FITNESS & HEALTH
PAPDI Ingatkan Dengue Tetap Jadi Masalah Serius untuk Anak dan Dewasa
Aulia Putriningtias
Jumat 06 Februari 2026 / 11:13
- Vaksinasi dengue kini dapat diberikan kepada kelompok usia 19 hingga 60 tahun.
- Lebih dari satu juta kasus rawat inap akibat dengue ditanggung oleh BPJS Kesehatan
- Gejala dengue pada dewasa dan anak cenderung mirip.
Jakarta: Musim hujan belum berakhir di Indonesia. Pergerakan nyamuk memungkinkan seseorang bisa terkena penyakit dengue tanpa pandang usia. Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam (PAPDI) mengimbau dengue masih jadi masalah serius.
Menurut dr. Fadjar SM Silalahi selaku Ketua Tim Kerja Penyakit Akibat Tular Vektor, Zoonotik, Gigitan Hewan Berbisa, dan Tanaman Beracun Kementerian Kesehatan, kasus dengue mengalami penurunan dari tahun 2024 ke 2025. Namun, ini bukan menjadi kesenangan, lantaran tetap kewaspadaan.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI, puncak kasus terjadi pada 2024 dengan 257.271 kasus dan 1.461 kematian. Sementara pada 2025, tercatat 161.752 kasus dengan 673 kematian yang tersebar di hampir seluruh wilayah Indonesia.
"Meskipun tahun ini meningkat, tetapi dikhawatirkan kembali naik, seperti polanya yang dialami," kata dr. Fadjar dalam temu media bertajuk Musim Hujan Risiko Dengue Meningkat: Saatnya Perkuat Perlindungan Jangka Panjang bagi Anak dan Dewasa di Jakarta, Rabu, 4 Februari 2026.

dr. Fadjar SM Silalahi selaku Ketua Tim Kerja Penyakit Akibat Tular Vektor, Zoonotik, Gigitan Hewan Berbisa, dan Tanaman Beracun Kementerian Kesehatan. Dok. Aulia/Medcom
Ketua Umum Pengurus Pusat PAPDI, Dr. dr. Eka Ginanjar, SpPD, K-KV, FINASIM, FACP, FICA, MARS, SH, menegaskan bahwa pencegahan harus menjadi fokus utama. Hal ini karena dengue bukan hanya persoalan klinis, tetapi juga tantangan kesehatan yang berdampak luas.
"Penyakit ini dapat terjadi sepanjang tahun, meski pada musim hujan risiko penularannya meningkat dan fasilitas kesehatan kembali berpotensi menghadapi lonjakan kasus," jelasnya.
Perlu diketahui bahwa penyakit dengue bisa menyerang siapa saja tanpa pandang usia. Menurut Dr. dr. Adityo Susilo, SpPD, K-P.T.I, FINASIM, gejala dengue pada dewasa dan anak cenderung mirip. Gejalanya mulai dari demam tinggi tiba-tiba, nyeri perut, mual dan muntah, pendarahan yang terlihat di kulit, dan rasa lemas yang hebat.
Hal ini juga disetujui oleh Prof. DR. dr. Hartono Gunardi, Sp.A, Subsp. TKPS, perihal gejala yang harus diwaspadai, terutama pada anak. Jika mengalami demam tinggi secara tiba-tiba, tak ada salahnya untuk segera membawa ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.
Pemerintah dan praktisi kesehatan menekankan bahwa pemberantasan sarang nyamuk melalui 3M Plus (menguras, menutup, mendaur ulang) tetap menjadi fondasi utama pencegahan. Namun, tak cukup hanya bermodalkan 3M saja.
Ketua Satgas Imunisasi Dewasa PP Papdi, Dr. dr. Sukamto Koesnoe, SpPD, K-AI, FINASIM, mengatakan bahwa vaksinasi diperlukan baik anak-anak maupun dewasa. Vaksinasi dengue kini dapat diberikan kepada kelompok usia 19 hingga 60 tahun.
Namun, Prof. Hartono mengatakan bahwa vaksinasi direkomendasikan bagi anak usia 4 hingga 18 tahun, sesuai dengan persetujuan BPOM terbaru yang akan dirilis pernyataan resminya di tahun ini. Hal ini mengingat angka kasus dan kematian akibat dengue juga banyak dialami anak-anak.
Dukungan sektor swasta juga menjadi kunci dalam upaya ini. Andreas Gutknecht, Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines, menyampaikan besarnya beban ekonomi yang ditimbulkan penyakit ini.
"Beban dengue di Indonesia sangat besar. Pada tahun 2024 saja, lebih dari satu juta kasus rawat inap akibat dengue ditanggung oleh BPJS Kesehatan, dengan biaya hampir tiga triliun rupiah. Angka ini belum mencakup besarnya beban emosional yang dialami keluarga terdampak serta konsekuensi apabila terjadi wabah," ujarnya.
Melalui kolaborasi antara edukasi medis, peran aktif masyarakat dalam 3M Plus, serta perlindungan tambahan melalui vaksinasi, diharapkan angka kesakitan dan kematian akibat dengue di Indonesia dapat terus ditekan secara berkelanjutan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Menurut dr. Fadjar SM Silalahi selaku Ketua Tim Kerja Penyakit Akibat Tular Vektor, Zoonotik, Gigitan Hewan Berbisa, dan Tanaman Beracun Kementerian Kesehatan, kasus dengue mengalami penurunan dari tahun 2024 ke 2025. Namun, ini bukan menjadi kesenangan, lantaran tetap kewaspadaan.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI, puncak kasus terjadi pada 2024 dengan 257.271 kasus dan 1.461 kematian. Sementara pada 2025, tercatat 161.752 kasus dengan 673 kematian yang tersebar di hampir seluruh wilayah Indonesia.
"Meskipun tahun ini meningkat, tetapi dikhawatirkan kembali naik, seperti polanya yang dialami," kata dr. Fadjar dalam temu media bertajuk Musim Hujan Risiko Dengue Meningkat: Saatnya Perkuat Perlindungan Jangka Panjang bagi Anak dan Dewasa di Jakarta, Rabu, 4 Februari 2026.

dr. Fadjar SM Silalahi selaku Ketua Tim Kerja Penyakit Akibat Tular Vektor, Zoonotik, Gigitan Hewan Berbisa, dan Tanaman Beracun Kementerian Kesehatan. Dok. Aulia/Medcom
Ketua Umum Pengurus Pusat PAPDI, Dr. dr. Eka Ginanjar, SpPD, K-KV, FINASIM, FACP, FICA, MARS, SH, menegaskan bahwa pencegahan harus menjadi fokus utama. Hal ini karena dengue bukan hanya persoalan klinis, tetapi juga tantangan kesehatan yang berdampak luas.
"Penyakit ini dapat terjadi sepanjang tahun, meski pada musim hujan risiko penularannya meningkat dan fasilitas kesehatan kembali berpotensi menghadapi lonjakan kasus," jelasnya.
Mengenali gejala dari dengue
Perlu diketahui bahwa penyakit dengue bisa menyerang siapa saja tanpa pandang usia. Menurut Dr. dr. Adityo Susilo, SpPD, K-P.T.I, FINASIM, gejala dengue pada dewasa dan anak cenderung mirip. Gejalanya mulai dari demam tinggi tiba-tiba, nyeri perut, mual dan muntah, pendarahan yang terlihat di kulit, dan rasa lemas yang hebat.
Hal ini juga disetujui oleh Prof. DR. dr. Hartono Gunardi, Sp.A, Subsp. TKPS, perihal gejala yang harus diwaspadai, terutama pada anak. Jika mengalami demam tinggi secara tiba-tiba, tak ada salahnya untuk segera membawa ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.
Strategis pencegahan komprehensif dengan melakukan 3M Plus dan vaksinasi
Pemerintah dan praktisi kesehatan menekankan bahwa pemberantasan sarang nyamuk melalui 3M Plus (menguras, menutup, mendaur ulang) tetap menjadi fondasi utama pencegahan. Namun, tak cukup hanya bermodalkan 3M saja.
Ketua Satgas Imunisasi Dewasa PP Papdi, Dr. dr. Sukamto Koesnoe, SpPD, K-AI, FINASIM, mengatakan bahwa vaksinasi diperlukan baik anak-anak maupun dewasa. Vaksinasi dengue kini dapat diberikan kepada kelompok usia 19 hingga 60 tahun.
Namun, Prof. Hartono mengatakan bahwa vaksinasi direkomendasikan bagi anak usia 4 hingga 18 tahun, sesuai dengan persetujuan BPOM terbaru yang akan dirilis pernyataan resminya di tahun ini. Hal ini mengingat angka kasus dan kematian akibat dengue juga banyak dialami anak-anak.
Dukungan sektor swasta juga menjadi kunci dalam upaya ini. Andreas Gutknecht, Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines, menyampaikan besarnya beban ekonomi yang ditimbulkan penyakit ini.
"Beban dengue di Indonesia sangat besar. Pada tahun 2024 saja, lebih dari satu juta kasus rawat inap akibat dengue ditanggung oleh BPJS Kesehatan, dengan biaya hampir tiga triliun rupiah. Angka ini belum mencakup besarnya beban emosional yang dialami keluarga terdampak serta konsekuensi apabila terjadi wabah," ujarnya.
Melalui kolaborasi antara edukasi medis, peran aktif masyarakat dalam 3M Plus, serta perlindungan tambahan melalui vaksinasi, diharapkan angka kesakitan dan kematian akibat dengue di Indonesia dapat terus ditekan secara berkelanjutan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)