FITNESS & HEALTH

Apakah Kanker Bisa Menurun dari Orang Tua? Begini Penjelasan YKI

Fatha Annisa
Rabu 04 Februari 2026 / 17:21
Jakarta: Kasus kanker yang muncul dalam satu keluarga sering memunculkan kekhawatiran sekaligus pertanyaan besar di masyarakat. Apakah kanker benar-benar bisa diwariskan?
 
Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia (YKI), Prof. DR. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, SpPD-KHOM, FINASIM, FACP, menjelaskan anggapan “kanker menurun” perlu dipahami. Menurutnya, ada dua istilah penting yang harus dibedakan, yakni hereditary dan familiar.
 
“Hereditary artinya seorang ibu atau wanita sudah membawa gen untuk anaknya sejak dalam kandungan. Itu namanya hereditary, dan jumlahnya hanya sekitar 6 sampai 8 persen,” jelas Prof. Aru dalam pameran seni bertajuk “Understanding Cancer Through Art” di Jakarta, Rabu, 4 Februari 2026.
 
Artinya, kanker yang benar-benar diturunkan lewat faktor genetik hanya terjadi pada sebagian kecil kasus. Sebagian besar kasus kanker tidak sepenuhnya diwariskan melalui gen.
 
Baca juga: YKI: Faktor Risiko Kanker 90 Persen Berasal dari Lingkungan

 
Namun, Prof. Aru menekankan bahwa yang lebih sering terjadi adalah familiar. Dalam satu keluarga, bisa saja jumlah penderita kanker lebih banyak dibanding keluarga lain, bukan semata-mata karena gen, tetapi karena faktor lingkungan dan kebiasaan hidup yang sama sejak kecil.
 
“Dia tidak menurunkan secara langsung, tapi anaknya tetap punya kemungkinan dua kali lipat lebih besar terkena kanker dibanding orang lain yang orang tuanya tidak punya riwayat,” ujarnya.
 
Karena itu, riwayat kanker dalam keluarga tetap menjadi sinyal penting untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama dalam hal deteksi dini. Prof. Aru menyarankan pemeriksaan kesehatan dilakukan lebih awal jika ada anggota keluarga yang pernah menderita kanker.

 
Baca juga: Hari Kanker Sedunia 2026: Sejarah, Tema, dan Makna

 
“Biasanya umur 45 tahun sudah harus mulai check up. Tapi kalau ibunya punya riwayat kanker, check up-nya harus sejak 35 tahun,” jelasnya.
 
Menurutnya, pencegahan jauh lebih baik daripada pengobatan. Ia juga menegaskan bahwa kebiasaan dalam keluarga, mulai dari pola makan, gaya hidup, hingga lingkungan sehari-hari, justru lebih besar pengaruhnya dibanding faktor keturunan murni.
 
“Banyak orang bilang ini gara-gara turunan, padahal tidak. Ada chance, tapi kecil sekali persentasenya. Yang lebih besar pengaruhnya adalah pola hidup dan habit dalam satu keluarga,” tutupnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(PRI)

MOST SEARCH