FITNESS & HEALTH
Jakarta Makin Protektif Pemberian Obat Pencegahan TBC
Yatin Suleha
Rabu 04 November 2026 / 06:05
- Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI makin gencar mempercepat eliminasi tuberkulosis (TBC).
- Dengan menggenjot penemuan kasus dan memberikan obat pencegahan untuk kontak erat pasien.
- Program TPT di DKI Jakarta efektif melonjak lima kali lipat guna mempercepat eliminasi TBC.
Jakarta: Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI makin gencar mempercepat eliminasi tuberkulosis (TBC) dengan menggenjot penemuan kasus dan memberikan obat pencegahan untuk kontak erat pasien.
Hasilnya kelihatan banget di DKI Jakarta, di mana cakupan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) melonjak drastis dari yang dulunya di bawah 5% sekitar 2–3 tahun lalu, sekarang udah menembus angka lebih dari 26%.
Capaian keren ini jadi salah satu poin utama yang dievaluasi langsung sama Wakil Menteri Kesehatan RI, dr. Benjamin Paulus Octavianus, memantau program pemberantasan TBC di Kecamatan Taman Sari, Jakarta.
Agenda ini dihadiri juga sama Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, delapan Puskesmas, sampai jajaran rumah sakit kayak RS Pelni, RS Sumber Waras, dan RS Cengkareng.
Wamenkes Benjamin menyebutkan kalau selama ini Indonesia sebenarnya udah cukup oke dalam hal mengobati pasien TBC.
Tapi, urusan pencegahan—terutama melacak kontak erat dan ngasih obat pencegahan—memang masih harus terus didorong biar makin maksimal.
“Selama ini kita cukup baik dalam mengobati pasien TBC. Tantangan kita adalah pencegahan. Jika ditemukan kontak erat yang berisiko tertular, mereka harus segera dilacak dan diberikan obat pencegahan, sementara pasien yang sudah sakit langsung diobati. Dengan begitu, kasus baru bisa dicegah sebelum berkembang menjadi penyakit,” ujar Wamenkes.
Ia mengapresiasi peningkatan cakupan pemberian TPT di DKI Jakarta yang telah mencapai lebih dari 26%. Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan kemajuan penting dalam memperkuat upaya pencegahan TBC.
Wamenkes juga menyoroti tantangan pelacakan kontak erat di Jakarta, terutama karena banyak masyarakat memiliki aktivitas pekerjaan di luar rumah.
Karena itu, diperlukan strategi kolaboratif antara pemerintah daerah, Puskesmas, rumah sakit, hingga pemerintah wilayah agar penemuan kasus dan pencegahan dapat menjangkau lebih banyak masyarakat.
“Jakarta memiliki fasilitas kesehatan yang cukup lengkap, mulai dari Puskesmas, rumah sakit hingga Puskesmas Pembantu. Potensi ini harus dimanfaatkan untuk mempercepat eliminasi TBC."
"Kita perlu terus mengevaluasi kelemahan dan memperbaiki strategi agar program ini semakin menjangkau masyarakat,” tambahnya.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, drg. Ani Ruspitawati, menyebutkan kalau dukungan penuh dari Kemenkes plus integrasi penelusuran TBC bareng JKG jadi momentum pas banget buat mempercepat target pengendalian TBC di Jakarta.
Tantangan besarnya sekarang adalah memperketat urusan pencegahan biar kasus TBC enggak terus-terusan muncul di tahun-tahun mendatang.
Lewat agenda monitoring dan evaluasi ini, Kemenkes terus mendorong kolaborasi lintas sektor yang makin solid, mengajak masyarakat makin peka buat rajin cek kesehatan, serta memaksimalkan pelacakan kontak erat dan pemberian obat pencegahan. Semua langkah ini jadi fondasi krusial buat mengebut eliminasi TBC di Indonesia!
(TIN)
Hasilnya kelihatan banget di DKI Jakarta, di mana cakupan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) melonjak drastis dari yang dulunya di bawah 5% sekitar 2–3 tahun lalu, sekarang udah menembus angka lebih dari 26%.
Capaian keren ini jadi salah satu poin utama yang dievaluasi langsung sama Wakil Menteri Kesehatan RI, dr. Benjamin Paulus Octavianus, memantau program pemberantasan TBC di Kecamatan Taman Sari, Jakarta.
Agenda ini dihadiri juga sama Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, delapan Puskesmas, sampai jajaran rumah sakit kayak RS Pelni, RS Sumber Waras, dan RS Cengkareng.
Wamenkes Benjamin menyebutkan kalau selama ini Indonesia sebenarnya udah cukup oke dalam hal mengobati pasien TBC.
Tapi, urusan pencegahan—terutama melacak kontak erat dan ngasih obat pencegahan—memang masih harus terus didorong biar makin maksimal.
“Selama ini kita cukup baik dalam mengobati pasien TBC. Tantangan kita adalah pencegahan. Jika ditemukan kontak erat yang berisiko tertular, mereka harus segera dilacak dan diberikan obat pencegahan, sementara pasien yang sudah sakit langsung diobati. Dengan begitu, kasus baru bisa dicegah sebelum berkembang menjadi penyakit,” ujar Wamenkes.
(Wakil Menteri Kesehatan RI, dr. Benjamin Paulus Octavianus, memantau program pemberantasan TBC di Kecamatan Taman Sari, Jakarta. Foto: Dok. Birkom Kemenkes)
Wamenkes juga menyoroti tantangan pelacakan kontak erat di Jakarta, terutama karena banyak masyarakat memiliki aktivitas pekerjaan di luar rumah.
Karena itu, diperlukan strategi kolaboratif antara pemerintah daerah, Puskesmas, rumah sakit, hingga pemerintah wilayah agar penemuan kasus dan pencegahan dapat menjangkau lebih banyak masyarakat.
“Jakarta memiliki fasilitas kesehatan yang cukup lengkap, mulai dari Puskesmas, rumah sakit hingga Puskesmas Pembantu. Potensi ini harus dimanfaatkan untuk mempercepat eliminasi TBC."
"Kita perlu terus mengevaluasi kelemahan dan memperbaiki strategi agar program ini semakin menjangkau masyarakat,” tambahnya.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, drg. Ani Ruspitawati, menyebutkan kalau dukungan penuh dari Kemenkes plus integrasi penelusuran TBC bareng JKG jadi momentum pas banget buat mempercepat target pengendalian TBC di Jakarta.
Tantangan besarnya sekarang adalah memperketat urusan pencegahan biar kasus TBC enggak terus-terusan muncul di tahun-tahun mendatang.
Lewat agenda monitoring dan evaluasi ini, Kemenkes terus mendorong kolaborasi lintas sektor yang makin solid, mengajak masyarakat makin peka buat rajin cek kesehatan, serta memaksimalkan pelacakan kontak erat dan pemberian obat pencegahan. Semua langkah ini jadi fondasi krusial buat mengebut eliminasi TBC di Indonesia!
(TIN)