FITNESS & HEALTH
ASI Rembes Hingga Mood Swing Parah, Sisi Lain Menyusui yang Jarang Dispill
Yatin Suleha
Selasa 03 Maret 2026 / 14:58
- Banyak ibu menyusui mengalami kebocoran ASI ketika payudara terlalu penuh
- Itu juga bisa terjadi saat refleks letdown terjadi tiba-tiba.
- Kebocoran sering terjadi pada pagi hari ketika produksi ASI sedang tinggi.
Jakarta: Selain masalah fisik yang terlihat jelas, ada juga tantangan menyusui yang jarang dibicarakan tetapi cukup sering terjadi. Salah satunya adalah 'payudara bocor'.
Banyak ibu menyusui mengalami kebocoran ASI ketika payudara terlalu penuh atau saat refleks letdown terjadi tiba-tiba.
Bahkan, hanya dengan mendengar bayi menangis atau memikirkan bayi saja bisa memicu keluarnya ASI karena hormon oksitosin mulai bekerja.
Kebocoran sering terjadi pada pagi hari ketika produksi ASI sedang tinggi atau saat menyusui di satu sisi sehingga sisi lainnya ikut mengeluarkan ASI. Bantalan menyusui atau pompa silikon dapat membantu mengatasi situasi ini.
Dilansir dari BabyCenter, ada pula kondisi yang dikenal sebagai D-MER atau refleks pengeluaran ASI yang tidak nyaman. Kondisi ini terjadi akibat penurunan dopamin pada awal pengeluaran ASI.
D-MER menyebabkan berbagai perasaan, seperti kesedihan, kecemasan, panik, dan marah.
Perasaan ini biasanya hilang begitu ASI mulai mengalir. Bagi sebagian ibu, gejala hanya ringan dan sementara, tetapi pada sebagian lainnya bisa terasa berat dan berlangsung lama.
Mengetahui bahwa kondisi ini nyata dan dialami banyak ibu dapat membantu mengurangi rasa bersalah atau bingung.
(2).jpg)
(ASI bocor atau merembes umumnya terjadi karena produksi ASI yang melimpah (hiperlaktasi), refleks pelepasan ASI (let-down reflex) yang aktif, atau payudara terlalu penuh. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Infeksi jamur atau thrush juga perlu diwaspadai. Pada bayi, tanda-tandanya berupa bercak putih di mulut yang tidak bisa dibersihkan dan ruam popok.
Pada ibu, gejala bisa berupa puting berwarna merah muda mengkilap, bersisik, retak, serta rasa gatal atau nyeri menusuk di dalam payudara.
Karena infeksi dapat saling menular, ibu dan bayi perlu diobati bersamaan menggunakan krim antijamur atau obat oral jika diperlukan.
Sebagian ibu juga mengaitkan makanan tertentu dengan bayi yang tampak kembung atau rewel. Meski bukti ilmiah langsung masih terbatas, tidak ada salahnya mencoba menghindari makanan tertentu untuk melihat apakah ada perubahan.
Menyusui memang perjalanan penuh dinamika. Dukungan dari dokter, konsultan laktasi, serta lingkungan sekitar sangat membantu menghadapi setiap tantangan yang muncul. Dengan informasi yang tepat, perjalanan menyusui bisa tetap terasa bermakna dan membahagiakan.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(TIN)
Banyak ibu menyusui mengalami kebocoran ASI ketika payudara terlalu penuh atau saat refleks letdown terjadi tiba-tiba.
Bahkan, hanya dengan mendengar bayi menangis atau memikirkan bayi saja bisa memicu keluarnya ASI karena hormon oksitosin mulai bekerja.
Kebocoran sering terjadi pada pagi hari ketika produksi ASI sedang tinggi atau saat menyusui di satu sisi sehingga sisi lainnya ikut mengeluarkan ASI. Bantalan menyusui atau pompa silikon dapat membantu mengatasi situasi ini.
Baca Juga :
Jumlah ASI yang Harus Dikonsumsi oleh Newborn
Dilansir dari BabyCenter, ada pula kondisi yang dikenal sebagai D-MER atau refleks pengeluaran ASI yang tidak nyaman. Kondisi ini terjadi akibat penurunan dopamin pada awal pengeluaran ASI.
D-MER menyebabkan berbagai perasaan, seperti kesedihan, kecemasan, panik, dan marah.
Perasaan ini biasanya hilang begitu ASI mulai mengalir. Bagi sebagian ibu, gejala hanya ringan dan sementara, tetapi pada sebagian lainnya bisa terasa berat dan berlangsung lama.
Mengetahui bahwa kondisi ini nyata dan dialami banyak ibu dapat membantu mengurangi rasa bersalah atau bingung.
(2).jpg)
(ASI bocor atau merembes umumnya terjadi karena produksi ASI yang melimpah (hiperlaktasi), refleks pelepasan ASI (let-down reflex) yang aktif, atau payudara terlalu penuh. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Infeksi jamur atau thrush juga perlu diwaspadai. Pada bayi, tanda-tandanya berupa bercak putih di mulut yang tidak bisa dibersihkan dan ruam popok.
Pada ibu, gejala bisa berupa puting berwarna merah muda mengkilap, bersisik, retak, serta rasa gatal atau nyeri menusuk di dalam payudara.
Karena infeksi dapat saling menular, ibu dan bayi perlu diobati bersamaan menggunakan krim antijamur atau obat oral jika diperlukan.
Baca Juga :
Upaya Mempermudah Proses Donasi ASI Secara Aman
Sebagian ibu juga mengaitkan makanan tertentu dengan bayi yang tampak kembung atau rewel. Meski bukti ilmiah langsung masih terbatas, tidak ada salahnya mencoba menghindari makanan tertentu untuk melihat apakah ada perubahan.
Menyusui memang perjalanan penuh dinamika. Dukungan dari dokter, konsultan laktasi, serta lingkungan sekitar sangat membantu menghadapi setiap tantangan yang muncul. Dengan informasi yang tepat, perjalanan menyusui bisa tetap terasa bermakna dan membahagiakan.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(TIN)