Kok Gaya Ngetik Kita Makin Kayak AI? Ternyata Ini Alasannya
- Sering berinteraksi dengan AI bisa ikut memengaruhi pilihan kata dan gaya bahasa manusia.
- Sejumlah pola bahasa yang makin sering muncul ternyata punya kemiripan dengan gaya tulisan AI.
- Bahasa manusia dan AI berpotensi saling memengaruhi, meski penelitian soal fenomena ini masih terus berkembang.
Jakarta: Pernah gak, habis sering ngobrol sama AI, cara ngetik kamu jadi ikut berubah? Tiba-tiba lebih suka bikin kalimat yang rapi, pakai kata-kata tertentu, bahkan tanda baca yang sebelumnya jarang banget dipakai.
Kalau pernah, ternyata ada kemungkinan AI memang ikut memengaruhi cara kamu berbahasa. al ini dibahas Roger Kreuz, Ph.D., dalam artikelnya berjudul "Are We Beginning to Sound Like the Chatbots We Talk To?"
Artikel tersebut membahas bagaimana interaksi manusia dengan AI berpotensi membuat bahasa keduanya perlahan saling memengaruhi.
Baca Juga :
Manipulator Ketar-Ketir Sama Zodiak Ini!

(Interaksi dengan AI dapat memengaruhi pilihan kata dan gaya bahasa manusia. Foto: Ilustrasi/Dok. Generate AI)
Kok bahasa kita bisa ikut berubah?
Selama ngobrol dengan AI, kita terus-menerus terpapar pola bahasa tertentu. Nah, tanpa sadar, pola tersebut bisa terbawa saat kita kembali menulis atau berbicara dengan manusia.
Kreuz menyoroti sejumlah ciri yang sering diasosiasikan dengan tulisan AI, seperti penggunaan em dash (—), Oxford comma, serta pola kalimat tertentu.
Ada juga beberapa kosakata yang penggunaannya meningkat sejak AI generatif makin populer.
Analisis Pew Research Center yang dibahas dalam artikel tersebut menemukan hampir 30 kata dan frasa yang penggunaannya meningkat lebih dari dua kali lipat.
Beberapa di antaranya seperti crucial, enhance, intricate, meticulous, significant, dan tapestry.
Tapi jangan langsung curiga setiap kali melihat kata-kata tersebut. Kemunculan satu atau beberapa kata saja jelas nggak cukup untuk membuktikan kalau sebuah tulisan dibuat AI.
AI ternyata bisa “nularin” gaya bahasa
Menariknya, fenomena ini punya istilah dalam psikologi bahasa, yaitu lexical entrainment. Sederhananya, manusia memang punya kecenderungan ikut menggunakan kata atau ungkapan yang sering mereka dengar dari orang lain.
Dulu, proses ini biasanya terjadi saat ngobrol dengan teman, pasangan, keluarga, atau rekan kerja. Sekarang, AI juga bisa masuk ke lingkungan bahasa tersebut karena kita semakin sering berinteraksi dengannya.
Kreuz juga membahas penelitian Hiromu Yakura dan rekan-rekannya dari Max Planck Institute for Human Development.
Mereka menganalisis lebih dari 730 ribu jam percakapan dari lebih dari 820 ribu episode podcast untuk melihat perubahan penggunaan kata yang juga sering muncul dalam respons AI.
Hasilnya menunjukkan adanya peningkatan penggunaan sejumlah kata tersebut dalam percakapan manusia.
Eksperimen lain yang dilakukan tim Yakura juga menemukan bahwa interaksi singkat dengan AI dapat membuat peserta lebih sering menggunakan kata tertentu yang sebelumnya digunakan AI.
Meski begitu, penelitian tersebut belum melalui proses peer review. Jadi, hasilnya masih perlu dilihat sebagai temuan awal, bukan bukti final bahwa AI pasti mengubah cara manusia berbicara.
Jadi, kita bakal ngomong kayak AI?
Belum tentu juga. Bahasa manusia memang selalu berubah karena dipengaruhi lingkungan, budaya, media, teknologi, sampai orang-orang yang sering kita ajak berinteraksi.
Yang menarik, sekarang AI ikut masuk ke dalam lingkungan tersebut. Manusia bisa menyerap gaya bahasa AI, sementara perkembangan AI juga sangat bergantung pada bahasa yang dihasilkan dan digunakan manusia.
Jadi kalau suatu hari teman kamu nyeletuk, “Kok cara ngetik kamu sekarang kayak AI?”, mungkin ada sedikit benarnya.
Tapi bukan berarti kamu berubah jadi robot. Bisa saja kamu cuma terlalu sering berinteraksi dengan AI sampai beberapa gaya bahasanya ikut kebawa.
Desi Indasari
(TIN)