FITNESS & HEALTH
ASI Mampet Bikin Drama? Kenali 10 Alasan yang Sering Gak Disadari Ini
Yatin Suleha
Senin 02 Maret 2026 / 10:05
- Saluran ASI tersumbat sering muncul tiba-tiba.
- Faktanya, kondisi ini memang bisa dipicu oleh banyak hal.
- Memahami berbagai pemicu yang mungkin terjadi dapat membantu mencegah sumbatan berulang.
Jakarta: Saluran ASI tersumbat sering muncul tiba-tiba, dan membuat proses menyusui terasa tidak nyaman. Banyak ibu merasa sudah menyusui dengan benar, tetapi tetap mengalami benjolan atau nyeri pada payudara.
Faktanya, kondisi ini memang bisa dipicu oleh banyak hal, mulai dari produksi ASI berlebih, teknik menyusui, hingga faktor kelelahan dan tekanan dari pakaian.
Bahkan, sebagian ibu memang tampak lebih mudah mengalami sumbatan, dibandingkan yang lain, meskipun penyebab pastinya belum sepenuhnya dipahami oleh para ahli.
Memahami berbagai pemicu yang mungkin terjadi dapat membantu mencegah sumbatan berulang, serta menjaga aliran ASI tetap lancar selama masa menyusui.
Sayangnya, ada ibu yang tampak lebih sering mengalami saluran ASI tersumbat dibandingkan yang lain, dan hingga sekarang penyebab kerentanan ini belum diketahui secara pasti.
Dilansir dari BabyCenter, berikut adalah 10 faktor yang cukup sering menjadi pemicu.
Kondisi ini terjadi ketika produksi ASI lebih banyak daripada yang diminum bayi, sehingga susu menumpuk dan membuat payudara terasa sangat penuh serta tegang.
Misalnya karena pelekatan kurang tepat atau adanya tongue-tie (lidah terikat), sehingga pengosongan payudara tidak optimal dan ASI tertinggal di dalam saluran.
.jpg)
(Salah satu ciri ASI tersumbat yaitu bengkak yang disertai rasa nyeri di sekitar benjolan. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Puting yang lecet, luka, atau gangguan lain bisa membuat sesi menyusui tidak efektif atau lebih jarang dilakukan, yang akhirnya memicu penumpukan susu.
Jika satu payudara lebih jarang dikosongkan, susu bisa menumpuk di sisi tersebut dan meningkatkan risiko penyumbatan.
Flange adalah bagian corong pada pompa yang menempel di payudara. Ukuran terlalu kecil dapat menggesek puting, memicu iritasi serta peradangan yang menghambat aliran susu. Sebaliknya, ukuran terlalu besar dapat menimbulkan trauma pada area areola.
Penyapihan yang tiba-tiba membuat tubuh masih memproduksi ASI dalam jumlah cukup banyak, sehingga terjadi penumpukan. Jika memungkinkan, penghentian menyusui lebih aman dilakukan secara bertahap.
Hal ini bisa terjadi saat kembali bekerja, bepergian, atau ketika bayi mulai tidur lebih lama, sehingga payudara tidak dikosongkan seperti biasanya.
Tekanan dari bra menyusui yang terlalu sempit, posisi tidur menekan payudara, atau pakaian ketat dapat menghambat aliran susu.
Stres dapat menurunkan kadar oksitosin, yaitu hormon yang membantu refleks pengeluaran ASI. Saat hormon ini menurun, aliran susu bisa menjadi kurang lancar.
Tindakan medis seperti biopsi atau operasi lain pada payudara dapat memengaruhi jaringan serta jalur saluran susu, sehingga aliran ASI menjadi lebih mudah terhambat di area tertentu.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(TIN)
Faktanya, kondisi ini memang bisa dipicu oleh banyak hal, mulai dari produksi ASI berlebih, teknik menyusui, hingga faktor kelelahan dan tekanan dari pakaian.
Bahkan, sebagian ibu memang tampak lebih mudah mengalami sumbatan, dibandingkan yang lain, meskipun penyebab pastinya belum sepenuhnya dipahami oleh para ahli.
Memahami berbagai pemicu yang mungkin terjadi dapat membantu mencegah sumbatan berulang, serta menjaga aliran ASI tetap lancar selama masa menyusui.
Sayangnya, ada ibu yang tampak lebih sering mengalami saluran ASI tersumbat dibandingkan yang lain, dan hingga sekarang penyebab kerentanan ini belum diketahui secara pasti.
Dilansir dari BabyCenter, berikut adalah 10 faktor yang cukup sering menjadi pemicu.
1. Payudara terlalu penuh atau pembengkakan payudara
Kondisi ini terjadi ketika produksi ASI lebih banyak daripada yang diminum bayi, sehingga susu menumpuk dan membuat payudara terasa sangat penuh serta tegang.
2. Bayi mengalami kesulitan menyusu
Misalnya karena pelekatan kurang tepat atau adanya tongue-tie (lidah terikat), sehingga pengosongan payudara tidak optimal dan ASI tertinggal di dalam saluran.
3. Adanya masalah saat menyusui
.jpg)
(Salah satu ciri ASI tersumbat yaitu bengkak yang disertai rasa nyeri di sekitar benjolan. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Puting yang lecet, luka, atau gangguan lain bisa membuat sesi menyusui tidak efektif atau lebih jarang dilakukan, yang akhirnya memicu penumpukan susu.
4. Lebih sering menyusui di satu sisi saja
Jika satu payudara lebih jarang dikosongkan, susu bisa menumpuk di sisi tersebut dan meningkatkan risiko penyumbatan.
5. Ukuran flange pompa ASI tidak pas
Flange adalah bagian corong pada pompa yang menempel di payudara. Ukuran terlalu kecil dapat menggesek puting, memicu iritasi serta peradangan yang menghambat aliran susu. Sebaliknya, ukuran terlalu besar dapat menimbulkan trauma pada area areola.
6. Menghentikan menyusui secara mendadak
Penyapihan yang tiba-tiba membuat tubuh masih memproduksi ASI dalam jumlah cukup banyak, sehingga terjadi penumpukan. Jika memungkinkan, penghentian menyusui lebih aman dilakukan secara bertahap.
7. Frekuensi menyusui atau memompa berkurang
Hal ini bisa terjadi saat kembali bekerja, bepergian, atau ketika bayi mulai tidur lebih lama, sehingga payudara tidak dikosongkan seperti biasanya.
8. Saluran ASI tertekan atau mengalami cedera
Tekanan dari bra menyusui yang terlalu sempit, posisi tidur menekan payudara, atau pakaian ketat dapat menghambat aliran susu.
9. Stres berlebih
Stres dapat menurunkan kadar oksitosin, yaitu hormon yang membantu refleks pengeluaran ASI. Saat hormon ini menurun, aliran susu bisa menjadi kurang lancar.
Baca Juga :
Jumlah ASI yang Harus Dikonsumsi oleh Newborn
10. Riwayat operasi payudara
Tindakan medis seperti biopsi atau operasi lain pada payudara dapat memengaruhi jaringan serta jalur saluran susu, sehingga aliran ASI menjadi lebih mudah terhambat di area tertentu.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(TIN)