Jakarta: Bangun tidur harus produktif. Olahraga jangan skip. Makan harus sehat. Kerjaan harus beres. Malamnya masih harus belajar sesuatu yang baru. Belum lagi target karier, finansial, sampai kehidupan sosial yang rasanya ikut harus di-upgrade.
Di tengah tren self-improvement, hidup kadang terasa kayak proyek yang gak pernah selesai. Baru berhasil mencapai satu target, sudah muncul target lain yang harus dikejar.
Padahal, manusia juga bisa capek.
Hal ini dibahas psikoterapis Carolyn Karoll, LCSW-C, CEDS-C, dalam artikel Psychology Today berjudul The Psychological Cost of Constant Self-Improvement.
Ia membahas bagaimana dorongan untuk terus memperbaiki diri bisa berubah menjadi tekanan ketika pencapaian mulai dijadikan ukuran nilai diri.
Saat self-improvement malah bikin sesak
Self-improvement sebenarnya gak salah. Punya keinginan untuk hidup lebih sehat, lebih produktif, atau lebih berkembang tentu bisa jadi hal positif.
Masalahnya muncul ketika kita merasa harus terus memperbaiki diri supaya merasa cukup.
Misalnya, sudah olahraga rutin tapi masih merasa kurang. Sudah menyelesaikan banyak pekerjaan, tetapi tetap merasa nggak produktif. Bahkan saat sedang liburan, kepala masih sibuk mikirin pekerjaan atau rutinitas yang kelewat.
Akhirnya, kita jadi susah menikmati apa yang sedang terjadi sekarang.
Bukannya menikmati pencapaian, kita malah langsung mikir, “Oke, habis ini harus ngapain lagi?”

(Berikan waktu me time kamu tiap harinya. Foto: Ilustrasi/Dok. AI Generated)
Target selesai, tapi tetap merasa kurang
Dalam artikelnya, Karoll juga membahas contingent self-worth, yaitu ketika rasa berharga terhadap diri sendiri bergantung pada pencapaian atau standar tertentu.
Gampangnya, kita merasa oke kalau berhasil. Tapi begitu gagal, gak produktif, atau gak memenuhi ekspektasi sendiri, kita langsung merasa kurang.
Yang bikin tricky, standar tersebut bisa terus bergeser.
Hari ini targetnya punya pekerjaan impian. Begitu tercapai, muncul target baru. Harus punya tabungan lebih banyak, tubuh lebih ideal, karier lebih tinggi, atau hidup yang lebih tertata.
Jadinya kayak main game yang levelnya nggak pernah tamat.
Berkembang boleh, tapi gak harus terus-terusan
Bukan berarti kamu harus berhenti self-improvement. Punya target, belajar hal baru, olahraga, dan memperbaiki kebiasaan tetap bisa menjadi bagian dari hidup yang sehat.
Tapi, jangan sampai semua itu menjadi syarat untuk merasa diri sendiri berharga.
Kamu tetap boleh berkembang tanpa harus membenci versi dirimu yang sekarang.
Bahkan, belajar istirahat tanpa merasa bersalah juga termasuk perkembangan. Begitu pula belajar bilang “enggak”, menikmati waktu kosong, atau menjalani satu hari tanpa merasa harus menghasilkan sesuatu.
Jadi, kalau akhir-akhir ini muncul pikiran, “Kok gue capek banget ya harus terus jadi lebih baik?”, mungkin masalahnya bukan karena kamu kurang berusaha.
Bisa jadi, kamu memang cuma perlu berhenti sebentar dan sadar bahwa kamu gak harus menjadi versi paling sempurna dari diri sendiri untuk merasa cukup.