FITNESS & HEALTH

Sound Horeg Tembus 110 dB, Segini Risikonya buat Telinga

A. Firdaus
Sabtu 19 September 2026 / 12:26
Ringkasnya gini..
  • Sound horeg bisa menghasilkan suara lebih dari 110 dB.
  • Dokter THT menjelaskan risiko paparan suara keras terhadap pendengaran dan keseimbangan tubuh.
  • Dr. Fikri menilai perlindungan dari paparan suara sound horeg membutuhkan dukungan kebijakan.
Jakarta: Suara musik yang menggelegar mungkin menjadi bagian dari keseruan sound horeg yang belakangan ramai di sejumlah daerah. Namun, di balik dentuman suara yang terdengar hingga jarak cukup jauh, ada risiko kesehatan yang perlu diperhatikan, terutama bagi pendengaran.

Dokter Spesialis THT-KL Subspesialis Neurotologi Dr. dr. Fikri Mirza Putranto Sp.THT-KL Sub NO(K) mengatakan paparan suara dengan intensitas sangat tinggi dapat memicu penurunan kemampuan mendengar.

“Berdasarkan penelitian satu dari empat orang yang terpajan suara setara sound horeg selama 1 jam sudah dapat diidentifikasi mengalami penurunan pendengaran bermakna,” kata Dr. Fikri melansir Antara di Jakarta.

Menurut Dr. Fikri, gangguan tersebut pada awalnya dapat terjadi pada frekuensi di luar rentang yang biasa digunakan untuk berkomunikasi. Karena itu, seseorang mungkin belum langsung menyadari bahwa pendengarannya mulai terganggu.
Gangguan komunikasi baru dapat lebih terlihat setelah paparan terjadi secara konsisten dalam jangka panjang.
 

Telinga Berdenging Jadi Sinyal Awal


Salah satu tanda awal yang perlu diperhatikan setelah terpapar suara sangat keras adalah telinga berdenging atau tinnitus.

Selain itu, seseorang bisa mulai mengalami kesulitan memahami percakapan ketika berada di tempat ramai. Kondisi tersebut kerap dianggap sepele karena kemampuan mendengar dalam situasi tenang masih terasa normal.

“Gejala awal yang muncul adalah telinga berdenging dan gangguan komunikasi di tempat ramai. Efek ini akan makin besar pada telinga anak dan orang tua,” ujar Dr. Fikri.

Dr. Fikri yang juga mengajar pada Kelompok Staf Medis Telinga Hidung Tenggorokan-Bedah Kepala Leher Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Universitas Indonesia menjelaskan bahwa risiko tersebut perlu mendapat perhatian karena telinga tidak hanya berperan dalam proses mendengar.
 

Bukan Cuma Pendengaran


Sound horeg umumnya menggunakan perangkat pengeras suara berukuran besar yang diangkut menggunakan pikap atau truk. Musik kemudian diputar dengan volume tinggi saat kendaraan berkeliling di lingkungan permukiman maupun jalan raya.

Menurut Dr. Fikri, berdasarkan kriteria tingkat kebisingannya, sound horeg dapat masuk kategori suara ekstrem keras. Intensitas suara yang dihasilkan dapat mencapai lebih dari 110 desibel (dB) pada jarak 1 meter dari pengeras suara.

Berdasarkan jenis perangkat yang digunakan, frekuensi suara yang dihasilkan juga diperkirakan berada pada rentang 30–70 Hz.

Kombinasi antara frekuensi dan kekuatan suara tersebut, kata Fikri, tidak hanya merangsang organ pendengaran, tetapi juga dapat memengaruhi sistem keseimbangan tubuh.

Artinya, paparan suara sangat keras bukan sekadar persoalan telinga terasa tidak nyaman. Pada kondisi tertentu, sistem tubuh yang berkaitan dengan pendengaran dan keseimbangan juga dapat ikut terdampak.
 

Anak dan Lansia Perlu Lebih Diperhatikan


Anak-anak dan orang lanjut usia menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih ketika berada di sekitar sumber suara dengan intensitas sangat tinggi.

Bagi anak-anak, paparan suara keras bisa terjadi ketika mereka ikut menyaksikan parade dari jarak dekat. Sementara pada lansia, kemampuan pendengaran memang dapat mengalami perubahan seiring bertambahnya usia.

Karena itu, berada semakin dekat dengan sumber pengeras suara bukan pilihan yang ideal, terutama ketika suara sudah terasa sangat keras atau mulai menimbulkan sensasi tidak nyaman pada telinga.
 

Alkohol Bisa Memperburuk Risiko


Hal lain yang disoroti Fikri adalah kebiasaan mengonsumsi alkohol ketika berada di sekitar paparan suara sangat keras.

Menurutnya, kombinasi suara keras dan alkohol dapat mempercepat proses kerusakan saraf pendengaran karena alkohol dapat menghambat proses perbaikan sel.

Karena itu, mengurangi faktor risiko menjadi bagian penting untuk menjaga kesehatan pendengaran, terutama bagi orang yang memang sering berada di lingkungan dengan tingkat kebisingan tinggi.
 

Perlukah Ada Aturan?


Persoalan sound horeg tidak hanya berkaitan dengan hiburan masyarakat, tetapi juga menyentuh aspek keselamatan dan kesehatan publik.

Dr. Fikri menilai perlindungan dari paparan suara sound horeg membutuhkan dukungan kebijakan. Salah satunya dengan memisahkan aktivitas sound horeg dari lingkungan perumahan.

Ia juga mengusulkan agar pengusaha sound horeg memberikan perlindungan kesehatan bagi pekerjanya melalui BPJS Ketenagakerjaan serta melakukan pemeriksaan audiometri secara berkala setiap tahun.

“ Kewajiban memisahkan sound horeg dari lingkungan perumahan. Kewajiban pengusaha sound horeg menjaminkan kesehatan pekerjanya ke BPJS-TK dan melakukan pemeriksaan audiometri berkala tiap tahun,” tutur Dr. Fikri.

Wacana mengenai aturan sound horeg sebelumnya juga muncul setelah sejumlah insiden yang terjadi di Jawa Timur. Anggota Komisi II DPR RI Eka Widodo bahkan mendesak pemerintah menerapkan larangan nasional terhadap aktivitas tersebut.

Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian pada Selasa (15/9/2026) menyampaikan bahwa pemerintah sedang mengkaji penyusunan regulasi mengenai pengoperasian sound horeg, termasuk batas tingkat kebisingan yang diperbolehkan.

“Seperti apa batasan, misalnya, desibel suara yang boleh ada. Kalau ada desibel tertentu yang bisa mengganggu kesehatan, ya, kita larang,” kata Tito.

Pada akhirnya, menikmati musik dan hiburan tetap bisa berjalan beriringan dengan menjaga kesehatan. Salah satu hal sederhana yang dapat dilakukan adalah tidak berada terlalu dekat dengan sumber suara ekstrem dan segera memperhatikan gejala seperti telinga berdenging atau kesulitan mendengar setelah terpapar suara keras.

Sebab, kerusakan pendengaran tidak selalu datang dengan rasa sakit. Kadang, tandanya justru muncul perlahan dan baru terasa ketika kemampuan mendengar sudah mulai terganggu.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(FIR)

MOST SEARCH