FITNESS & HEALTH
Nipple Menangis? Ini Trik Letdown Nyaman Anti Drama
Yatin Suleha
Selasa 02 Juni 2026 / 09:05
- Menyusui itu gak cuma soal kasih ASI, tapi juga petualangan fisik dan emosi yang penuh kejutan.
- Salah satu yang sering bikin kaget adalah sensasi letdown yang rasanya perih, menyengat, bahkan mirip terbakar.
- Biasanya, drama ini muncul di awal menyusui pas ASI lagi deras-derasnya.
Jakarta: Menyusui itu gak cuma soal kasih ASI, tapi juga petualangan fisik dan emosi yang penuh kejutan. Salah satu yang sering bikin kaget adalah sensasi letdown yang rasanya perih, menyengat, bahkan mirip terbakar.
Biasanya, drama ini muncul di awal menyusui pas ASI lagi deras-derasnya. Efeknya, momen yang harusnya hangat dan intim malah bikin tegang. Tapi tenang, kalau kita paham cara kerja tubuh dan tahu triknya, proses menyusui bisa balik jadi nyaman dan enjoyable lagi.
Dilansir dari BabyCenter, berikut adalah tujuh cara yang dapat membantu mengatasi letdown yang terasa menyakitkan.
Jika nyeri saat letdown masih tergolong ringan hingga sedang, teknik relaksasi bisa membantu mengurangi ketegangan tubuh.
Latihan pernapasan dalam, meditasi singkat, atau teknik relaksasi yang biasa dipelajari saat kelas persiapan persalinan dapat dicoba setiap kali mulai menyusui. Tubuh yang lebih rileks membantu hormon oksitosin bekerja lebih stabil, sehingga aliran ASI terasa lebih nyaman.

(Moms bisa menyusui si kecil dengan posisi setengah duduk agar aliran tidak terlalu deras. Foto: Ilustrasi/Magnific.com)
Pelekatan yang kurang tepat sering menjadi akar berbagai masalah menyusui, termasuk puting pecah-pecah, saluran ASI tersumbat, hingga mastitis. Posisi mulut bayi sebaiknya terbuka lebar, serta mencakup sebagian besar areola, bukan hanya puting.
Konsultasi dengan konselor laktasi atau dokter bisa sangat membantu, karena perubahan kecil pada posisi dan teknik sering kali memberikan perbedaan besar, pada tingkat kenyamanan.
Jika bayi terlihat sering tersedak atau seperti kewalahan di awal menyusu, kemungkinan terjadi produksi ASI berlebih atau refleks pengeluaran ASI yang terlalu cepat.
Beberapa langkah yang bisa membantu antara lain memastikan pelekatan dalam dan stabil, menyusui dengan posisi setengah duduk agar aliran tidak terlalu deras, menekan payudara dengan lembut saat letdown, serta memerah sedikit ASI sebelum mulai menyusui untuk mengurangi tekanan awal.
Infeksi seperti infeksi jamur pada puting atau mastitis bisa menyebabkan nyeri tajam, sensasi terbakar, kemerahan, bahkan gejala seperti flu.
Tanda-tanda yang perlu diwaspadai meliputi puting gatal, merah, atau terasa panas, nyeri seperti tertusuk saat menyusui, payudara terasa hangat saat disentuh, serta demam, menggigil, mual, atau muntah.
Kondisi ini biasanya membutuhkan penanganan medis, jadi penting untuk segera berkonsultasi jika gejala tersebut muncul.
Bintil kecil menyerupai jerawat di puting dapat terasa sangat nyeri, dan berpotensi menyebabkan sumbatan saluran ASI.
Untuk membantu mengatasinya, susui lebih sering agar saluran tetap terbuka, kompres hangat beberapa kali sehari, serta lakukan eksfoliasi lembut dengan kain bersih setelah kulit dilunakkan menggunakan minyak zaitun selama sekitar 30 menit.
Benjolan kecil yang terasa nyeri di payudara bisa menjadi tanda saluran ASI tersumbat. Jika tidak ditangani, kondisi ini berisiko berkembang menjadi mastitis. Pijatan lembut saat mandi air hangat atau selama menyusui, dapat membantu melancarkan aliran ASI.
Dalam jangka panjang, mengatur jadwal menyusui yang konsisten serta mengelola produksi ASI berlebih, dapat menurunkan risiko sumbatan berulang.
Kesulitan pelekatan, puting sering lecet, dan sumbatan saluran ASI yang berulang bisa berkaitan dengan tongue-tie pada bayi. Konselor laktasi dapat membantu mengevaluasi teknik menyusui, dan memberikan saran yang sesuai.
Dalam beberapa kasus, prosedur sederhana, seperti frenektomi dapat membantu memperbaiki perlekatan dan mengurangi rasa sakit saat menyusui.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(TIN)
Biasanya, drama ini muncul di awal menyusui pas ASI lagi deras-derasnya. Efeknya, momen yang harusnya hangat dan intim malah bikin tegang. Tapi tenang, kalau kita paham cara kerja tubuh dan tahu triknya, proses menyusui bisa balik jadi nyaman dan enjoyable lagi.
Dilansir dari BabyCenter, berikut adalah tujuh cara yang dapat membantu mengatasi letdown yang terasa menyakitkan.
1. Coba teknik relaksasi
Jika nyeri saat letdown masih tergolong ringan hingga sedang, teknik relaksasi bisa membantu mengurangi ketegangan tubuh.
Latihan pernapasan dalam, meditasi singkat, atau teknik relaksasi yang biasa dipelajari saat kelas persiapan persalinan dapat dicoba setiap kali mulai menyusui. Tubuh yang lebih rileks membantu hormon oksitosin bekerja lebih stabil, sehingga aliran ASI terasa lebih nyaman.
2. Perbaiki pelekatan (latch)

(Moms bisa menyusui si kecil dengan posisi setengah duduk agar aliran tidak terlalu deras. Foto: Ilustrasi/Magnific.com)
Pelekatan yang kurang tepat sering menjadi akar berbagai masalah menyusui, termasuk puting pecah-pecah, saluran ASI tersumbat, hingga mastitis. Posisi mulut bayi sebaiknya terbuka lebar, serta mencakup sebagian besar areola, bukan hanya puting.
Konsultasi dengan konselor laktasi atau dokter bisa sangat membantu, karena perubahan kecil pada posisi dan teknik sering kali memberikan perbedaan besar, pada tingkat kenyamanan.
3. Atasi produksi ASI berlebihan dan aliran terlalu deras
Jika bayi terlihat sering tersedak atau seperti kewalahan di awal menyusu, kemungkinan terjadi produksi ASI berlebih atau refleks pengeluaran ASI yang terlalu cepat.
Beberapa langkah yang bisa membantu antara lain memastikan pelekatan dalam dan stabil, menyusui dengan posisi setengah duduk agar aliran tidak terlalu deras, menekan payudara dengan lembut saat letdown, serta memerah sedikit ASI sebelum mulai menyusui untuk mengurangi tekanan awal.
4. Pastikan tidak ada penyebab yang lebih serius
Infeksi seperti infeksi jamur pada puting atau mastitis bisa menyebabkan nyeri tajam, sensasi terbakar, kemerahan, bahkan gejala seperti flu.
Tanda-tanda yang perlu diwaspadai meliputi puting gatal, merah, atau terasa panas, nyeri seperti tertusuk saat menyusui, payudara terasa hangat saat disentuh, serta demam, menggigil, mual, atau muntah.
Kondisi ini biasanya membutuhkan penanganan medis, jadi penting untuk segera berkonsultasi jika gejala tersebut muncul.
5. Tangani milk bleb (bintil susu)
Bintil kecil menyerupai jerawat di puting dapat terasa sangat nyeri, dan berpotensi menyebabkan sumbatan saluran ASI.
Untuk membantu mengatasinya, susui lebih sering agar saluran tetap terbuka, kompres hangat beberapa kali sehari, serta lakukan eksfoliasi lembut dengan kain bersih setelah kulit dilunakkan menggunakan minyak zaitun selama sekitar 30 menit.
6. Periksa kemungkinan saluran ASI tersumbat
Benjolan kecil yang terasa nyeri di payudara bisa menjadi tanda saluran ASI tersumbat. Jika tidak ditangani, kondisi ini berisiko berkembang menjadi mastitis. Pijatan lembut saat mandi air hangat atau selama menyusui, dapat membantu melancarkan aliran ASI.
Dalam jangka panjang, mengatur jadwal menyusui yang konsisten serta mengelola produksi ASI berlebih, dapat menurunkan risiko sumbatan berulang.
7. Perhatikan kemungkinan tongue-tie pada bayi
Kesulitan pelekatan, puting sering lecet, dan sumbatan saluran ASI yang berulang bisa berkaitan dengan tongue-tie pada bayi. Konselor laktasi dapat membantu mengevaluasi teknik menyusui, dan memberikan saran yang sesuai.
Dalam beberapa kasus, prosedur sederhana, seperti frenektomi dapat membantu memperbaiki perlekatan dan mengurangi rasa sakit saat menyusui.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(TIN)