Pemantauan tetap harus dilakukan meski hingga saat ini belum ditemukan kasus penyakit superflu di Jakarta. Sementara untuk kasus DBD, terjadi peningkatan kasus di Jakarta Barat dan Jakarta Utara.
“Saya sudah meminta kepada Dinas Kesehatan selalu memantau dua hal. Satu yang berkaitan dengan superflu, yang satu berkaitan dengan DBD,” kata Pramono, dikutip dari Antara, Selasa, 20 Januari 2026.
| Baca juga: Indonesia Mulai Uji Klinis Vaksin Dengue Satu Dosis, Libatkan 10.000 Partisipan |
Kendati demikian, Pramono meyakini Dinas Kesehatan sudah menangani kasus DBD dengan baik. Ditambah dengan fasilitas kesehatan yang dinilai sudah cukup memadai.
“Kalau DB saya yakin untuk penanganan di Jakarta sudah berjalan cukup baik. Apalagi fasilitas kita, hal yang berkaitan dengan DB, baik itu Puskesmas Pembantu, Puskesmas, Rumah Sakit, semuanya sudah ada untuk rujukannya,” ujarnya.
Sebelumnya, Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Barat (Jakbar), Sahruna, mengungkapkan tren kasus DBD di Jakbar menunjukkan peningkatan pada Oktober sampai Desember 2025. Sementara itu, tercatat ada 19 kasus DBD sampai 15 Januari 2026.
| Baca juga: Apa Itu Superflu? Ini Pengertian, Gejala dan Cara Mencegahnya |
“Untuk di Kalideres tiga kasus, Tambora dua kasus serta masing-masing satu kasus di Taman Sari, Grogol Petamburan dan Cengkareng. Sementara di Palmerah dilaporkan nihil kasus DBD,” ungkapnya.
Ia menyebut, berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kondisi iklim pada Januari 2026 bisa memicu perkembangan nyamuk Aedes Aegypti. Untuk itu, upaya pengendalian DBD terus dilakukan melalui pemantauan vektor atau jentik nyamuk dengan mengutamakan peran serta masyarakat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News