FITNESS & HEALTH
Terjebak Scroll Kehidupan Orang Lain? Hati-Hati, Kebahagiaan Bisa Ikut Hilang
A. Firdaus
Selasa 16 Juni 2026 / 13:34
- Unggahan di media sosial bisa memberikan dampak berbeda bagi setiap orang.
- Penting untuk lebih bijak sebelum membagikan sesuatu di media sosial.
- Beberapa orang mungkin merasa tidak nyaman ketika berinteraksi dengan seseorang.
Jakarta: Media sosial memudahkan siapa saja untuk melihat berbagai momen kehidupan orang lain. Mulai dari pencapaian karier hingga liburan ke tempat impian.
Namun, di balik unggahan yang terlihat menyenangkan, tidak semua orang merasakan hal yang sama. Bagi sebagian orang, melihat kehidupan orang lain justru dapat memicu rasa sedih dan ketidakpuasan terhadap hidup sendiri.
Hal itu terlihat dari komentar seorang lansia pada unggahan Facebook, yang membahas perangkap perbandingan. Ia menulis, “Membaca tentang liburan orang lain membuat saya sedih. Itu di luar anggaran saya, selamanya. Dan postingan-postingan ini tidak pernah berhenti.”
Komentar tersebut menjadi pengingat bahwa unggahan di media sosial, bisa memberikan dampak berbeda bagi setiap orang. Foto liburan atau pencapaian tertentu mungkin membanggakan bagi seseorang, tetapi bisa menjadi pengingat akan impian yang belum mampu diwujudkan oleh orang lain.
Oleh karena itu, penting untuk lebih bijak sebelum membagikan sesuatu di media sosial. Tidak semua momen harus dipublikasikan kepada banyak orang. Terkadang, membagikannya kepada keluarga atau teman dekat sudah cukup.
Kondisi ini sejalan dengan kutipan Theodore Roosevelt, yang menyebut perbandingan sebagai pencuri kebahagiaan. Kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain, dapat membuat rasa syukur perlahan berkurang dan memunculkan ketidakpuasan, terhadap kehidupan yang sebenarnya sudah berjalan baik.
Salah satu langkah awal yang bisa dilakukan adalah mengenali berbagai pemicu, yang sering menimbulkan perasaan tersebut. Media sosial menjadi salah satu sumber utama, yang membuat banyak orang terjebak dalam permainan perbandingan. Namun, pemicunya tidak selalu berasal dari dunia digital.
Beberapa orang mungkin merasa tidak nyaman ketika berinteraksi dengan seseorang, yang gemar memamerkan pencapaian atau kepemilikan tertentu.
Ada pula yang merasa minder, setelah mengunjungi pusat perbelanjaan mewah atau melewati kawasan perumahan elit. Padahal, sebelum menghadapi situasi tersebut, mereka sebenarnya merasa cukup puas dengan kehidupan yang dimiliki.
Dilansir dari Psychology Today menurut Susan Biali Haas, M.D., dokter yang sering berbicara dan menulis tentang pengurangan stres, pencegahan kelelahan kronis, kesehatan mental, kesejahteraan, dan ketahanan, untuk membantu mengatasinya, cobalah membuat daftar berbagai hal atau orang yang sering memicu rasa iri dan keinginan untuk membandingkan diri.
Catat bagaimana pengaruhnya terhadap perasaan, dan mengapa kebiasaan tersebut hanya menghabiskan waktu serta energi secara sia-sia. Dengan memahami pola tersebut, kesadaran akan meningkat sehingga lebih mudah mengendalikan diri, saat kembali menghadapi situasi serupa.
Jika memungkinkan, kurangi paparan terhadap hal-hal yang menjadi pemicu perbandingan, terutama jika tidak memberikan manfaat, makna, atau nilai positif dalam kehidupan sehari-hari.
Semakin sedikit waktu yang dihabiskan untuk membandingkan diri dengan orang lain, semakin besar kesempatan untuk fokus pada tujuan pribadi, mensyukuri apa yang dimiliki, dan menjaga kebahagiaan tetap berada di tangan sendiri.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Namun, di balik unggahan yang terlihat menyenangkan, tidak semua orang merasakan hal yang sama. Bagi sebagian orang, melihat kehidupan orang lain justru dapat memicu rasa sedih dan ketidakpuasan terhadap hidup sendiri.
Hal itu terlihat dari komentar seorang lansia pada unggahan Facebook, yang membahas perangkap perbandingan. Ia menulis, “Membaca tentang liburan orang lain membuat saya sedih. Itu di luar anggaran saya, selamanya. Dan postingan-postingan ini tidak pernah berhenti.”
Komentar tersebut menjadi pengingat bahwa unggahan di media sosial, bisa memberikan dampak berbeda bagi setiap orang. Foto liburan atau pencapaian tertentu mungkin membanggakan bagi seseorang, tetapi bisa menjadi pengingat akan impian yang belum mampu diwujudkan oleh orang lain.
Oleh karena itu, penting untuk lebih bijak sebelum membagikan sesuatu di media sosial. Tidak semua momen harus dipublikasikan kepada banyak orang. Terkadang, membagikannya kepada keluarga atau teman dekat sudah cukup.
Kondisi ini sejalan dengan kutipan Theodore Roosevelt, yang menyebut perbandingan sebagai pencuri kebahagiaan. Kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain, dapat membuat rasa syukur perlahan berkurang dan memunculkan ketidakpuasan, terhadap kehidupan yang sebenarnya sudah berjalan baik.
Salah satu langkah awal yang bisa dilakukan adalah mengenali berbagai pemicu, yang sering menimbulkan perasaan tersebut. Media sosial menjadi salah satu sumber utama, yang membuat banyak orang terjebak dalam permainan perbandingan. Namun, pemicunya tidak selalu berasal dari dunia digital.
Beberapa orang mungkin merasa tidak nyaman ketika berinteraksi dengan seseorang, yang gemar memamerkan pencapaian atau kepemilikan tertentu.
Ada pula yang merasa minder, setelah mengunjungi pusat perbelanjaan mewah atau melewati kawasan perumahan elit. Padahal, sebelum menghadapi situasi tersebut, mereka sebenarnya merasa cukup puas dengan kehidupan yang dimiliki.
Dilansir dari Psychology Today menurut Susan Biali Haas, M.D., dokter yang sering berbicara dan menulis tentang pengurangan stres, pencegahan kelelahan kronis, kesehatan mental, kesejahteraan, dan ketahanan, untuk membantu mengatasinya, cobalah membuat daftar berbagai hal atau orang yang sering memicu rasa iri dan keinginan untuk membandingkan diri.
Catat bagaimana pengaruhnya terhadap perasaan, dan mengapa kebiasaan tersebut hanya menghabiskan waktu serta energi secara sia-sia. Dengan memahami pola tersebut, kesadaran akan meningkat sehingga lebih mudah mengendalikan diri, saat kembali menghadapi situasi serupa.
Jika memungkinkan, kurangi paparan terhadap hal-hal yang menjadi pemicu perbandingan, terutama jika tidak memberikan manfaat, makna, atau nilai positif dalam kehidupan sehari-hari.
Semakin sedikit waktu yang dihabiskan untuk membandingkan diri dengan orang lain, semakin besar kesempatan untuk fokus pada tujuan pribadi, mensyukuri apa yang dimiliki, dan menjaga kebahagiaan tetap berada di tangan sendiri.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)