FITNESS & HEALTH

Dengue Bikin Dompet Ikut Terkuras

A. Firdaus
Kamis 17 September 2026 / 17:43
Ringkasnya gini..
  • Studi UGM memperkirakan beban ekonomi dengue di Indonesia mencapai hampir Rp9 triliun pada 2024.
  • Dr. Diah menjelaskan pasien yang tercakup JKN tetap harus mengeluarkan biaya mandiri atau out-of-pocket rata-rata Rp1,09 juta.
  • Pencegahan dengue bukan hanya soal mengurangi jumlah pasien di rumah sakit.
Jakarta: Selama ini dengue lebih sering dibicarakan sebagai persoalan kesehatan. Padahal, penyakit yang ditularkan nyamuk Aedes ini juga membawa dampak ekonomi yang tidak kecil, mulai dari biaya perawatan hingga hilangnya pendapatan keluarga.

Studi terbaru yang dipresentasikan dalam Asia Dengue Summit ke-9 di Singapura pada Juni 2026 memperkirakan beban ekonomi dengue di Indonesia mencapai USD550,9 juta atau hampir Rp9 triliun pada 2024.

Besarnya angka tersebut tidak hanya menunjukkan biaya yang harus dikeluarkan untuk menangani pasien, tetapi juga menggambarkan tekanan terhadap layanan kesehatan, produktivitas masyarakat, dan kondisi keuangan keluarga.
 

Penelitian tersebut juga mencatat lebih dari 2 juta kunjungan rawat inap terkait dengue. Jika kasus terus tidak terkendali, dampaknya berpotensi meluas dari sektor kesehatan ke perekonomian nasional.
 

JKN Belum Menghapus Beban Keluarga


Studi beban penyakit yang dilakukan Center for Health Financing Policy and Insurance Management (Pusat KPMAK), Universitas Gadjah Mada, menunjukkan sebagian besar beban ekonomi dengue pada 2024 berada pada pasien yang mendapatkan jaminan BPJS Kesehatan melalui Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

JKN memang membantu menanggung biaya medis pasien dengue. Namun, perlindungan tersebut tidak serta-merta menghilangkan seluruh pengeluaran yang muncul ketika seseorang sakit.

Pada pasien dengue yang tercakup JKN, estimasi biaya medis langsung mencapai sekitar Rp3 triliun. Angka tersebut ternyata baru sebagian dari keseluruhan beban ekonomi.

Pasien dan keluarga masih menghadapi biaya sekitar Rp3,5 triliun di luar tagihan medis. Pengeluaran itu antara lain mencakup transportasi, konsumsi, akomodasi pendamping, hingga kehilangan pendapatan karena pasien atau anggota keluarga tidak dapat bekerja selama masa perawatan.

Dengan kata lain, ketika seseorang terkena dengue, dampaknya tidak berhenti di rumah sakit.

Ada ongkos perjalanan menuju fasilitas kesehatan, kebutuhan selama mendampingi pasien, hingga potensi hilangnya pemasukan rumah tangga. Bagi keluarga dengan penghasilan terbatas, kondisi tersebut bisa terasa jauh lebih berat.
 

Penghasilan Keluarga Ikut Terdampak


Peneliti senior Universitas Gadjah Mada, Dr. Diah Ayu Puspandari, Apt., MBA., M.Kes., mengatakan dampak ekonomi dengue perlu dilihat secara lebih luas karena menyentuh sistem pembiayaan kesehatan sekaligus kondisi keuangan rumah tangga.

“Temuan kami menegaskan bahwa dengue menimbulkan beban ekonomi nasional yang besar, menyentuh sistem pembiayaan kesehatan sekaligus keuangan keluarga Indonesia. Yang penting dicermati, JKN belum menghapus beban ekonomi di tingkat rumah tangga,” ujarnya.

Dr. Diah menjelaskan pasien yang tercakup JKN tetap harus mengeluarkan biaya mandiri atau out-of-pocket rata-rata Rp1,09 juta hingga Rp1,33 juta untuk setiap episode dengue.

Sementara bagi pasien yang tidak memiliki asuransi, pengeluaran tersebut dapat jauh lebih tinggi, yakni sekitar Rp4,27 juta hingga Rp5,60 juta per episode.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa kemampuan perlindungan finansial setiap keluarga tidak sama. Satu episode dengue mungkin masih dapat dikelola oleh keluarga dengan kondisi ekonomi tertentu, tetapi bisa menjadi tekanan besar bagi rumah tangga berpenghasilan rendah.

Karena itu, persoalan dengue tidak bisa hanya diselesaikan ketika pasien sudah sakit. Pencegahan menjadi bagian penting untuk mengurangi risiko kesehatan sekaligus mencegah munculnya beban ekonomi yang berulang.
 

Dengue Bisa Menyerang Lagi


Dengue merupakan salah satu penyakit menular melalui vektor dengan pertumbuhan kasus yang cepat di dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat 2024 sebagai tahun dengan jumlah kasus dengue tertinggi yang pernah dilaporkan secara global.

Sebagai negara tropis dengan kondisi hiperendemis, Indonesia menghadapi risiko penularan sepanjang tahun. Artinya, dengue bukan persoalan yang hanya muncul pada kelompok atau wilayah tertentu.

Siapa pun dapat terinfeksi, tanpa memandang usia, tempat tinggal, maupun gaya hidup.

Yang juga perlu diperhatikan, seseorang dapat terinfeksi virus dengue lebih dari satu kali. Infeksi berikutnya bahkan dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih berat.

Karena itu, pengalaman pernah terkena dengue bukan berarti seseorang menjadi kebal dan tidak perlu lagi melakukan pencegahan.
 

Pencegahan Jadi Investasi


Melihat besarnya dampak tersebut, Koalisi Bersama (KOBAR) Lawan Dengue mendorong pencegahan dengue secara terintegrasi menjadi salah satu prioritas nasional.

Langkah ini dinilai sejalan dengan upaya pemerintah memperkuat kesehatan masyarakat dan ketahanan bangsa.

Dr. Diah menilai pencegahan dengue bukan hanya soal mengurangi jumlah pasien di rumah sakit. Lebih jauh, pencegahan dapat membantu mengurangi pengeluaran keluarga, menjaga produktivitas masyarakat, serta mendukung keberlanjutan sistem pembiayaan kesehatan.

“Beban ekonomi ini akan berdampak lebih berat bagi keluarga yang berpenghasilan rendah, sehingga pencegahan dengue menjadi cara nyata untuk meringankan tekanan ekonomi pada keluarga Indonesia sekaligus menjaga keberlanjutan dan efektivitas sistem pembiayaan kesehatan nasional,” katanya.

Dengan melihat dengue dari perspektif yang lebih luas, pemberantasan penyakit ini tidak lagi sekadar urusan tenaga kesehatan atau rumah sakit.

Pengendalian nyamuk, menjaga lingkungan, mengenali gejala sejak awal, serta membangun kesadaran masyarakat menjadi bagian dari investasi untuk mencegah biaya yang jauh lebih besar di kemudian hari.

Sebab, ketika dengue menyerang, yang ikut terdampak bukan hanya tubuh pasien, tetapi juga waktu, pekerjaan, penghasilan, dan kondisi ekonomi keluarga.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(FIR)

MOST SEARCH