FITNESS & HEALTH
Otak vs Mulut: Kenapa Kita Sering 'Keseleo' Lidah? Let's Talk!
Yatin Suleha
Senin 15 Juni 2026 / 09:05
- Ngomongin soal salah ucap alias slips of the tongue, rasanya kurang lengkap kalau enggak bahas Sigmund Freud.
- Ia punya pandangan yang ikonik banget soal kenapa lidah kita bisa mendadak 'keseleo'.
- Menurut Freud, salah ucap itu sebenarnya bukan sekadar ketidaksengajaan. Dia justru jadi 'jendela' yang ngebuka isi pikiran bawah sadar kita.
Jakarta: Ngomongin soal salah ucap alias slips of the tongue, rasanya kurang lengkap kalau enggak bahas Sigmund Freud. Ia punya pandangan yang ikonik banget soal kenapa lidah kita bisa mendadak 'keseleo'.
Menurut Freud, salah ucap itu sebenarnya bukan sekadar ketidaksengajaan. Dia justru jadi 'jendela' yang ngebuka isi pikiran bawah sadar kita.
Jadi, hasrat yang terpendam, memori yang sengaja dilupain, atau konflik batin yang belum selesai bisa mendadak 'bocor' keluar pas kita lagi salah ngomong. Deep banget, kan?
Dari gagasan inilah lahir istilah populer “kesalahan ucapan Freudian”, walaupun sebenarnya Sigmund Freud memakai kata asli dari bahasa Jerman, yaitu Fehlleistungen, yang bermakna “tindakan yang salah” atau “kinerja yang keliru”.
Meski teori ini sempat sangat populer, psikologi modern sekarang, sudah mulai meninggalkan cara pandang ala Sigmund Freud tersebut.
Di era sekarang, para ahli menilai mayoritas salah ucap lebih logis dipicu oleh hal-hal teknis, seperti hilangnya fokus, faktor kelelahan, tekanan stres, hingga adanya tabrakan antara kata dan bunyi yang mirip di dalam memori otak.
Namun, bukan berarti isi dari kata yang salah itu sama sekali tidak punya arti. Sebuah eksperimen terkenal dari tahun 1970-an membuktikan hal ini.
Dilansir dari Psychology Today dalam uji coba tersebut, para peneliti sengaja mengondisikan para peserta ke dalam situasi, yang memicu rasa cemas atau pikiran seksual yang kuat.
.jpg)
(Kondisi slip of tongue umumnya murni merupakan kesalahan berbahasa yang wajar terjadi pada siapa saja dan bukanlah sebuah gangguan medis yang permanen. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Hasilnya, jumlah total kesalahan bicara mereka memang tidak bertambah banyak, tetapi topik atau tema dari salah ucap, yang keluar justru mencerminkan apa yang sedang memenuhi isi kepala mereka.
Orang-orang cenderung mengeluarkan salah ucap bertema stres saat merasa cemas, dan memicu kekeliruan berbau asosiasi seksual, ketika ide-ide tersebut sudah telanjur aktif di pikiran mereka.
Selama ini, keseleo lidah sering kali dicap sebagai bukti, kalau seseorang kurang teliti atau tidak cakap dalam berkomunikasi. Padahal, kenyataan yang terjadi di dalam sistem kognitif, justru menunjukkan hal yang sebaliknya.
Adanya satu-dua kesalahan bicara justru menjadi bukti nyata, dari betapa luar biasa cepat dan kompleksnya pemrosesan bahasa pada manusia.
Bayangkan saja, setiap kali sebuah percakapan mengalir, ada operasi kognitif dalam jumlah yang tidak terhitung sedang bekerja di balik layar secara instan, demi menjaga obrolan tetap lancar.
Sistem ini bekerja dengan sangat efisien hampir di setiap waktu, sampai-sampai kerumitannya sama sekali tidak disadari.
Momen unik ketika seorang pembawa acara televisi tanpa sengaja menyebut pernikahan sebagai pemakaman, atau saat seseorang mendadak lupa nama teman dan kehilangan kata yang pas, sebenarnya sedang membuka tirai mekanisme rumit di balik ucapan yang mengalir lancar.
Buat para psikolog dan ahli bahasa, insiden salah ucap bukan cuma sekadar bahan bercandaan, lho.
Justru, momen 'keseleo lidah' itu jadi petunjuk berharga buat ngerti gimana cara kerja otak kita mengubah pikiran jadi kata-kata.
Ini adalah salah satu proses paling rumit yang dilakukan otak manusia setiap harinya.
Jadi, alih-alih dianggap sebagai kesalahan atau kelemahan, momen salah ucap ini sebenarnya adalah reminder betapa canggih dan luar biasanya sistem kognitif kita.
Ternyata, di balik kesalahan kecil itu, ada sistem bahasa yang super kompleks dan keren yang lagi bekerja!
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(TIN)
Menurut Freud, salah ucap itu sebenarnya bukan sekadar ketidaksengajaan. Dia justru jadi 'jendela' yang ngebuka isi pikiran bawah sadar kita.
Jadi, hasrat yang terpendam, memori yang sengaja dilupain, atau konflik batin yang belum selesai bisa mendadak 'bocor' keluar pas kita lagi salah ngomong. Deep banget, kan?
Dari gagasan inilah lahir istilah populer “kesalahan ucapan Freudian”, walaupun sebenarnya Sigmund Freud memakai kata asli dari bahasa Jerman, yaitu Fehlleistungen, yang bermakna “tindakan yang salah” atau “kinerja yang keliru”.
Meski teori ini sempat sangat populer, psikologi modern sekarang, sudah mulai meninggalkan cara pandang ala Sigmund Freud tersebut.
Di era sekarang, para ahli menilai mayoritas salah ucap lebih logis dipicu oleh hal-hal teknis, seperti hilangnya fokus, faktor kelelahan, tekanan stres, hingga adanya tabrakan antara kata dan bunyi yang mirip di dalam memori otak.
Namun, bukan berarti isi dari kata yang salah itu sama sekali tidak punya arti. Sebuah eksperimen terkenal dari tahun 1970-an membuktikan hal ini.
Dilansir dari Psychology Today dalam uji coba tersebut, para peneliti sengaja mengondisikan para peserta ke dalam situasi, yang memicu rasa cemas atau pikiran seksual yang kuat.
.jpg)
(Kondisi slip of tongue umumnya murni merupakan kesalahan berbahasa yang wajar terjadi pada siapa saja dan bukanlah sebuah gangguan medis yang permanen. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Hasilnya, jumlah total kesalahan bicara mereka memang tidak bertambah banyak, tetapi topik atau tema dari salah ucap, yang keluar justru mencerminkan apa yang sedang memenuhi isi kepala mereka.
Orang-orang cenderung mengeluarkan salah ucap bertema stres saat merasa cemas, dan memicu kekeliruan berbau asosiasi seksual, ketika ide-ide tersebut sudah telanjur aktif di pikiran mereka.
Sisi positif dari sebuah "typo" ucapan
Selama ini, keseleo lidah sering kali dicap sebagai bukti, kalau seseorang kurang teliti atau tidak cakap dalam berkomunikasi. Padahal, kenyataan yang terjadi di dalam sistem kognitif, justru menunjukkan hal yang sebaliknya.
Adanya satu-dua kesalahan bicara justru menjadi bukti nyata, dari betapa luar biasa cepat dan kompleksnya pemrosesan bahasa pada manusia.
Bayangkan saja, setiap kali sebuah percakapan mengalir, ada operasi kognitif dalam jumlah yang tidak terhitung sedang bekerja di balik layar secara instan, demi menjaga obrolan tetap lancar.
Sistem ini bekerja dengan sangat efisien hampir di setiap waktu, sampai-sampai kerumitannya sama sekali tidak disadari.
Momen unik ketika seorang pembawa acara televisi tanpa sengaja menyebut pernikahan sebagai pemakaman, atau saat seseorang mendadak lupa nama teman dan kehilangan kata yang pas, sebenarnya sedang membuka tirai mekanisme rumit di balik ucapan yang mengalir lancar.
Buat para psikolog dan ahli bahasa, insiden salah ucap bukan cuma sekadar bahan bercandaan, lho.
Justru, momen 'keseleo lidah' itu jadi petunjuk berharga buat ngerti gimana cara kerja otak kita mengubah pikiran jadi kata-kata.
Ini adalah salah satu proses paling rumit yang dilakukan otak manusia setiap harinya.
Jadi, alih-alih dianggap sebagai kesalahan atau kelemahan, momen salah ucap ini sebenarnya adalah reminder betapa canggih dan luar biasanya sistem kognitif kita.
Ternyata, di balik kesalahan kecil itu, ada sistem bahasa yang super kompleks dan keren yang lagi bekerja!
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(TIN)