FITNESS & HEALTH
Perkuat Sektor Kesehatan, Menkes Minta Para Pemimpin Fokus di Integritas & Eksekusi Nyata
Yatin Suleha
Selasa 29 September 2026 / 08:05
- Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin baru aja resmi membuka acara Health Leadership Course digelar oleh Asian Development Bank (ADB) di Jakarta, Senin (28/9).
- Pelatihan yang diikuti lebih dari 60 peserta dari tujuh negara di Asia Tenggara ini bertujuan buat memperkuat kapasitas kepemimpinan mereka.
- Di kesempatan itu, Menkes Budi membagikan beberapa prinsip kepemimpinan penting buat para calon pemimpin kesehatan masa depan.
Jakarta: Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin baru aja resmi membuka acara Health Leadership Course yang digelar oleh Asian Development Bank (ADB) di Jakarta, Senin (28/9).
Pelatihan yang diikuti lebih dari 60 peserta dari tujuh negara di Asia Tenggara ini bertujuan buat memperkuat kapasitas kepemimpinan mereka, biar makin siap menghadapi tantangan sekaligus mendorong reformasi sistem kesehatan di kawasan.
Di kesempatan itu, Menkes Budi membagikan beberapa prinsip kepemimpinan penting buat para calon pemimpin kesehatan masa depan.
Ia menegaskan kalau seorang pemimpin itu gak cuma butuh integritas, tapi juga harus bisa ngasih arahan yang jelas dan simpel, jago storytelling, serta lihai mengeksekusi setiap target yang udah ditetapkan biar enggak cuma berakhir jadi wacana!
“Pertama, atasan terbaik yang pernah saya temui adalah seseorang yang memiliki integritas. Untuk memastikan bahwa dia tidak akan membohongi Anda atau negara Anda, dia harus menjadi pribadi yang berintegritas,” ujar Menkes Budi.
Menkes menekankan, seorang pemimpin juga harus mampu menyampaikan tujuan secara sederhana agar dapat dipahami oleh seluruh anggota organisasi.
“Sebagai pemimpin, Anda harus memiliki kemampuan untuk menjelaskan tujuan Anda secara jelas dan sederhana agar semua orang dapat memahaminya,” kata Menkes.
Menurut Menkes, tujuan tersebut selanjutnya harus diterjemahkan ke dalam cara kerja yang jelas. Untuk itu, Kementerian Kesehatan RI menjalankan agenda reformasi kesehatan melalui enam pilar, yaitu reformasi layanan primer, layanan sekunder atau rumah sakit, ketahanan sistem kesehatan, pembiayaan kesehatan, sumber daya manusia kesehatan, serta teknologi kesehatan.
Keenam pilar tersebut menjadi cara untuk mencapai tujuan peningkatan angka harapan hidup dan angka harapan hidup sehat.
Salah satu contohnya adalah penguatan layanan primer melalui dukungan pembiayaan ADB untuk pengadaan 10.000 USG dan 10.000 X-ray.
Menkes juga menilai kemampuan storytelling atau menyampaikan suatu tujuan melalui cerita menjadi bagian penting dalam kepemimpinan.
Pemimpin harus memiliki kemampuan untuk menceritakan mengapa, bagaimana, dan apa yang dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut.
Selain itu, pemimpin harus memiliki kemampuan eksekusi. Menurut Menkes, target dan rencana tidak akan berarti tanpa kemampuan untuk mewujudkannya.
“Jika Anda hanya berbicara dan memiliki target tetapi tidak menunjukkan cara mengeksekusi dan mencapainya, Anda akan kehilangan kredibilitas di depan anggota Anda,” ujar Menkes.
Director Human and Social Development Sector Office ADB Eduardo Banzon mengatakan negara-negara anggota berkembang perlu memiliki peran utama dalam mengarahkan reformasi kesehatan di negaranya masing-masing.
Menurutnya, ADB berperan memberikan dukungan pembiayaan dan teknis terhadap agenda yang telah ditetapkan oleh masing-masing negara.
“Kami bukanlah jenis institusi yang datang dan mendikte suatu negara untuk 'lakukan ini' atau 'lakukan itu'. Peran utama kami adalah membantu pembiayaan dan memberikan dukungan teknis untuk hal-hal yang telah diputuskan oleh negara tersebut,” ujar Eduardo.
Ia menambahkan, penguatan kapasitas kepemimpinan menjadi bagian penting dalam menghadapi perubahan dan reformasi kesehatan yang terus berkembang.
“Dalam konteks inilah kami hadir untuk membantu negara-negara membangun kapasitas kepemimpinan guna mengarahkan perubahan luar biasa dalam reformasi kesehatan saat ini,” lanjutnya.
Menurut Eduardo, kerja sama antarnegara juga diperlukan untuk memperkuat reformasi kesehatan. Pelatihan tersebut mencakup kolaborasi dan integrasi regional, kerja sama dengan sektor swasta, pemanfaatan perangkat digital, serta berbagai keterampilan yang dibutuhkan negara untuk mengarahkan reformasi kesehatan.
Sementara itu, Country Director Indonesia Resident Mission ADB Bobur Alimov mengatakan kawasan Asia Tenggara masih menghadapi sejumlah tantangan kesehatan, mulai dari populasi yang semakin menua, meningkatnya penyakit tidak menular, hingga dampak perubahan iklim terhadap kesehatan.
“Tidak ada satu pun dari tantangan ini yang dapat diselesaikan oleh sektor kesehatan saja, maupun oleh satu negara saja. Ini membutuhkan para pemimpin untuk bekerja lintas sektor dan lintas negara, membangun kemitraan, serta mengarahkan perubahan,” ujar Bobur.
Bobur menilai pelaksanaan Health Leadership Course di Indonesia menjadi kesempatan untuk saling bertukar pengalaman dalam menghadapi tantangan kesehatan.
Ia mengatakan Indonesia tengah menjalankan agenda transformasi kesehatan, antara lain melalui penguatan layanan kesehatan primer, perluasan kesehatan digital melalui SATUSEHAT, dan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
“Pengalaman Indonesia memberikan banyak pelajaran berharga bagi kita semua,” kata Bobur.
Selama lima hari, peserta akan membahas sejumlah isu penting dalam sistem kesehatan, termasuk tata kelola, penyelenggaraan dan pembiayaan kesehatan, perubahan iklim dan One Health, pencegahan, kesiapsiagaan dan respons pandemi, serta kesehatan digital dan inovasi.
Peserta juga akan mengunjungi Rumah Sakit Pusat Otak Nasional dan sejumlah fasilitas kesehatan primer di Jakarta.
(TIN)
Pelatihan yang diikuti lebih dari 60 peserta dari tujuh negara di Asia Tenggara ini bertujuan buat memperkuat kapasitas kepemimpinan mereka, biar makin siap menghadapi tantangan sekaligus mendorong reformasi sistem kesehatan di kawasan.
Di kesempatan itu, Menkes Budi membagikan beberapa prinsip kepemimpinan penting buat para calon pemimpin kesehatan masa depan.
Ia menegaskan kalau seorang pemimpin itu gak cuma butuh integritas, tapi juga harus bisa ngasih arahan yang jelas dan simpel, jago storytelling, serta lihai mengeksekusi setiap target yang udah ditetapkan biar enggak cuma berakhir jadi wacana!
“Pertama, atasan terbaik yang pernah saya temui adalah seseorang yang memiliki integritas. Untuk memastikan bahwa dia tidak akan membohongi Anda atau negara Anda, dia harus menjadi pribadi yang berintegritas,” ujar Menkes Budi.
Menkes menekankan, seorang pemimpin juga harus mampu menyampaikan tujuan secara sederhana agar dapat dipahami oleh seluruh anggota organisasi.
“Sebagai pemimpin, Anda harus memiliki kemampuan untuk menjelaskan tujuan Anda secara jelas dan sederhana agar semua orang dapat memahaminya,” kata Menkes.
Menurut Menkes, tujuan tersebut selanjutnya harus diterjemahkan ke dalam cara kerja yang jelas. Untuk itu, Kementerian Kesehatan RI menjalankan agenda reformasi kesehatan melalui enam pilar, yaitu reformasi layanan primer, layanan sekunder atau rumah sakit, ketahanan sistem kesehatan, pembiayaan kesehatan, sumber daya manusia kesehatan, serta teknologi kesehatan.
Keenam pilar tersebut menjadi cara untuk mencapai tujuan peningkatan angka harapan hidup dan angka harapan hidup sehat.
Salah satu contohnya adalah penguatan layanan primer melalui dukungan pembiayaan ADB untuk pengadaan 10.000 USG dan 10.000 X-ray.
Menkes juga menilai kemampuan storytelling atau menyampaikan suatu tujuan melalui cerita menjadi bagian penting dalam kepemimpinan.
Pemimpin harus memiliki kemampuan untuk menceritakan mengapa, bagaimana, dan apa yang dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut.
(Menkes Budi tekankan integritas dan eksekusi dalam pelatihan reformasi sistem kesehatan Asia Tenggara bersama ADB. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Selain itu, pemimpin harus memiliki kemampuan eksekusi. Menurut Menkes, target dan rencana tidak akan berarti tanpa kemampuan untuk mewujudkannya.
“Jika Anda hanya berbicara dan memiliki target tetapi tidak menunjukkan cara mengeksekusi dan mencapainya, Anda akan kehilangan kredibilitas di depan anggota Anda,” ujar Menkes.
Director Human and Social Development Sector Office ADB Eduardo Banzon mengatakan negara-negara anggota berkembang perlu memiliki peran utama dalam mengarahkan reformasi kesehatan di negaranya masing-masing.
Menurutnya, ADB berperan memberikan dukungan pembiayaan dan teknis terhadap agenda yang telah ditetapkan oleh masing-masing negara.
“Kami bukanlah jenis institusi yang datang dan mendikte suatu negara untuk 'lakukan ini' atau 'lakukan itu'. Peran utama kami adalah membantu pembiayaan dan memberikan dukungan teknis untuk hal-hal yang telah diputuskan oleh negara tersebut,” ujar Eduardo.
Ia menambahkan, penguatan kapasitas kepemimpinan menjadi bagian penting dalam menghadapi perubahan dan reformasi kesehatan yang terus berkembang.
“Dalam konteks inilah kami hadir untuk membantu negara-negara membangun kapasitas kepemimpinan guna mengarahkan perubahan luar biasa dalam reformasi kesehatan saat ini,” lanjutnya.
Menurut Eduardo, kerja sama antarnegara juga diperlukan untuk memperkuat reformasi kesehatan. Pelatihan tersebut mencakup kolaborasi dan integrasi regional, kerja sama dengan sektor swasta, pemanfaatan perangkat digital, serta berbagai keterampilan yang dibutuhkan negara untuk mengarahkan reformasi kesehatan.
Sementara itu, Country Director Indonesia Resident Mission ADB Bobur Alimov mengatakan kawasan Asia Tenggara masih menghadapi sejumlah tantangan kesehatan, mulai dari populasi yang semakin menua, meningkatnya penyakit tidak menular, hingga dampak perubahan iklim terhadap kesehatan.
“Tidak ada satu pun dari tantangan ini yang dapat diselesaikan oleh sektor kesehatan saja, maupun oleh satu negara saja. Ini membutuhkan para pemimpin untuk bekerja lintas sektor dan lintas negara, membangun kemitraan, serta mengarahkan perubahan,” ujar Bobur.
Bobur menilai pelaksanaan Health Leadership Course di Indonesia menjadi kesempatan untuk saling bertukar pengalaman dalam menghadapi tantangan kesehatan.
Ia mengatakan Indonesia tengah menjalankan agenda transformasi kesehatan, antara lain melalui penguatan layanan kesehatan primer, perluasan kesehatan digital melalui SATUSEHAT, dan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
“Pengalaman Indonesia memberikan banyak pelajaran berharga bagi kita semua,” kata Bobur.
Selama lima hari, peserta akan membahas sejumlah isu penting dalam sistem kesehatan, termasuk tata kelola, penyelenggaraan dan pembiayaan kesehatan, perubahan iklim dan One Health, pencegahan, kesiapsiagaan dan respons pandemi, serta kesehatan digital dan inovasi.
Peserta juga akan mengunjungi Rumah Sakit Pusat Otak Nasional dan sejumlah fasilitas kesehatan primer di Jakarta.
(TIN)