COMMUNITY

Katanya Weton Tulang Wangi Harus 'Ngurung Diri' Pas Satu Suro, Benaran?

Mia Vale
Senin 15 Juni 2026 / 16:16
Ringkasnya gini..
  • Indonesia itu kaya banget sama tradisi, salah satunya yang sering bikin penasaran adalah istilah "Weton Tulang Wangi".
  • Kalau menurut primbon Jawa, ini bukan sekadar hari lahir biasa, tapi sebutan buat weton-weton tertentu.
  • Biasanya, orang yang punya Weton Tulang Wangi sering dikaitkan dengan beberapa ciri khas yaitu karakter yang memikat.
Jakarta: Indonesia itu kaya banget sama tradisi, salah satunya yang sering bikin penasaran adalah istilah "Weton Tulang Wangi". Kalau menurut primbon Jawa, ini bukan sekadar hari lahir biasa, tapi sebutan buat weton-weton tertentu yang katanya punya energi spiritual super kuat. 

Gampangnya, mereka dianggap punya "aura" atau bau khas yang justru bikin makhluk tak kasat mata ngerasa tertarik.

Istilah ini muncul dari kepercayaan Jawa yang mengombinasikan hari kelahiran dengan pasaran (Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon). Dari perpaduan itulah, muncul hitungan weton yang punya karakteristik unik.

Biasanya, orang yang punya Weton Tulang Wangi sering dikaitkan dengan beberapa ciri khas yaitu karakter yang memikat.
 
Mereka biasanya punya intuisi yang tajam, pembawaan yang berwibawa, penuh kasih sayang, dan punya magnet alami yang bikin orang lain gampang tertarik sama mereka.

"Aura Wangi" yang unik. Nah, ini nih yang menarik. Karena energi mereka yang dianggap "wangi" atau menonjol secara spiritual, enggak jarang mereka punya daya tarik gaib yang bikin makhluk lain di luar sana jadi penasaran—entah itu cuma sekadar mendekat atau malah mengikuti.
 

Yang termasuk weton wangi


Orang-orang Jawa sering kali menyebut weton tulang wangi di sukai mahluk halus karena memiliki bau harum. Pada dasarnya, ada 11 kombinasi hari dan pasaran dalam kalender Jawa yang termasuk dalam kategori tulang wangi. 
 

Hari yang dimaksud terdiri dari:



(Hendaknya malam satu Suro diartikan sebagai momentum evaluasi diri. Manusia diharapkan untuk lebih mawas diri, menjaga perilaku, dan memperkuat hubungan dengan Sang Pemiiik Semesta. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)

- Senin Kliwon
- Senin Wage
- Senin Pahing
- Selasa Legi
- Rabu Kliwon
- Rabu Pahing
- Kamis Wage
- Sabtu Wage
- Sabtu Legi
- Minggu Pon
- Minggu Kliwon

Orang dengan weton ini biasanya menunjukkan kepekaan terhadap hal-hal gaib serta memiliki intuisi tajam. Dengan kata lain, mereka cenderung berbakat dalam hal-hal spiritual atau supranatural.
 

Pengertian malam satu Suro


Dalam kalender Jawa, malam satu Suro merupakan malam hari pertama, di mana dirayakan bersamaan dengan hari pertama dalam bulan pertama kalender Hijriah, yaitu bulan Muharam. 

Menukil dari "Tradisi Malam Satu Suro dan Pengaruhnya Terhadap Kehidupan Sosial Keagamaan Masyarakat (2022)" karya Mulyani dari UIN Raden Intan Lampung, masyarakat Jawa terutama Jawa Tengah menyebut Muharram sebagai bulan Suro.

Kata "Suro" berasal dari bahasa arab "Asyura" yang berarti 10 atau hari kesepuluh bulan Muharram. Asyura oleh warga Jawa dibaca menjadi "Suro". 

Ada juga warga beberapa daerah yang menyebutnya "Suran". Peringatan malam satu Suro biasanya diperingati pada malam hari setelah Maghrib pada hari sebelum tanggal 1 Suro atau 1 Muharam. 

Hal ini sesuai keyakinan Jawa mengenai pergantian hari baru dimulai saat matahari terbenam pada hari sebelumnya. 

Adapun maksud dan tujuan pokok dari tradisi satu Suro adalah agar senantiasa memperoleh keselamatan dan melestarikan tradisi setempat. 

Sementara itu, menurut buku Ensiklopedia Kebudayaan Wonosobo (2020) karya M. Yusuf Amin Nugroho, dkk., saat malam satu Suro umumnya dilakukan dengan mengadakan tirakatan. 

Perayaan malam satu Suro memiliki makna sebagai peringatan tanda pergantian waktu. Hari ini dianggap sangat penting dan berhubungan langsung dengan siklus kehidupan, ritual, perhitungan, dan lainnya. 

Warga pun biasanya berkumpul untuk berdoa disertai ubarampe seperti tumpeng, ingkung, bunga, jajanan pasar, serta bubut tanpa rasa.
 

Weton tulang wangi dan malam satu Suro


Ya, dalam tradisi Jawa, malam satu Suro dikenal sebagai malam sakral, penuh energi gaib, dan diyakini sebagai waktu di mana batas dunia nyata dan gaib menjadi tipis. 

Kombinasi antara weton tulang wangi dan malam satu Suro dipercaya memiliki daya spiritual yang sangat kuat. Itulah mengapa orang-orang dengan weton tulang wangi lebih berisiko mendapat gangguan dari makhluk tak kasat mata. 
 
Seperti dijelaskan oleh salah satu konten kreator dari channel YouTube Kisah Tanah Jawa, Om Hao dalam berbagai kajian budaya Jawa, malam 1 Suro sejatinya merupakan malam refleksi dan pensucian diri. 

Pada masa lalu, masyarakat Jawa memilih mengurangi aktivitas di luar rumah bukan karena takut, melainkan untuk fokus pada doa, tirakat, dan perenungan diri. 

Namun seiring berkembanghya zaman, timbul berbagai mitos yang mengaitkan malam satu Suro dengan aktivitas gaib. 

Dari sinilah lahir kepercayaan bahwa pemilik weton tulang wangi lebih baik tidak bepergian jauh atau keluar rumah tanpa keperluan penting.

Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(TIN)

MOST SEARCH