FITNESS & HEALTH

Spirit Kartini: Kemenkes Satset Pakai Teknologi Buat Deteksi Dini Preeklamsia

Yatin Suleha
Rabu 22 April 2026 / 11:00
Ringkasnya gini..
  • Bertepatan dengan peringatan Hari Kartini, Kemenkes makin serius tekan angka kematian ibu di Indonesia.
  • Komitmen ini ditunjukkan lewat acara Sosialisasi dan Deteksi Dini Preeklamsia yang diadakan di Gedung Kemenkes.
  • Enggak cuma di Jakarta, acara ini juga terhubung langsung sama pemeriksaan serentak di Kabupaten Garut, tepatnya di Puskesmas Cikelabs dan Cikajang.
Jakarta: Bertepatan dengan peringatan Hari Kartini, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) makin serius nih menekan angka kematian ibu di Indonesia. Salah satu langkah strategisnya adalah memperkuat deteksi dini preeklamsia dengan bantuan teknologi.

Komitmen ini ditunjukkan lewat acara Sosialisasi dan Deteksi Dini Preeklamsia yang diadakan di Gedung Kemenkes, Jakarta, Selasa (21/4). Seru banget, soalnya ada lebih dari 150 peserta yang ikut, termasuk ibu-ibu hamil dari berbagai Puskesmas di Jakarta. 

Enggak cuma di Jakarta, acara ini juga terhubung langsung sama pemeriksaan serentak di Kabupaten Garut, tepatnya di Puskesmas Cikelabs dan Cikajang.
 
Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, menegaskan bahwa pemerintah menargetkan penurunan AKI secara agresif hingga mencapai 40 per 100.000 kelahiran hidup dalam 5 tahun ke depan. 

Upaya ini didukung transformasi sistem kesehatan, termasuk pemerataan akses deteksi dini melalui distribusi alat kesehatan.

“Kita tidak hanya menargetkan penurunan, tetapi penurunan yang agresif. Dari 140, dalam lima tahun ke depan kita harus bisa mencapai 40. Kita harus berani menetapkan target ambisius dan bekerja lebih keras, lebih cerdas, serta lebih tepat,” ujar Budi Gunadi Sadikin.

Saat ini, angka kematian ibu di Indonesia masih berada pada 140 per 100.000 kelahiran hidup, lebih tinggi dibandingkan Thailand dan Malaysia. Preeklamsia dan eklamsia menjadi penyebab kematian ibu terbesar kedua, dengan kontribusi sekitar 25 persen dari total kasus.


(Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, menegaskan bahwa pemerintah menargetkan penurunan AKI secara agresif. Foto: Dok. Birkom Kemenkes) 

Sebagai respons, Kemenkes bersama mitra strategis, seperti Queenrides, Telecheksam Indonesia, dan Indonesia Prenatal Institute, menghadirkan inovasi deteksi dini berbasis Internet of Medical Things (IoMT) dan kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan kualitas skrining.

Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas, Maria Endang Sumiwi, menjelaskan bahwa inovasi tersebut kini dilengkapi dengan pemeriksaan ultrasonografi (USG) pada arteri uterina dan arteri oftalmik guna meningkatkan akurasi deteksi.

“Dari hasil awal yang sudah dilakukan, tingkat deteksi meningkat hingga 50 persen. Jika sebelumnya dari empat kasus terdeteksi, dengan tambahan USG ini bisa menjadi enam kasus. Inovasi ini sangat kami sambut baik untuk memperkuat deteksi dini preeklamsia,” ujar Maria Endang Sumiwi.

CEO Queenrides, Iim Fahima Jachya, nambahin sudut pandang yang menarik nih. Ternyata, urusan preeklamsia itu bukan cuma masalah kesehatan di rumah sakit aja, tapi juga soal seberapa mudah kita bisa akses teknologi kesehatan dan gimana sistemnya berjalan buat melindungi para ibu.
 
“Satu fakta yang tidak banyak diketahui, Ibu Kartini meninggal karena preeklamsia, dan itu terjadi satu abad lalu. Hingga hari ini, preeklamsia masih menjadi penyebab kematian terbesar kedua pada ibu hamil di Indonesia. Ini bukan sekadar isu kesehatan, tetapi juga isu sistem dan teknologi yang harus terus diperbaiki untuk melindungi masa depan,” ujar Iim Fahima Jachya.

Biar kesehatan ibu lebih terjamin, Kemenkes sudah menyebar alat USG ke 10.000 puskesmas se-Indonesia sejak 2022. Langkah ini diambil supaya deteksi dini bisa dilakukan siapa aja dan di mana aja, enggak terbatas di wilayah perkotaan doang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(TIN)

MOST SEARCH