FITNESS & HEALTH

Modal Raba Nadi Sendiri Bisa Bikin Kamu Bebas Stroke Sampai 90%?

Yatin Suleha
Minggu 15 Februari 2026 / 16:08
Ringkasnya gini..
  • Upaya pencegahan stroke di Indonesia perlu dimulai dari langkah sederhana yang bisa dilakukan setiap orang.
  • Di negara maju pemeriksaan nadi mungkin tidak menjadi prioritas utama karena tersedia alat-alat diagnostik canggih.
  • Namun di Indonesia, metode sederhana yaitu seperti maraba nadi sendiri justru sangat relevan.
Jakarta: Fibrilasi atrium atau atrial fibrillation (AF) adalah gangguan irama jantung akibat aktivitas listrik yang tidak normal di serambi (atrium) kiri jantung. Dalam kondisi normal, jantung dikendalikan oleh satu sumber listrik utama. Namun pada AF, terdapat ratusan impuls listrik yang aktif secara tidak teratur sehingga denyut jantung menjadi ireguler.

Kondisi ini menyebabkan aliran darah di serambi kiri berputar dan dapat membentuk gumpalan, terutama di bagian yang disebut apendiks atrium kiri. Jika gumpalan tersebut terlepas dan mengalir ke otak, maka dapat terjadi stroke sumbatan (stroke kardioembolik) yang umumnya lebih berat.

Upaya pencegahan stroke di Indonesia perlu dimulai dari langkah sederhana yang bisa dilakukan setiap orang, yakni meraba nadi sendiri. 

Di negara maju pemeriksaan nadi mungkin tidak menjadi prioritas utama karena tersedia alat-alat diagnostik canggih. Namun di Indonesia, metode sederhana ini justru sangat relevan.
 
“Meraba nadi sendiri ini satu hal yang menjadi sangat penting. Kita mungkin tidak punya akses luas terhadap alat yang sangat sophisticated, tapi kita punya cara sederhana yang bisa menyelamatkan banyak nyawa,” ujar Prof. Dr. dr. Yoga Yuniadi, Sp.JP, Subsp. Ar. (K), FIHA, FAsCC, FEHRA, FAPHRS, Advisary Board PERITMI/Indonesian Heart Rhythm Society (InaHRS) & Founder of MENARI, MURI Achievement Holder 2023 dalam acara Pulse Day 2026: Dari Kesadaran Hingga Aksi Nyata Untuk Jantung Sehat di RS Harapan Kita, Jum'at (13/02/26).

“Kalau AF, dalam hitungan hari bahkan 24 jam saja sudah bisa menyebabkan stroke. Berbeda dengan hipertensi yang butuh proses bertahun-tahun,” jelas Prof. Yoga.

Ia menambahkan, risiko stroke pada pasien AF meningkat hingga 5 kali lipat dibandingkan mereka yang tidak mengalami AF. Mortalitas dalam 30 hari pertama setelah stroke akibat AF juga 2 kali lebih tinggi, dan tingkat kecacatan jangka panjang bisa hampir 3 kali lipat lebih besar.
 

Prevalensi AF di Indonesia lebih tinggi dari perkiraan



(Skrining melalui meraba nadi sebaiknya mulai digalakkan pada usia 40 tahun ke atas di Indonesia. Foto: Dok. Medcom.id/Secillia Nur Hafifah)

Berdasarkan penelitian yang dilakukan ditemukan prevalensi AF sebesar 3,4%. Setelah penyesuaian usia, angka tersebut diperkirakan setara dengan sekitar 7 juta orang Indonesia pada tahun 2023.

“Dulu kita menduga sekitar 2,1 juta orang. Tapi setelah disesuaikan dengan umur dan populasi, hitungan saya bisa mencapai sekitar 7 juta orang. Ini angka yang sangat besar,” tegasnya.

Sekitar 15 - 46% kasus AF tidak bergejala (silent AF), dan hampir 50% penderita tidak menyadari kondisinya. Lebih memprihatinkan, sekitar 59% dari kasus silent AF pertama kali terdeteksi saat pasien sudah mengalami stroke.
 

Cara sederhana dengan meraba nadi selama 30 detik


Sebagai langkah skrining mandiri, Prof. Yoga menganjurkan masyarakat untuk meraba nadi sendiri selama 30 detik menggunakan 2 atau 3 jari di pergelangan tangan tanpa menekan terlalu kuat. Jumlah denyut selama 30 detik dikalikan 2 untuk memperkirakan denyut per menit.

Denyut normal umumnya berkisar antara 50 - 90 kali per menit dalam kondisi istirahat. Namun yang paling penting bukan hanya jumlahnya, melainkan keteraturannya.

“Kalau normal, bunyinya teratur: duk-duk-duk. Tapi kalau AF, iramanya tidak teratur. Ada denyut yang terasa hilang atau jaraknya tidak sama. Itu yang harus diwaspadai,” jelasnya.

Oleh karena itu, ia menekankan bahwa skrining melalui meraba nadi sebaiknya mulai digalakkan pada usia 40 tahun ke atas di Indonesia, tidak menunggu hingga 65 tahun seperti rekomendasi di beberapa negara Eropa.
 

Kelompok risiko tinggi


Penelitian juga menunjukkan sekitar 50% pasien AF di Indonesia memiliki hipertensi, serta sebagian memiliki diabetes, riwayat stroke sebelumnya, atau gangguan ginjal. Faktor risiko lain yang meningkatkan bahaya komplikasi antara lain gagal jantung, penyakit jantung koroner, usia lanjut, dan jenis kelamin perempuan.
   

Skrining harus diikuti tindak lanjut


Meski meraba nadi merupakan langkah awal yang efektif dan murah, Prof. Yoga menekankan pentingnya tindak lanjut medis. 

"Kalau ditemukan irama tidak teratur, lanjutkan dengan pemeriksaan EKG untuk konfirmasi. Kalau benar AF, maka dengan pengobatan yang tepat seperti pengencer darah, risiko stroke bisa ditekan secara signifikan,” tegasnya.

Ia pun mengajak seluruh tenaga kesehatan dan masyarakat untuk bersama-sama mengampanyekan kebiasaan meraba nadi sendiri sebagai bagian dari upaya pencegahan stroke nasional pada tanggal 1 Maret.


Secillia Nur Hafifah


Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(TIN)

MOST SEARCH