FITNESS & HEALTH

Insecure Liat Pencapaian Orang Lain? Hati-hati Comparison Trap

A. Firdaus
Rabu 07 Oktober 2026 / 16:28
Ringkasnya gini..
  • Membandingkan diri dengan orang lain merupakan hal yang normal, tetapi bisa bikin mental drop jika dilakukan terus-menerus.
  • Media sosial dapat membuat upward social comparison makin sering terjadi.
  • Fokus pada perkembangan diri sendiri bisa membantu supaya pencapaian orang lain nggak jadi ukuran harga diri.

Jakarta: Pernah nggak lagi scroll media sosial, terus mendadak kepikiran, “Kok hidup orang lain kayaknya maju semua, ya?” Ada yang baru naik jabatan, liburan, menikah, punya bisnis, sampai kelihatan happy terus. Sementara kita rasanya masih di tempat yang sama.

Nah, kalau situasi ini sering bikin kamu merasa tertinggal, bisa jadi kamu sedang masuk ke comparison trap, yaitu kondisi ketika kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain malah bikin kita terus merasa kurang.

 

Kesepian di Balik Layar Ponsel(Seseorang sedang membandingkan dirinya dengan orang lain di media sosial. Foto: AI Generated)

 

Kenapa kita suka membandingkan diri?

Menurut American Psychological Association (APA), organisasi ilmiah dan profesional yang bergerak di bidang psikologi di Amerika Serikat, social comparison merupakan proses ketika seseorang mengevaluasi dirinya dengan membandingkan kemampuan atau kondisinya dengan orang lain.

Salah satu bentuknya adalah upward social comparison, yaitu ketika kita membandingkan diri dengan orang yang dianggap lebih unggul. Menurut rangkuman penelitian yang dipublikasikan APA, perbandingan ke atas ini bisa membuat seseorang merasa lebih buruk tentang dirinya, meski dalam kondisi tertentu juga dapat menjadi motivasi untuk berkembang.

Masalahnya, media sosial bikin proses ini jadi gampang banget terjadi.

 


 

Media sosial bikin makin gampang insecure

Di media sosial, kita bisa melihat pencapaian orang lain hanya dalam hitungan menit. Yang muncul pun sering kali adalah momen terbaik: pekerjaan keren, tubuh ideal, hubungan romantis, atau liburan yang aesthetic.

Penelitian tahun 2025 yang terindeks di PubMed menemukan bahwa upward comparison berperan dalam hubungan antara penggunaan media sosial dengan self-esteem yang lebih rendah dan gejala depresi. PubMed sendiri merupakan basis data literatur biomedis yang dikelola U.S. National Library of Medicine, jadi bukan lembaga yang melakukan penelitian, melainkan tempat publikasi ilmiah tersebut terindeks.

Temuan ini makin diperkuat meta-analisis 2026 di Frontiers in Psychology, jurnal ilmiah peer-reviewed bidang psikologi. Peneliti menganalisis 54 sampel dengan total 36.583 partisipan dan menemukan hubungan antara online upward social comparison dengan sejumlah indikator kondisi psikologis yang kurang baik, termasuk kecemasan, depresi, dan self-esteem yang lebih rendah.

 

Jadi, harus berhenti membandingkan diri?

Nggak juga. Yang perlu diubah adalah cara kita memakainya.

Daripada bertanya, “Kok dia sudah sampai sana, sedangkan gue belum?”, coba ganti dengan, “Sebenarnya gue pengin mencapai apa?”

Kamu juga bisa membandingkan diri dengan versi dirimu beberapa bulan lalu. Progress kecil tetap progress.

Karena yang terlihat di layar cuma potongan hidup orang lain. Jadi, jangan sampai highlight kehidupan mereka dipakai sebagai penggaris untuk mengukur seluruh hidupmu.


Desi I.



Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(FIR)

MOST SEARCH