FITNESS & HEALTH
Demi Indonesia Sehat, Kemenkes Genjot Transformasi Layanan Kesehatan Dasar Lewat ILP
Yatin Suleha
Selasa 04 Agustus 2026 / 07:05
- menkes bilang, kalau perubahan besar di dunia kesehatan kita harus dimulai dari memperkuat layanan kesehatan paling dasar.
- Melalui Integrasi Pelayanan Kesehatan Primer (Integrasi Layanan Primer/ILP), puskesmas kini mereformasi layanannya.
- Dari yang semula berbasis penyakit (disease-based) menjadi berpusat pada masyarakat berdasarkan siklus hidup (life cycle-based).
Jakarta: Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin bilang, kalau perubahan besar di dunia kesehatan kita harus dimulai dari memperkuat layanan kesehatan paling dasar terlebih dahulu.
Melalui Integrasi Pelayanan Kesehatan Primer (Integrasi Layanan Primer/ILP), puskesmas kini mereformasi layanannya dari yang semula berbasis penyakit (disease-based) menjadi berpusat pada masyarakat berdasarkan siklus hidup (life cycle-based).
Pernyataan itu disampaikan Menkes Budi pas lagi buka Leimena Conference 2026 di Auditorium Widya Graha BRIN, Jakarta, akhir Juli lalu.
“ILP merupakan reformasi penting. Melalui ILP, masyarakat tidak lagi dilayani secara terpisah-pisah berdasarkan program penyakit, tetapi mendapatkan layanan yang lebih terintegrasi sesuai kebutuhan dan tahap kehidupannya mulai dari balita, usia produktif, hingga lanjut usia,” ujar Menkes Budi.
Kata Menkes Budi, perubahan ini penting banget karena struktur penduduk kita terus berkembang. Jadi, Puskesmas sekarang enggak cuma fokus ke balita saja, tapi juga wajib memastikan semua kelompok usia tetap sehat dan produktif.
Sistem kesehatan yang bagus itu enggak cuma diukur dari seberapa jago kita menyembuhkan orang sakit, tapi dari kemampuan kita menjaga masyarakat supaya tetap sehat lewat pencegahan dan edukasi dini.
Komitmen perubahan ini kelihatan banget dari perkembangan penerapan ILP yang masif di lapangan.
Berdasarkan data Kemenkes per 24 Juli 2026, sudah ada 9.000 Puskesmas di seluruh Indonesia yang menerapkan ILP, dan 7.508 di antaranya sudah berstatus BLUD (Badan Layanan Umum Daerah).
Kemenkes juga makin serius ningkatin kemampuan para kader kesehatan dengan ngasih tanda kecakapan buat mereka yang punya 25 keterampilan dasar. Keterampilan ini dibagi jadi 3 tingkatan, yaitu Purwa, Madya, dan Utama.
Buat kader tingkat Purwa, mereka wajib nguasai 2 kompetensi dasar soal pengelolaan Posyandu dan pelayanan balita, ditambah 1 kemampuan dasar pilihan.
Kalau kader Madya, harus menguasai 3 kompetensi dasar soal pengelolaan Posyandu, pelayanan balita, ibu hamil, dan ibu menyusui, plus 1 kemampuan dasar pilihan.
Nah, kalau kader tingkat Utama, mereka wajib nguasai seluruh kompetensi dasar mulai dari pengelolaan Posyandu sampai pelayanan buat semua kelompok usia dari lahir sampai tua.

(Transformasi kesehatan dimulai dari puskesmas yang melayani seluruh siklus hidup masyarakat. Foto: Dok. Birkom Kemenkes)
Penguatan layanan ini juga ditopang oleh keberadaan 156.811 posyandu siklus hidup yang aktif di tingkat masyarakat. Peran ini digerakkan oleh 1.585.254 kader posyandu bidang kesehatan.
Dari jumlah tersebut, ratusan ribu kader telah tersertifikasi keterampilan, rinciannya:
- 371.103 kader (23,41%) berstatus Purwa (menguasai 3 kecakapan)
- 160.923 kader (10,15%) berstatus Madya (menguasai 4 kecakapan), dan
- 101.961 kader (6,43%) berstatus Utama (menguasai 5 kecakapan)
Leimena Conference 2026, yang mengusung tema "Melalui ILP: Memperkuat Puskesmas, Melayani Masyarakat," diselenggarakan oleh Kemenkes melalui Primary Health Care (PHC) Consortium bekerja sama dengan BRIN dan Pemerintah Australia.
Nama konferensi ini diambil sebagai bentuk penghormatan kepada Johannes Leimena, Bapak Puskesmas Indonesia, pengonsep Bandung Plan pada tahun 1951.
Kepala BRIN, Arif Satria, menekankan bahwa tantangan kesehatan masa kini memerlukan solusi berbasis riset dan inovasi keilmuan.
"Forum ilmiah seperti Leimena Conference menjadi ruang penting untuk mempertemukan pengetahuan dengan implementasi di lapangan agar kebijakan yang dirumuskan relevan dengan kebutuhan masyarakat," tuturnya.
Dukungan serupa disampaikan Duta Besar Australia untuk Indonesia, Rod Brazier. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan transformasi layanan kesehatan primer sangat bergantung pada sumber daya manusia.
“Ketika kita berbicara tentang pelayanan kesehatan primer, fokus kita sering tertuju pada kebijakan atau anggaran. Namun esensinya, layanan kesehatan primer adalah tentang manusia; para dokter, perawat, bidan, dan kader yang dipercaya oleh masyarakat setempat,” ucap Brazier.
Antusiasme terhadap inovasi kesehatan primer terlihat dari tingginya animo peserta Leimena Conference tahun ini.
Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes, Maria Endang Sumiwi, melaporkan panitia menerima 698 abstrak, di mana 537 di antaranya lolos untuk dipresentasikan.
"Leimena Conference menjadi ruang bersama untuk mendokumentasikan, mendiseminasikan, dan memperkuat praktik-praktik baik dari berbagai daerah. Ini sangat bermanfaat bagi perluasan transformasi pelayanan kesehatan primer di Indonesia," jelas Endang.
Leimena Conference 2026 juga menghadirkan Regional Policy Dialogue on Primary Health Care berskala internasional, serta sesi Leaders Talk yang mempertemukan para kepala daerah untuk berbagi strategi penguatan layanan kesehatan primer di wilayah masing-masing.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(TIN)
Melalui Integrasi Pelayanan Kesehatan Primer (Integrasi Layanan Primer/ILP), puskesmas kini mereformasi layanannya dari yang semula berbasis penyakit (disease-based) menjadi berpusat pada masyarakat berdasarkan siklus hidup (life cycle-based).
Pernyataan itu disampaikan Menkes Budi pas lagi buka Leimena Conference 2026 di Auditorium Widya Graha BRIN, Jakarta, akhir Juli lalu.
“ILP merupakan reformasi penting. Melalui ILP, masyarakat tidak lagi dilayani secara terpisah-pisah berdasarkan program penyakit, tetapi mendapatkan layanan yang lebih terintegrasi sesuai kebutuhan dan tahap kehidupannya mulai dari balita, usia produktif, hingga lanjut usia,” ujar Menkes Budi.
Kata Menkes Budi, perubahan ini penting banget karena struktur penduduk kita terus berkembang. Jadi, Puskesmas sekarang enggak cuma fokus ke balita saja, tapi juga wajib memastikan semua kelompok usia tetap sehat dan produktif.
Sistem kesehatan yang bagus itu enggak cuma diukur dari seberapa jago kita menyembuhkan orang sakit, tapi dari kemampuan kita menjaga masyarakat supaya tetap sehat lewat pencegahan dan edukasi dini.
Komitmen perubahan ini kelihatan banget dari perkembangan penerapan ILP yang masif di lapangan.
Berdasarkan data Kemenkes per 24 Juli 2026, sudah ada 9.000 Puskesmas di seluruh Indonesia yang menerapkan ILP, dan 7.508 di antaranya sudah berstatus BLUD (Badan Layanan Umum Daerah).
Kemenkes juga makin serius ningkatin kemampuan para kader kesehatan dengan ngasih tanda kecakapan buat mereka yang punya 25 keterampilan dasar. Keterampilan ini dibagi jadi 3 tingkatan, yaitu Purwa, Madya, dan Utama.
Buat kader tingkat Purwa, mereka wajib nguasai 2 kompetensi dasar soal pengelolaan Posyandu dan pelayanan balita, ditambah 1 kemampuan dasar pilihan.
Kalau kader Madya, harus menguasai 3 kompetensi dasar soal pengelolaan Posyandu, pelayanan balita, ibu hamil, dan ibu menyusui, plus 1 kemampuan dasar pilihan.
Nah, kalau kader tingkat Utama, mereka wajib nguasai seluruh kompetensi dasar mulai dari pengelolaan Posyandu sampai pelayanan buat semua kelompok usia dari lahir sampai tua.

(Transformasi kesehatan dimulai dari puskesmas yang melayani seluruh siklus hidup masyarakat. Foto: Dok. Birkom Kemenkes)
Penguatan layanan ini juga ditopang oleh keberadaan 156.811 posyandu siklus hidup yang aktif di tingkat masyarakat. Peran ini digerakkan oleh 1.585.254 kader posyandu bidang kesehatan.
Dari jumlah tersebut, ratusan ribu kader telah tersertifikasi keterampilan, rinciannya:
- 371.103 kader (23,41%) berstatus Purwa (menguasai 3 kecakapan)
- 160.923 kader (10,15%) berstatus Madya (menguasai 4 kecakapan), dan
- 101.961 kader (6,43%) berstatus Utama (menguasai 5 kecakapan)
Leimena Conference 2026, yang mengusung tema "Melalui ILP: Memperkuat Puskesmas, Melayani Masyarakat," diselenggarakan oleh Kemenkes melalui Primary Health Care (PHC) Consortium bekerja sama dengan BRIN dan Pemerintah Australia.
Nama konferensi ini diambil sebagai bentuk penghormatan kepada Johannes Leimena, Bapak Puskesmas Indonesia, pengonsep Bandung Plan pada tahun 1951.
Kepala BRIN, Arif Satria, menekankan bahwa tantangan kesehatan masa kini memerlukan solusi berbasis riset dan inovasi keilmuan.
"Forum ilmiah seperti Leimena Conference menjadi ruang penting untuk mempertemukan pengetahuan dengan implementasi di lapangan agar kebijakan yang dirumuskan relevan dengan kebutuhan masyarakat," tuturnya.
Dukungan serupa disampaikan Duta Besar Australia untuk Indonesia, Rod Brazier. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan transformasi layanan kesehatan primer sangat bergantung pada sumber daya manusia.
“Ketika kita berbicara tentang pelayanan kesehatan primer, fokus kita sering tertuju pada kebijakan atau anggaran. Namun esensinya, layanan kesehatan primer adalah tentang manusia; para dokter, perawat, bidan, dan kader yang dipercaya oleh masyarakat setempat,” ucap Brazier.
Antusiasme terhadap inovasi kesehatan primer terlihat dari tingginya animo peserta Leimena Conference tahun ini.
Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes, Maria Endang Sumiwi, melaporkan panitia menerima 698 abstrak, di mana 537 di antaranya lolos untuk dipresentasikan.
"Leimena Conference menjadi ruang bersama untuk mendokumentasikan, mendiseminasikan, dan memperkuat praktik-praktik baik dari berbagai daerah. Ini sangat bermanfaat bagi perluasan transformasi pelayanan kesehatan primer di Indonesia," jelas Endang.
Leimena Conference 2026 juga menghadirkan Regional Policy Dialogue on Primary Health Care berskala internasional, serta sesi Leaders Talk yang mempertemukan para kepala daerah untuk berbagi strategi penguatan layanan kesehatan primer di wilayah masing-masing.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(TIN)