Jakarta: Depresi postpartum biasanya langsung dikaitkan dengan ibu yang terus menangis, sedih, atau terlihat murung setelah melahirkan. Padahal, realitanya bisa jauh lebih kompleks. Kadang, dari luar kelihatan biasa saja, sementara di dalam kepala rasanya lagi penuh banget.
Menurut psikolog Changiz Mohiyeddini, Ph.D., dalam artikel Psychology Today, depresi postpartum nggak selalu hadir dalam bentuk kesedihan. Pengalaman emosionalnya bisa berubah dan bentuknya pun bisa berbeda dari waktu ke waktu.
Nggak selalu sedih, bisa malah ketakutan
Salah satu bentuk yang dibahas adalah rasa takut yang intens. Misalnya, seorang ibu melihat video bayinya yang sedang tersenyum. Bukannya merasa tenang atau bahagia, pikirannya malah dipenuhi bayangan tentang sesuatu yang buruk.
Dari situ, rasa takut bisa bercampur dengan malu dan rasa bersalah. Masalahnya, kondisi seperti ini belum tentu kelihatan dari luar. Ibu mungkin nggak menangis, nggak terlihat murung, bahkan masih bisa menjalani aktivitas seperti biasa.
Ada juga kondisi ketika depresi postpartum terasa seperti kehilangan. Bukan kehilangan bayinya, tetapi kehilangan gambaran tentang dirinya sendiri sebagai seorang ibu.
Ekspektasi tentang menjadi ibu mungkin terlihat indah di kepala, tetapi kenyataan yang dijalani ternyata beda jauh. Akhirnya, muncul perasaan gagal atau merasa nggak menjadi ibu seperti yang seharusnya.
Ketika semuanya terasa bikin kewalahan
Nah, bentuk lainnya bisa berupa rasa kewalahan yang luar biasa. Suara bayi, tangisan, sentuhan, pekerjaan rumah, kurang waktu istirahat, sampai berbagai kebutuhan sehari-hari bisa terasa datang barengan.
Rasanya seperti otak sudah penuh dan nggak punya ruang lagi buat menerima hal lain. Dalam kondisi ini, ibu mungkin jadi gampang kesal, ingin menyendiri, atau merasa butuh menjauh sebentar.
Bukan berarti dia nggak sayang bayinya. Bisa jadi, dia memang sedang kehabisan energi secara fisik dan emosional.
Rasa bersalah juga bisa muncul saat ingin meminta bantuan. Bahkan, ada yang merasa terapi atau pengobatan berarti dirinya mengambil waktu dari bayi atau gagal menjalankan peran sebagai ibu.
Padahal, butuh bantuan bukan berarti gagal.
Jangan cuma lihat apakah ibu menangis
Ini yang bikin depresi postpartum kadang susah dikenali. Kalau orang di sekitar cuma mencari tanda berupa tangisan atau wajah murung, rasa takut, malu, bingung, kewalahan, dan mudah marah bisa saja terlewat.
Jadi, jangan cuma lihat apakah seorang ibu kelihatan sedih atau nggak. Bisa aja dari luar terlihat baik-baik saja, padahal pikirannya sedang ramai banget.
Memahami depresi postpartum berarti melihat pengalaman ibu secara lebih utuh, bukan sekadar mencari satu tanda tertentu. Dengan begitu, orang-orang terdekat bisa lebih peka dan membantu ketika ibu memang sedang membutuhkan dukungan.