FITNESS & HEALTH
Bumil, Jangan Asal Pilih! Ini Bedanya CVS dan Amniocentesis
A. Firdaus
Rabu 12 Agustus 2026 / 11:11
- Dua pemeriksaan yang mungkin ditawarkan adalah chorionic villus sampling (CVS) dan amniocentesis.
- CVS disebut memiliki risiko keguguran yang sedikit lebih tinggi dibandingkan amniocentesis.
- Tidak ada satu pilihan yang otomatis paling tepat untuk semua ibu hamil.
Jakarta: Pemeriksaan selama kehamilan bukan hanya bertujuan memantau pertumbuhan janin. Dalam kondisi tertentu, dokter juga dapat merekomendasikan pemeriksaan prenatal untuk mengetahui kemungkinan adanya kelainan kromosom atau gangguan genetik pada janin.
Dua pemeriksaan yang mungkin ditawarkan adalah chorionic villus sampling (CVS) dan amniocentesis.
Keduanya merupakan pemeriksaan diagnostik yang dapat memberikan informasi lebih pasti mengenai kondisi genetik janin dibandingkan pemeriksaan skrining. Meski memiliki tujuan yang serupa, CVS dan amniocentesis memiliki sejumlah perbedaan, mulai dari waktu pelaksanaan, sampel yang diperiksa, hingga pertimbangan risiko.
Karena termasuk prosedur invasif, keputusan untuk menjalani CVS atau amniocentesis sebaiknya tidak dilakukan sendiri. Dokter akan mempertimbangkan kondisi kehamilan, hasil pemeriksaan sebelumnya, riwayat kesehatan, serta kebutuhan ibu dan janin.
Dilansir dari BabyCenter, salah satu perbedaan utama CVS dan amniocentesis adalah waktu pelaksanaannya.
CVS umumnya dapat dilakukan lebih awal, yakni mulai sekitar usia kehamilan 10 minggu. Pada prosedur ini, dokter mengambil sedikit sampel jaringan dari chorionic villi, yaitu jaringan pada plasenta yang memiliki materi genetik yang sama dengan janin.
Karena dapat dilakukan lebih awal, CVS memungkinkan informasi mengenai kondisi genetik janin diperoleh pada tahap awal kehamilan.
Hal ini bisa menjadi pertimbangan bagi sebagian ibu, terutama jika sebelumnya terdapat hasil skrining yang menunjukkan risiko lebih tinggi terhadap kelainan kromosom atau gangguan genetik tertentu.
Sementara itu, amniocentesis biasanya dilakukan pada usia kehamilan yang lebih lanjut. Prosedur ini dilakukan dengan mengambil sedikit cairan ketuban yang mengandung sel-sel janin untuk kemudian dianalisis di laboratorium.
Pemeriksaan skrining prenatal, seperti Non-Invasive Prenatal Test (NIPT), dapat memberikan gambaran mengenai risiko kelainan kromosom. Namun, hasil skrining bukanlah diagnosis.
Jika hasil skrining menunjukkan risiko tinggi, dokter dapat merekomendasikan pemeriksaan diagnostik seperti CVS atau amniocentesis untuk mendapatkan informasi yang lebih pasti. Pilihan pemeriksaan dapat berbeda pada setiap kehamilan.
Sebagai contoh, sebagian ibu mungkin memilih menjalani CVS lebih awal setelah mendapatkan hasil skrining berisiko tinggi. Sementara itu, ada pula yang memilih menunggu pemeriksaan USG anatomi pada trimester kedua sebelum menentukan apakah perlu menjalani pemeriksaan diagnostik.
Jika USG kemudian menunjukkan adanya kondisi yang perlu ditelusuri lebih lanjut, amniocentesis dapat menjadi salah satu pemeriksaan yang dipertimbangkan.
Karena sama-sama merupakan prosedur invasif, CVS dan amniocentesis memiliki risiko tertentu. Salah satu risiko yang paling diperhatikan adalah keguguran.
Secara umum, CVS disebut memiliki risiko keguguran yang sedikit lebih tinggi dibandingkan amniocentesis. Namun, tingkat risikonya dapat berbeda-beda, antara lain bergantung pada fasilitas kesehatan dan pengalaman dokter yang melakukan prosedur.
Di pusat kesehatan yang berpengalaman menangani pemeriksaan tersebut, risiko komplikasi dapat tergolong rendah.
Ketersediaan layanan juga dapat menjadi pertimbangan. Tidak semua dokter melakukan CVS secara rutin sehingga di beberapa wilayah, mencari tenaga medis yang berpengalaman melakukan prosedur tersebut mungkin lebih sulit dibandingkan mendapatkan layanan amniocentesis.
Tidak ada satu pilihan yang otomatis paling tepat untuk semua ibu hamil. CVS dapat menjadi pilihan ketika informasi diagnostik mengenai kondisi genetik janin diperlukan lebih awal. Sementara itu, amniocentesis dapat dipertimbangkan pada usia kehamilan yang lebih lanjut, termasuk setelah hasil USG atau pemeriksaan lain menunjukkan adanya kondisi yang perlu dievaluasi lebih jauh.
Dokter biasanya akan mempertimbangkan berbagai faktor sebelum merekomendasikan salah satunya, seperti usia kehamilan, hasil skrining dan USG, riwayat kehamilan, riwayat keluarga, kondisi kesehatan ibu, serta ketersediaan tenaga medis yang berpengalaman.
Karena itu, jika dokter menyarankan pemeriksaan genetik selama kehamilan, jangan ragu untuk menanyakan tujuan pemeriksaan, manfaat, kemungkinan risiko, waktu terbaik melakukannya, serta apa arti setiap kemungkinan hasil.
Bumil juga dapat berkonsultasi dengan dokter spesialis obstetri dan ginekologi atau konselor genetik untuk memahami pilihan yang tersedia. Dengan informasi yang lengkap, keputusan pemeriksaan dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing kehamilan.
Secillia Nur Hafifah
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)
Dua pemeriksaan yang mungkin ditawarkan adalah chorionic villus sampling (CVS) dan amniocentesis.
Keduanya merupakan pemeriksaan diagnostik yang dapat memberikan informasi lebih pasti mengenai kondisi genetik janin dibandingkan pemeriksaan skrining. Meski memiliki tujuan yang serupa, CVS dan amniocentesis memiliki sejumlah perbedaan, mulai dari waktu pelaksanaan, sampel yang diperiksa, hingga pertimbangan risiko.
Karena termasuk prosedur invasif, keputusan untuk menjalani CVS atau amniocentesis sebaiknya tidak dilakukan sendiri. Dokter akan mempertimbangkan kondisi kehamilan, hasil pemeriksaan sebelumnya, riwayat kesehatan, serta kebutuhan ibu dan janin.
CVS Bisa Dilakukan Lebih Awal
Dilansir dari BabyCenter, salah satu perbedaan utama CVS dan amniocentesis adalah waktu pelaksanaannya.
CVS umumnya dapat dilakukan lebih awal, yakni mulai sekitar usia kehamilan 10 minggu. Pada prosedur ini, dokter mengambil sedikit sampel jaringan dari chorionic villi, yaitu jaringan pada plasenta yang memiliki materi genetik yang sama dengan janin.
Karena dapat dilakukan lebih awal, CVS memungkinkan informasi mengenai kondisi genetik janin diperoleh pada tahap awal kehamilan.
Hal ini bisa menjadi pertimbangan bagi sebagian ibu, terutama jika sebelumnya terdapat hasil skrining yang menunjukkan risiko lebih tinggi terhadap kelainan kromosom atau gangguan genetik tertentu.
Sementara itu, amniocentesis biasanya dilakukan pada usia kehamilan yang lebih lanjut. Prosedur ini dilakukan dengan mengambil sedikit cairan ketuban yang mengandung sel-sel janin untuk kemudian dianalisis di laboratorium.
Bagaimana Jika Hasil Skrining Berisiko Tinggi?
Pemeriksaan skrining prenatal, seperti Non-Invasive Prenatal Test (NIPT), dapat memberikan gambaran mengenai risiko kelainan kromosom. Namun, hasil skrining bukanlah diagnosis.
Jika hasil skrining menunjukkan risiko tinggi, dokter dapat merekomendasikan pemeriksaan diagnostik seperti CVS atau amniocentesis untuk mendapatkan informasi yang lebih pasti. Pilihan pemeriksaan dapat berbeda pada setiap kehamilan.
Sebagai contoh, sebagian ibu mungkin memilih menjalani CVS lebih awal setelah mendapatkan hasil skrining berisiko tinggi. Sementara itu, ada pula yang memilih menunggu pemeriksaan USG anatomi pada trimester kedua sebelum menentukan apakah perlu menjalani pemeriksaan diagnostik.
Jika USG kemudian menunjukkan adanya kondisi yang perlu ditelusuri lebih lanjut, amniocentesis dapat menjadi salah satu pemeriksaan yang dipertimbangkan.
Bagaimana dengan Risikonya?
Karena sama-sama merupakan prosedur invasif, CVS dan amniocentesis memiliki risiko tertentu. Salah satu risiko yang paling diperhatikan adalah keguguran.
Secara umum, CVS disebut memiliki risiko keguguran yang sedikit lebih tinggi dibandingkan amniocentesis. Namun, tingkat risikonya dapat berbeda-beda, antara lain bergantung pada fasilitas kesehatan dan pengalaman dokter yang melakukan prosedur.
Di pusat kesehatan yang berpengalaman menangani pemeriksaan tersebut, risiko komplikasi dapat tergolong rendah.
Ketersediaan layanan juga dapat menjadi pertimbangan. Tidak semua dokter melakukan CVS secara rutin sehingga di beberapa wilayah, mencari tenaga medis yang berpengalaman melakukan prosedur tersebut mungkin lebih sulit dibandingkan mendapatkan layanan amniocentesis.
Jadi, Pilih CVS atau Amniocentesis?
Tidak ada satu pilihan yang otomatis paling tepat untuk semua ibu hamil. CVS dapat menjadi pilihan ketika informasi diagnostik mengenai kondisi genetik janin diperlukan lebih awal. Sementara itu, amniocentesis dapat dipertimbangkan pada usia kehamilan yang lebih lanjut, termasuk setelah hasil USG atau pemeriksaan lain menunjukkan adanya kondisi yang perlu dievaluasi lebih jauh.
Dokter biasanya akan mempertimbangkan berbagai faktor sebelum merekomendasikan salah satunya, seperti usia kehamilan, hasil skrining dan USG, riwayat kehamilan, riwayat keluarga, kondisi kesehatan ibu, serta ketersediaan tenaga medis yang berpengalaman.
Karena itu, jika dokter menyarankan pemeriksaan genetik selama kehamilan, jangan ragu untuk menanyakan tujuan pemeriksaan, manfaat, kemungkinan risiko, waktu terbaik melakukannya, serta apa arti setiap kemungkinan hasil.
Bumil juga dapat berkonsultasi dengan dokter spesialis obstetri dan ginekologi atau konselor genetik untuk memahami pilihan yang tersedia. Dengan informasi yang lengkap, keputusan pemeriksaan dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing kehamilan.
Secillia Nur Hafifah
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)