FITNESS & HEALTH

Kanker Bisa Sembuh? Menkes Bilang Kuncinya Ada di Deteksi Dini, Jangan Nanti-nanti!

Yatin Suleha
Kamis 05 Februari 2026 / 11:19
Ringkasnya gini..
  • Menurut Menkes, ketakutan untuk memeriksakan diri justru menjadi penghalang utama dalam penanganan kanker yang optimal.
  • Menkes Budi mengungkapkan masih adanya kesenjangan partisipasi. Dari target 40 juta orang, baru sekitar 4 juta yang datang untuk skrining.
  • Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) Linda Agum Gumelar mengapresiasi upaya pemerintah dalam menyediakan alat skrining hingga ke pelosok.
Jakarta: Kanker bukan lagi vonis menakutkan jika ditemukan sejak dini. Dengan kemajuan teknologi medis saat ini, tingkat kesembuhan kanker tergolong tinggi, selama masyarakat berani melakukan deteksi dini.

Hal tersebut ditegaskan Menteri Kesehatan RI Budi G. Sadikin saat membuka puncak peringatan Hari Kanker Sedunia di SQuare One Function Cilandak, Jakarta Selatan, Selasa (4/2). 

Menurut Menkes, ketakutan untuk memeriksakan diri justru menjadi penghalang utama dalam penanganan kanker yang optimal.
 
“Kanker bisa disembuhkan, sama seperti penyakit lainnya. Masyarakat tidak perlu takut untuk memeriksakan diri. Jika diketahui di stadium satu, kesembuhan sangat mungkin terjadi. Apalagi dengan kecanggihan teknologi saat ini, harapan kesembuhan juga semakin tinggi,” ujar Menkes Budi.
 

Beban ekonomi kanker dan urgensi deteksi dini



(“Dari 4 juta yang diskrining, ditemukan sekitar 1.700 kasus kanker yang membutuhkan pengobatan. Mayoritas kasus ini berpotensi selamat jika ditangani segera,” terang Menkes. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)

Senada dengan Menkes, Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Murti Utami yang biasa disapa Ami, memaparkan data yang menunjukkan urgensi deteksi dini kanker. Ia menyebutkan, 70 persen kematian akibat kanker di Indonesia disebabkan oleh keterlambatan penanganan.

“Terdapat sekitar 400 ribu kasus baru setiap tahunnya. Ini bukan sekadar angka, melainkan tentang masa depan keluarga yang terdampak. Saat ini, kanker payudara dan kanker leher rahim (serviks) masih menjadi beban tertinggi,” jelas Ami.

Kanker, lanjut Ami, termasuk penyakit katastropik dengan pembiayaan tinggi. Tercatat, anggaran sebesar Rp5,9 triliun dikeluarkan negara untuk perawatan kanker. “Beban ini tidak hanya dirasakan oleh negara, tetapi juga berdampak secara ekonomi pada masyarakat,” katanya.

Untuk menekan angka kematian dan pembiayaan tersebut, Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) meluncurkan Rencana Aksi Nasional (RAN) Kanker Payudara. 

Melalui program Cek Kesehatan Gratis yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto, pemerintah menargetkan skrining terhadap 40 juta perempuan berusia di atas 30 tahun.

Namun, Menkes Budi mengungkapkan masih adanya kesenjangan partisipasi. Dari target 40 juta orang, baru sekitar 4 juta yang datang untuk skrining. Masalah utamanya adalah rasa takut dan penyangkalan (denial) di masyarakat.

“Dari 4 juta yang diskrining, ditemukan sekitar 1.700 kasus kanker yang membutuhkan pengobatan. Mayoritas kasus ini berpotensi selamat jika ditangani segera. Mari kita dorong seluruh sasaran untuk datang ke Puskesmas, jangan menunggu sakit,” tegas Menkes.
 
Pada kesempatan yang sama, Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) Linda Agum Gumelar mengapresiasi upaya pemerintah dalam menyediakan alat skrining hingga ke pelosok. Sebagai penyintas kanker, Linda menjadi bukti hidup pentingnya deteksi dini.

“Saya mengajak seluruh perempuan Indonesia untuk datang ke Puskesmas terdekat. Jika kanker payudara ditemukan pada tahap awal dan diobati secara medis, Anda pasti akan sehat kembali. Saya adalah buktinya,” pungkas Linda.


Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(TIN)

MOST SEARCH