Sampah plastik: Ilustrasi/Medcom
Sampah plastik: Ilustrasi/Medcom

Duh! Bakar Plastik buat Goreng Makanan Ternyata Bisa Picu Kanker, Ini Kata Pakar IPB

Citra Larasati • 04 Februari 2026 17:24
Ringkasnya gini..
  • Mencuat praktik di sejumlah industri makanan yang memanfaatkan limbah plastik sebagai bahan bakar dalam proses penggorengan.
  • Emisi gas hasil pembakaran plastik dapat mengontaminasi produk selama proses produksi.
  • Organ yang paling rentan terdampak adalah hati atau hepar.
Jakarta:  Permasalahan sampah plastik hingga kini masih menjadi tantangan serius. Di tengah upaya mencari solusi yang dinilai lebih murah dan praktis, sempat mencuat praktik di sejumlah industri makanan yang memanfaatkan limbah plastik sebagai bahan bakar dalam proses penggorengan.
 
Menurut dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, Benedikta Diah Saraswati, SSi, MBiomed, praktik tersebut berpotensi menimbulkan risiko kesehatan karena dapat menghasilkan berbagai senyawa berbahaya yang mencemari produk pangan sekaligus lingkungan di sekitar sentra industri.
 
Emisi gas hasil pembakaran plastik dapat mengontaminasi produk selama proses produksi. “Plastik yang dibakar secara tidak sempurna akan melepaskan senyawa beracun yang sangat stabil, terutama dioksin dan furan. Karena sifatnya lipofilik, senyawa ini mudah berikatan dengan lemak dan protein sehingga berpotensi terakumulasi dalam produk pangan,” ujar Diah dalam siaran persnya, dikutip rabu, 4 Februari 2026.

Secara biomedis, dioksin dan furan termasuk dalam kelompok polutan organik persisten yang dapat bertahan sangat lama di dalam tubuh manusia. Diah menjelaskan bahwa paparan jangka panjang bersifat genotoksik karena mampu merusak DNA.  “Akumulasi dalam jangka waktu lama dapat memicu peradangan kronis, gangguan fungsi hati, gangguan sistem hormon, serta meningkatkan risiko kanker,” jelasnya.
 
Diah menambahkan, kontaminan tersebut dapat masuk ke dalam tubuh melalui konsumsi makanan yang terpapar. Selain senyawa kimia beracun, aktivitas pembakaran plastik juga berkontribusi terhadap peningkatan paparan mikroplastik di udara, yang dapat terhirup atau mengendap pada bahan pangan. Partikel berukuran sangat kecil ini berpotensi masuk ke saluran pernapasan atau pencernaan dan menyebar ke berbagai organ tubuh.

Hati: Organ Paling Rentan

Organ yang paling rentan terdampak adalah hati atau hepar. “Hati bekerja keras untuk mendetoksifikasi racun. Namun, karena struktur kimia dioksin dan furan sangat stabil dan sulit diurai, justru terjadi beban kerja berlebih yang memicu peradangan,” katanya.
 
Selain itu, senyawa-senyawa tersebut juga dikenal sebagai endocrine disrupting chemicals (EDC) yang dapat mengganggu sistem hormon. Diah menegaskan bahwa zat ini mampu meniru atau menghambat kerja hormon alami tubuh, sehingga berisiko mengacaukan sistem reproduksi dan metabolisme. 
 
Bahkan, paparan dapat menembus sawar plasenta. “Artinya, pada ibu hamil, zat ini berpotensi terakumulasi dan mengganggu perkembangan janin,” ujarnya.
 
Risiko kesehatan tidak hanya dialami oleh konsumen, tetapi juga masyarakat yang tinggal di sekitar sentra industri. Menurut Diah, asap pembakaran plastik mengandung partikel halus PM2,5 serta mikroplastik di udara yang dapat terhirup hingga ke paru-paru. “Partikel ini sulit diurai oleh sistem pertahanan tubuh dan dapat memicu peradangan secara terus-menerus,” jelasnya.
 
Baca juga:  95 Persen Dunia Mikroba Masih Misteri! Profesor IPB Bilang, Harta Karun RI Bukan Cuma Rempah

Dalam jangka pendek, paparan tersebut dapat menyebabkan gangguan pernapasan seperti batuk dan infeksi saluran pernapasan akut. Jika berlangsung dalam waktu lama, kondisi ini berpotensi berkembang menjadi penyakit paru kronis seperti asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), serta menurunkan daya tahan tubuh, terutama pada anak-anak dan lansia.
 
Diah menegaskan, langkah paling penting untuk menekan risiko kesehatan adalah menghentikan penggunaan limbah plastik sebagai bahan bakar. “Selama sumber polusi masih ada, risiko kesehatan akan terus berulang,” tegasnya.
 
Sebagai langkah perlindungan mandiri, ia menyarankan masyarakat menggunakan masker respirator seperti N95 saat terpapar asap, menjaga ventilasi rumah, menghindari penggunaan plastik untuk makanan panas, serta memperbanyak konsumsi buah dan sayur yang kaya antioksidan seperti vitamin E, vitamin C, dan selenium. 
 
“Asupan ini dapat membantu tubuh melawan kerusakan sel akibat radikal bebas dari kontaminan plastik, meskipun tidak sepenuhnya menghilangkan risiko,” pungkasnya.
 
Baca juga:  Hari Kanker Sedunia 2026: Sejarah, Tema, dan Makna

 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan