FITNESS & HEALTH
Menyusui: Ekspektasi Aesthetic Realita Chaos, Kok Bisa?
Yatin Suleha
Minggu 12 Juli 2026 / 13:54
- Menyusui memang sering digambarkan sebagai momen yang manis dan hangat, tapi jujur saja, realitanya enggak selalu seindah itu.
- Terutama di minggu-minggu pertama. Wajar banget kalau ibu merasa lelah secara fisik maupun emosional saat menjalaninya.
- Menyusui mungkin penuh tantangan di awal, namun perlahan akan terasa nyaman.
Jakarta: Menyusui memang sering digambarkan sebagai momen yang manis dan hangat, tapi jujur saja, realitanya enggak selalu seindah itu, terutama di minggu-minggu pertama. Wajar banget kalau ibu merasa lelah secara fisik maupun emosional saat menjalaninya.
Tapi ingat ya, kesulitan di awal bukan berarti prosesnya bakal terus-terusan berat. Banyak kok ibu dan bayi yang akhirnya bisa menyusui dengan lancar dan nyaman selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun tanpa kendala berarti.
Meski begitu, memang tantangan itu bagian dari perjalanan. Kadang bayi butuh waktu buat belajar menempel (latching) dengan pas, atau ibu mengalami kendala mulai dari masalah pasokan ASI, rasa nyeri, sampai infeksi.
Tantangan seperti ini memang paling sering muncul di awal, jadi kalau kamu sedang merasakannya, kamu enggak sendirian dan itu sangat manusiawi!
Mengatasi komplikasi menyusui memang bisa melelahkan dan memakan waktu. Namun, manfaat kesehatan menyusui bagi ibu dan bayi sepadan dengan usaha tersebut. Setelah melewati fase sulit, menyusui biasanya menjadi jauh lebih mudah.
.jpg)
(Menyusui seharusnya tidak nyeri; jika sakit, perbaiki posisi pelekatan atau segera konsultasikan kondisi medis tertentu. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Banyak ibu juga merasa bahwa menyusui lebih praktis, lebih ekonomis, dan lebih menyenangkan dibandingkan memberikan susu botol.
Menyusui seharusnya tidak menyakitkan. Jika terasa sakit, itu pertanda ada yang salah. Penyebab paling umum adalah pelekatan bayi yang kurang tepat.
Dilansir dari BabyCenter, dalam kondisi normal, rasa tidak nyaman hanya muncul di awal hisapan dan akan berkurang dalam 15 hingga 30 detik.
Jika nyeri terus berlanjut, kemungkinan besar posisi atau cara bayi menempel perlu diperbaiki.
Selain itu, beberapa kondisi lain juga bisa memicu rasa tidak nyaman. Sensasi kesemutan saat ASI mulai keluar (letdown) memang wajar, tetapi pada sebagian ibu bisa terasa nyeri.
Hal ini bisa terjadi karena produksi ASI berlebih, saluran ASI tersumbat, mastitis, atau infeksi jamur pada puting. Gejala infeksi seperti demam, puting terasa panas, merah, atau gatal perlu segera diperhatikan.
Kram setelah melahirkan juga sering muncul saat menyusui. Hal ini terjadi karena kontraksi rahim yang dipicu oleh hormon oksitosin.
Meski terasa nyeri, kontraksi ini membantu rahim kembali ke ukuran semula dan biasanya mereda dalam waktu sekitar satu minggu.
Intinya, rasa sakit bukanlah bagian normal dari menyusui yang harus ditoleransi.
Dukungan dokter atau konsultan laktasi sangat membantu untuk menemukan penyebab dan solusi. Dengan pendampingan yang tepat, fase sulit di awal dapat dilewati dengan lebih percaya diri.
Secillia Nur Hafifah
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(TIN)
Tapi ingat ya, kesulitan di awal bukan berarti prosesnya bakal terus-terusan berat. Banyak kok ibu dan bayi yang akhirnya bisa menyusui dengan lancar dan nyaman selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun tanpa kendala berarti.
Meski begitu, memang tantangan itu bagian dari perjalanan. Kadang bayi butuh waktu buat belajar menempel (latching) dengan pas, atau ibu mengalami kendala mulai dari masalah pasokan ASI, rasa nyeri, sampai infeksi.
Baca Juga :
Ibu, Kenali 4 Penyebab Bayi Tidak Mau Menyusu
Tantangan seperti ini memang paling sering muncul di awal, jadi kalau kamu sedang merasakannya, kamu enggak sendirian dan itu sangat manusiawi!
Mengatasi komplikasi menyusui memang bisa melelahkan dan memakan waktu. Namun, manfaat kesehatan menyusui bagi ibu dan bayi sepadan dengan usaha tersebut. Setelah melewati fase sulit, menyusui biasanya menjadi jauh lebih mudah.
.jpg)
(Menyusui seharusnya tidak nyeri; jika sakit, perbaiki posisi pelekatan atau segera konsultasikan kondisi medis tertentu. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Banyak ibu juga merasa bahwa menyusui lebih praktis, lebih ekonomis, dan lebih menyenangkan dibandingkan memberikan susu botol.
Lalu, apakah menyusui bayi menyakitkan?
Menyusui seharusnya tidak menyakitkan. Jika terasa sakit, itu pertanda ada yang salah. Penyebab paling umum adalah pelekatan bayi yang kurang tepat.
Dilansir dari BabyCenter, dalam kondisi normal, rasa tidak nyaman hanya muncul di awal hisapan dan akan berkurang dalam 15 hingga 30 detik.
Jika nyeri terus berlanjut, kemungkinan besar posisi atau cara bayi menempel perlu diperbaiki.
Selain itu, beberapa kondisi lain juga bisa memicu rasa tidak nyaman. Sensasi kesemutan saat ASI mulai keluar (letdown) memang wajar, tetapi pada sebagian ibu bisa terasa nyeri.
Hal ini bisa terjadi karena produksi ASI berlebih, saluran ASI tersumbat, mastitis, atau infeksi jamur pada puting. Gejala infeksi seperti demam, puting terasa panas, merah, atau gatal perlu segera diperhatikan.
Kram setelah melahirkan juga sering muncul saat menyusui. Hal ini terjadi karena kontraksi rahim yang dipicu oleh hormon oksitosin.
Meski terasa nyeri, kontraksi ini membantu rahim kembali ke ukuran semula dan biasanya mereda dalam waktu sekitar satu minggu.
Intinya, rasa sakit bukanlah bagian normal dari menyusui yang harus ditoleransi.
Dukungan dokter atau konsultan laktasi sangat membantu untuk menemukan penyebab dan solusi. Dengan pendampingan yang tepat, fase sulit di awal dapat dilewati dengan lebih percaya diri.
Secillia Nur Hafifah
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(TIN)