Melansir ScienceAlert, sebuah studi yang melacak lebih dari 5.000 orang dewasa di Amerika Serikat selama tiga dekade menemukan fakta mengejutkan. Untuk benar-benar terlindungi dari tekanan darah tinggi, seseorang disarankan melakukan olahraga intensitas sedang selama 5 jam per minggu.
Durasi 5 jam ini setara dengan dua kali lipat dari rekomendasi minimum aktivitas fisik yang berlaku saat ini. Para peneliti dari University of California, San Francisco (UCSF) menemukan mereka yang mempertahankan kebiasaan olahraga ini hingga usia 60 tahun memiliki risiko hipertensi yang jauh lebih rendah.
"Pencapaian setidaknya dua kali lipat dari pedoman minimum aktivitas fisik orang dewasa saat ini mungkin lebih bermanfaat untuk pencegahan hipertensi daripada hanya memenuhi pedoman minimum," tulis para peneliti dalam laporan mereka di American Journal of Preventive Medicine dikutip Senin, 26 Januari 2026.
Tantangan terbesarnya adalah konsistensi. Epidemiolog UCSF, Kirsten Bibbins-Domingo, menjelaskan remaja dan mereka yang berusia awal 20-an mungkin aktif secara fisik, namun pola ini cenderung berubah seiring bertambahnya usia.
Data menunjukkan tingkat aktivitas fisik merosot tajam pada rentang usia 18 hingga 40 tahun di semua kelompok demografis. Penurunan aktivitas ini berbanding lurus dengan peningkatan angka kejadian hipertensi di dekade-dekade kehidupan selanjutnya.
Penulis utama studi, Jason Nagata, menyebutkan transisi kehidupan seperti masuk perguruan tinggi, dunia kerja, dan menjadi orang tua sering kali menggerus waktu luang untuk berolahraga.
Studi ini juga menyoroti perbedaan kondisi kesehatan yang mencolok antar-kelompok ras, yang dipengaruhi oleh faktor sosial ekonomi.
Data menunjukkan pada usia 40 tahun, tingkat aktivitas fisik pada pria dan wanita kulit putih cenderung mendatar (stabil), sedangkan pada peserta kulit hitam, tingkat aktivitas terus menurun. Dampaknya terlihat jelas pada usia senja:
Pada usia 60 tahun, antara 80 hingga 90 persen pria dan wanita kulit hitam menderita hipertensi.
Sebagai perbandingan, angka tersebut berada di bawah 70 persen untuk pria kulit putih.
Wanita kulit putih mencatatkan angka terendah, yakni sekitar 50 persen. Para peneliti mengaitkan kesenjangan ini dengan faktor lingkungan dan sosial ekonomi, bukan sekadar pilihan gaya hidup individu.
"Meskipun pemuda kulit hitam mungkin memiliki keterlibatan tinggi dalam olahraga, faktor sosial ekonomi, lingkungan tempat tinggal, serta tanggung jawab pekerjaan atau keluarga dapat menghambat kelanjutan aktivitas fisik hingga masa dewasa," jelas Nagata.
Temuan ini menjadi pengingat penting bagi masyarakat untuk tidak hanya mulai berolahraga, tetapi juga berupaya keras memprioritaskan waktu gerak tubuh di tengah kesibukan karier dan keluarga demi kesehatan jantung jangka panjang. (Sultan Rafly Dharmawan)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News