FITNESS & HEALTH

Kunci Utama SDM Kesehatan Asia Pasifik Tangguh: Kompetensi dan Komitmen

Yatin Suleha
Senin 09 November 2026 / 06:00
Ringkasnya gini..
  • Konferensi ke-14 Asia Pacific Action Alliance on Human Resources for Health (AAAH) resmi ditutup di Bali.
  • Investasi SDM kesehatan kunci utama mentransformasi dan memperkuat sistem kesehatan di kawasan Asia Pasifik.
  • Di Indonesia sendiri, rasio dokter tercatat masih berada di angka 0,62 per 1.000 penduduk.
Jakarta: Konferensi ke-14 Asia Pacific Action Alliance on Human Resources for Health (AAAH) resmi ditutup di Bali, Rabu (4/11). 

Pertemuan yang dihadiri delegasi dari 22 negara ini menegaskan bahwa investasi pada sumber daya manusia (SDM) kesehatan merupakan kunci utama dalam mentransformasi dan memperkuat sistem kesehatan di kawasan Asia Pasifik.

Direktur Jenderal Sumber Daya Manusia Kesehatan Kemenkes RI, Yuli Farianti, menyampaikan bahwa kawasan ini menghadapi berbagai tantangan berat, mulai dari lonjakan populasi lansia, maraknya penyakit kronis, ancaman perubahan iklim, hingga masalah klasik berupa ketimpangan distribusi tenaga medis. 
 
Di Indonesia sendiri, rasio dokter tercatat masih berada di angka 0,62 per 1.000 penduduk. Yuli menegaskan bahwa membenahi SDM kesehatan enggak cukup hanya dengan mencetak lebih banyak tenaga medis. 

Lebih dari itu, pemerintah dan pemangku kepentingan harus memastikan kompetensi mereka benar-benar sesuai kebutuhan, penyebarannya merata hingga ke pelosok, serta tersedianya lingkungan kerja yang aman dan memberikan kepastian karier.

"Memperkuat SDM kesehatan bukan hanya soal menghasilkan lebih banyak tenaga kesehatan. Ini tentang kompetensi yang tepat, distribusi yang adil, serta lingkungan kerja yang membuat tenaga kesehatan merasa aman, dihargai, dan ingin bertahan. Semua ini terangkum dalam rumus: Kompetensi ditambah Komitmen menghasilkan Ketangguhan," terang Yuli di Bali, Rabu (4/11).

Untuk mewujudkan ketangguhan tersebut, konferensi menyepakati tiga pilar utama yang harus berjalan beriringan, yakni tata kelola, pendidikan dan kesejahteraan, serta transformasi digital.

Di Indonesia, ketiga pilar tersebut telah diimplementasikan secara terstruktur di bawah kepemimpinan Menteri Kesehatan.

Tenaga kesehatan ditempatkan sebagai poros utama transformasi karena keberhasilan reformasi sektor kesehatan sangat bergantung pada kapasitas sumber daya manusianya.

Pada pilar tata kelola, Kemenkes memperkuat perencanaan kebutuhan tenaga medis berbasis data hingga 2032 untuk memetakan kebutuhan tenaga kesehatan, khususnya di wilayah terpencil, perbatasan, dan kepulauan.

Pada pilar pendidikan dan kesejahteraan, percepatan pemenuhan dokter spesialis dilakukan melalui pendidikan berbasis rumah sakit (hospital-based), sehingga peserta didik dapat terlibat langsung dalam pelayanan kepada masyarakat.

 
kompetensi tenaga kesehata
(Investasi SDM, pemerataan kompetensi, dan lingkungan kerja aman kunci penguatan sistem kesehatan Asia Pasifik. Foto: Dok. Birkom Kemenkes)
 
Sementara itu, pada pilar transformasi digital, Kemenkes menyederhanakan birokrasi melalui penerbitan Surat Tanda Registrasi (STR) seumur hidup melalui platform SATUSEHAT SDMK serta menyediakan akses pelatihan daring melalui Plataran Sehat.

Implementasi ketiga pilar tersebut juga disaksikan langsung oleh para delegasi melalui kunjungan lapangan ke tiga fasilitas kesehatan di Bali.

Sebelumnya pada Senin (2/11) Para delegasi yang terdiri dari tiga rombongan melakukan kunjungan lapangan. Rombongan petama mengunjungi RSUP Prof. Dr. I.G.N.G. Ngoerah sebagai rumah sakit rujukan kelas A yang menjadi tempat pendidikan bagi 1.442 residen dalam 24 program studi. 

Rombongan kedua berkunjung ke Poltekkes Kemenkes Denpasar yang menerapkan standar global dalam simulasi pembelajaran serta telah mengirimkan puluhan mahasiswa untuk magang dan lulusannya untuk bekerja di Jepang.

Di tingkat pelayanan primer, rombongan ketiga melihat penerapan Integrasi Layanan Primer (ILP) berbasis siklus hidup di Puskesmas Kuta II. 

Pendekatan ini berhasil mengendalikan 81 persen pasien hipertensi dan 79 persen pasien diabetes. Puskesmas tersebut juga mencatatkan capaian Cek Kesehatan Gratis (CKG) sebesar 101,6 persen atau menjangkau 5.708 orang.

Capaian pelayanan tersebut turut didukung oleh kedekatan personal antara tenaga kesehatan dan masyarakat setempat.

Selain memperkuat kolaborasi regional, konferensi ini juga menghadirkan nilai kebersamaan melalui kearifan lokal masyarakat Bali, yakni filosofi Menyama Braya yang mengajarkan untuk memperlakukan sesama sebagai saudara.

Yuli Farianti mengatakan, para delegasi dari 22 negara yang hadir di Bali kini pulang sebagai satu keluarga besar yang dipersatukan oleh misi mulia untuk merawat mereka yang merawat orang lain.

Sementara itu, Ketua AAAH periode 2024–2026 yang juga menjabat sebagai Sekretaris Direktorat Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, Anna Kurniati, menyampaikan apresiasi atas kuatnya dukungan dan solidaritas antarnegara anggota serta kontribusi mitra pembangunan internasional, seperti WHO, JICA, KOICA, ADB, UNFPA, dan IHPP Foundation.
 
Ia menegaskan bahwa AAAH merupakan aliansi strategis untuk memperkuat aksi kolektif negara-negara anggota. Menurutnya, tidak ada satu negara pun yang dapat menyelesaikan tantangan SDM kesehatan secara mandiri.

Seluruh rekomendasi Konferensi AAAH ke-14 selanjutnya akan menjadi rujukan strategis bagi Indonesia dalam menyusun Blueprint Pengelolaan SDM Kesehatan 2026–2035. 

Penutupan konferensi ini sekaligus menandai penyerahan tongkat estafet penyelenggaraan konferensi berikutnya kepada Thailand.


Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(TIN)

MOST SEARCH