FITNESS & HEALTH
Alergi Susu Sapi Bukan Akhir Dunia, Mom! ASI Tetap Number One
Yatin Suleha
Kamis 11 Juni 2026 / 21:00
- Secara statistik, sekitar 30-50% anak kita emang rentan kena alergi.
- Dan 8% di antaranya dipicu sama makanan. Kalau untuk alergi susu sapi khususnya, angkanya menyentuh sekitar 2-7,5%.
- "Semakin hari angka kejadian alergi itu semakin meningkat, baik di dunia maupun di Indonesia," ujar dr. Molly Dumakuri Oktarina, Sp.A(K).
Jakarta: Waspada alergi susu sapi pada si kecil! Kondisi ini emang lagi makin sering ditemuin di Indonesia. Gejalanya pun enggak cuma satu, bisa nampak di kulit, perut, sampai pernapasan.
Secara statistik, sekitar 30-50% anak kita emang rentan kena alergi, dan 8% di antaranya dipicu sama makanan. Kalau untuk alergi susu sapi khususnya, angkanya menyentuh sekitar 2-7,5%.
"Semakin hari angka kejadian alergi itu semakin meningkat, baik di dunia maupun di Indonesia," ujar dr. Molly Dumakuri Oktarina, Sp.A(K), Dokter Spesialis Anak Konsultan Alergi Imunologi dalam acara Jelang World Allergy Week 2026, Sarihusada melalui SADAR Alergi Ajak Orang Tua Ambil Tindakan Tepat Tangani Alergi Susu Sapi pada Anak di Swasana Lippo Kuningan, Jakarta, Kamis (11/06/26).
Dr. Molly menjelaskan, alergi susu sapi dapat ditandai dengan ruam kemerahan yang gatal, biduran, gumoh berulang, diare, sembelit, hingga buang air besar berdarah.
Gejala juga dapat muncul pada saluran pernapasan, seperti batuk, pilek tanpa demam, dan mengi.
"Gejalanya sering sekali tumpang tindih. Satu anak bisa mengalami satu gejala, tapi bisa juga mengalami beberapa gejala sekaligus," jelasnya.
Jika muncul kecurigaan alergi, orang tua disarankan segera berkonsultasi dengan dokter. Menurut dr. Molly, diagnosis alergi susu sapi tidak bisa ditegakkan hanya dengan satu kali pemeriksaan.
.jpg)
(Secara statistik, sekitar 30-50 persen anak mengalami penyakit alergi, sementara 8 persen mengalami alergi makanan. Foto: Dok. Medcom.id/Secillia Nur Hafifah)
Dokter biasanya melakukan metode eliminasi, dengan menghentikan konsumsi protein susu sapi selama beberapa waktu, sambil memantau perbaikan gejala. Setelah itu, dilakukan provokasi atau pengenalan kembali protein susu sapi untuk memastikan diagnosis.
Dr. Molly menegaskan bahwa penanganan utama alergi adalah menghindari pencetusnya. Pada kasus alergi susu sapi, pemenuhan nutrisi juga harus diperhatikan, agar tidak mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak.
Bagi bayi yang masih menyusu, ASI tetap dianjurkan. Namun, ibu menyusui perlu menghindari makanan dan minuman, yang mengandung protein susu sapi.
"ASI jangan pernah dihentikan karena ASI tetap yang terbaik," tegasnya.
Untuk anak yang memerlukan susu formula, pemilihannya harus disesuaikan dengan tingkat keparahan gejala.
Formula extensively hydrolyzed, dapat digunakan pada gejala ringan hingga sedang, sedangkan formula berbasis asam amino direkomendasikan untuk kasus yang lebih berat.
Selain itu, formula soya dapat menjadi alternatif pada anak dengan gejala ringan hingga sedang.
Namun, dr. Molly mengingatkan bahwa formula soya berbeda dengan susu kedelai biasa, karena telah diformulasikan dan dilengkapi berbagai zat gizi penting.
Di akhir pemaparannya, dr. Molly juga menegaskan bahwa formula terhidrolisat, sebagian tidak direkomendasikan sebagai tata laksana alergi susu sapi, karena belum termasuk formula hipoalergenik.
Oleh karena itu, konsultasi dengan dokter menjadi langkah penting, agar anak mendapatkan diagnosis dan nutrisi yang tepat.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(TIN)
Secara statistik, sekitar 30-50% anak kita emang rentan kena alergi, dan 8% di antaranya dipicu sama makanan. Kalau untuk alergi susu sapi khususnya, angkanya menyentuh sekitar 2-7,5%.
"Semakin hari angka kejadian alergi itu semakin meningkat, baik di dunia maupun di Indonesia," ujar dr. Molly Dumakuri Oktarina, Sp.A(K), Dokter Spesialis Anak Konsultan Alergi Imunologi dalam acara Jelang World Allergy Week 2026, Sarihusada melalui SADAR Alergi Ajak Orang Tua Ambil Tindakan Tepat Tangani Alergi Susu Sapi pada Anak di Swasana Lippo Kuningan, Jakarta, Kamis (11/06/26).
Gejala bisa muncul di kulit, pencernaan, hingga pernapasan
Dr. Molly menjelaskan, alergi susu sapi dapat ditandai dengan ruam kemerahan yang gatal, biduran, gumoh berulang, diare, sembelit, hingga buang air besar berdarah.
Gejala juga dapat muncul pada saluran pernapasan, seperti batuk, pilek tanpa demam, dan mengi.
"Gejalanya sering sekali tumpang tindih. Satu anak bisa mengalami satu gejala, tapi bisa juga mengalami beberapa gejala sekaligus," jelasnya.
Diagnosis perlu melalui proses
Jika muncul kecurigaan alergi, orang tua disarankan segera berkonsultasi dengan dokter. Menurut dr. Molly, diagnosis alergi susu sapi tidak bisa ditegakkan hanya dengan satu kali pemeriksaan.
.jpg)
(Secara statistik, sekitar 30-50 persen anak mengalami penyakit alergi, sementara 8 persen mengalami alergi makanan. Foto: Dok. Medcom.id/Secillia Nur Hafifah)
Dokter biasanya melakukan metode eliminasi, dengan menghentikan konsumsi protein susu sapi selama beberapa waktu, sambil memantau perbaikan gejala. Setelah itu, dilakukan provokasi atau pengenalan kembali protein susu sapi untuk memastikan diagnosis.
Nutrisi tepat jadi kunci penanganan
Dr. Molly menegaskan bahwa penanganan utama alergi adalah menghindari pencetusnya. Pada kasus alergi susu sapi, pemenuhan nutrisi juga harus diperhatikan, agar tidak mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak.
Bagi bayi yang masih menyusu, ASI tetap dianjurkan. Namun, ibu menyusui perlu menghindari makanan dan minuman, yang mengandung protein susu sapi.
"ASI jangan pernah dihentikan karena ASI tetap yang terbaik," tegasnya.
Untuk anak yang memerlukan susu formula, pemilihannya harus disesuaikan dengan tingkat keparahan gejala.
Formula extensively hydrolyzed, dapat digunakan pada gejala ringan hingga sedang, sedangkan formula berbasis asam amino direkomendasikan untuk kasus yang lebih berat.
Selain itu, formula soya dapat menjadi alternatif pada anak dengan gejala ringan hingga sedang.
Namun, dr. Molly mengingatkan bahwa formula soya berbeda dengan susu kedelai biasa, karena telah diformulasikan dan dilengkapi berbagai zat gizi penting.
Di akhir pemaparannya, dr. Molly juga menegaskan bahwa formula terhidrolisat, sebagian tidak direkomendasikan sebagai tata laksana alergi susu sapi, karena belum termasuk formula hipoalergenik.
Oleh karena itu, konsultasi dengan dokter menjadi langkah penting, agar anak mendapatkan diagnosis dan nutrisi yang tepat.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(TIN)