

Makanan Manis Ikut Jadi Perhatian


Selain kebiasaan menyikat gigi, pola konsumsi makanan dan minuman manis juga menjadi perhatian dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut.

Drg. Tari mengatakan sebanyak 45,7 persen masyarakat mengonsumsi makanan atau minuman manis lebih dari satu kali dalam sehari.

Ketua Asosiasi Fakultas Kedokteran Gigi Indonesia (AFDOKGI) Prof. drg. Suryono, S.H., M.M., Ph.D menjelaskan, konsumsi makanan manis dapat berkaitan dengan proses terbentuknya asam yang kemudian merusak permukaan gigi.

Proses tersebut terjadi ketika bakteri di rongga mulut memetabolisme gula atau substrat yang berasal dari makanan dan minuman manis. Hasil metabolisme tersebut berupa asam yang dapat menyerang permukaan gigi.

"Jadi bukan kumannya makan gigi. Kuman makan substrat yang manis-manis tadi, menghasilkan asam, asamnya menghancurkan permukaan gigi," kata Prof. Suryono.

Karena itu, menjaga kesehatan gigi tidak cukup hanya dengan rajin menyikat gigi. Kebiasaan makan dan minum sehari-hari juga perlu diperhatikan.

Tari pun mendorong agar edukasi kesehatan gigi dan mulut terus diperkuat. Masyarakat diharapkan tidak hanya mengetahui pentingnya menyikat gigi setiap hari, tetapi juga memahami waktu dan cara yang tepat serta lebih bijak dalam mengonsumsi makanan dan minuman manis.

Dengan begitu, kebiasaan sederhana seperti menyikat gigi bisa benar-benar menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan gigi dan mulut dalam jangka panjang.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(FIR)

MOST SEARCH