FITNESS & HEALTH
ASI Bikin Bayi Lebih Sering Gumoh? Mitos atau Fakta?
A. Firdaus
Jumat 06 Februari 2026 / 12:16
- Sekitar 80% bayi usia 1 bulan mengalami regurgitasi.
- Mitos bahwa bayi ASI eksklusif lebih sering gumoh.
- ASI memiliki keunggulan.
Jakarta: Banyak orang tua langsung khawatir ketika melihat bayinya sering gumoh atau muntah setelah menyusu. Tak sedikit pula yang buru-buru menganggap kondisi tersebut sebagai GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) dan langsung mencari pengobatan.
Sedangkan hal itu adalah regurgitasi yang merupakan bagian dari proses tumbuh kembang bayi, terutama pada usia 0-6 bulan. Data menunjukkan sekitar 80% bayi usia 1 bulan mengalami regurgitasi, dan angka ini masih cukup tinggi hingga usia 6 bulan.
“Regurgitasi akan berkurang dengan sendirinya seiring bertambahnya usia. Pada usia 12 bulan, angkanya tinggal sekitar 5%, dan di usia 18 bulan hampir tidak ada,” jelas Prof. dr. Badriul Hegar, Sp.A,. Subsp. GH, Ph.D. dalam acara “POV: Regurgitasi, GER, dan GERD pada Anak dan Dampaknya terhadap Kesehatan” di Sutasoma Hotel at The Tribrata Dharmawangsa, Jakarta, Rabu (04/02/26).
Hal ini terjadi karena sistem pencernaan bayi, termasuk otot katup antara lambung dan kerongkongan (lower esophageal sphincter), belum matang sempurna. Seiring waktu, mekanisme tubuh bayi akan berkembang dan keluhan gumoh akan menghilang.
Dari sekian banyak bayi yang gumoh, Prof. Hegar menegaskan bahwa hanya sekitar 3-8% yang berkembang menjadi GERD. GERD berbeda dengan regurgitasi biasa karena sudah menimbulkan gangguan dan komplikasi, seperti:
1. Berat badan tidak naik.
2. Bayi tampak kesakitan atau sangat rewel.
3. Muntah disertai darah.
4. Gangguan makan.
5. Iritasi atau luka pada kerongkongan.
“GERD itu jarang. Jangan semua gumoh kita sebut GERD,” tegasnya.
Intervensi baru perlu dipertimbangkan bila:
1. Regurgitasi sangat berlebihan.
2. Muncul muntah lewat hidung.
3. Bayi tampak kesakitan atau sangat rewel.
4. Keluhan tidak membaik meski sudah dilakukan pengaturan posisi.
Selain soal susu, Prof. Hegar menekankan pentingnya pengaturan posisi, karena ini sering kali sudah cukup membantu tanpa obat.
1. Setelah menyusu, bayi diposisikan 45-60 derajat.
2. Tidak dianjurkan tengkurap, terutama saat ditinggal tidur, karena berisiko sindrom kematian mendadak.
3. Bayi boleh dimiringkan ke kanan selama 1 jam, lalu ke kiri 1 jam berikutnya.
4. Jika tengkurap, harus dalam pengawasan dan bayi dalam keadaan bangun.
“Tujuannya bukan menghilangkan regurgitasi sepenuhnya, tapi mencegah asam lambung naik dan masuk ke saluran napas,” jelasnya.
Prof. Hegar juga meluruskan mitos bahwa bayi ASI eksklusif lebih sering gumoh. Berdasarkan penelitian, hal tersebut tidak terbukti.
Justru ASI memiliki keunggulan, yaitu lebih cepat dikosongkan dari lambung dan risiko masuknya udara lebih kecil.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Sedangkan hal itu adalah regurgitasi yang merupakan bagian dari proses tumbuh kembang bayi, terutama pada usia 0-6 bulan. Data menunjukkan sekitar 80% bayi usia 1 bulan mengalami regurgitasi, dan angka ini masih cukup tinggi hingga usia 6 bulan.
“Regurgitasi akan berkurang dengan sendirinya seiring bertambahnya usia. Pada usia 12 bulan, angkanya tinggal sekitar 5%, dan di usia 18 bulan hampir tidak ada,” jelas Prof. dr. Badriul Hegar, Sp.A,. Subsp. GH, Ph.D. dalam acara “POV: Regurgitasi, GER, dan GERD pada Anak dan Dampaknya terhadap Kesehatan” di Sutasoma Hotel at The Tribrata Dharmawangsa, Jakarta, Rabu (04/02/26).
Hal ini terjadi karena sistem pencernaan bayi, termasuk otot katup antara lambung dan kerongkongan (lower esophageal sphincter), belum matang sempurna. Seiring waktu, mekanisme tubuh bayi akan berkembang dan keluhan gumoh akan menghilang.
Hanya 3-8% yang benar-benar GERD
Dari sekian banyak bayi yang gumoh, Prof. Hegar menegaskan bahwa hanya sekitar 3-8% yang berkembang menjadi GERD. GERD berbeda dengan regurgitasi biasa karena sudah menimbulkan gangguan dan komplikasi, seperti:
1. Berat badan tidak naik.
2. Bayi tampak kesakitan atau sangat rewel.
3. Muntah disertai darah.
4. Gangguan makan.
5. Iritasi atau luka pada kerongkongan.
“GERD itu jarang. Jangan semua gumoh kita sebut GERD,” tegasnya.
Kapan perlu intervensi?
Intervensi baru perlu dipertimbangkan bila:
1. Regurgitasi sangat berlebihan.
2. Muncul muntah lewat hidung.
3. Bayi tampak kesakitan atau sangat rewel.
4. Keluhan tidak membaik meski sudah dilakukan pengaturan posisi.
Posisi tidur dan menyusu sangat penting
Selain soal susu, Prof. Hegar menekankan pentingnya pengaturan posisi, karena ini sering kali sudah cukup membantu tanpa obat.
1. Setelah menyusu, bayi diposisikan 45-60 derajat.
2. Tidak dianjurkan tengkurap, terutama saat ditinggal tidur, karena berisiko sindrom kematian mendadak.
3. Bayi boleh dimiringkan ke kanan selama 1 jam, lalu ke kiri 1 jam berikutnya.
4. Jika tengkurap, harus dalam pengawasan dan bayi dalam keadaan bangun.
“Tujuannya bukan menghilangkan regurgitasi sepenuhnya, tapi mencegah asam lambung naik dan masuk ke saluran napas,” jelasnya.
Ingat! ASI eksklusif bukan penyebab gumoh lebih sering
Prof. Hegar juga meluruskan mitos bahwa bayi ASI eksklusif lebih sering gumoh. Berdasarkan penelitian, hal tersebut tidak terbukti.
Justru ASI memiliki keunggulan, yaitu lebih cepat dikosongkan dari lambung dan risiko masuknya udara lebih kecil.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)