FITNESS & HEALTH
2 Tahun Pemerintahan, Kemenkes Gaspol Bikin CKG Naik & TB Dilibas Habis
Yatin Suleha
Minggu 25 Oktober 2026 / 07:00
- Sebanyak 109,3 juta warga Indonesia udah nikmatin Cek Kesehatan Gratis (CKG).
- Enggak cuma itu, ada 21 rumah sakit baru yang resmi beroperasi di daerah 3T, plus angka kasus TB akhirnya perdana menunjukkan tren menurun!
- Semua capaian keren ini langsung dipaparin sama Menkes Budi Gunadi Sadikin pas konferensi pers "2 Tahun Pemerintahan Bidang Kesehatan."
Jakarta: Sebanyak 109,3 juta warga Indonesia udah nikmatin Cek Kesehatan Gratis (CKG). Enggak cuma itu, ada 21 rumah sakit baru yang resmi beroperasi di daerah 3T, plus angka kasus TB akhirnya perdana menunjukkan tren menurun!
Semua capaian keren ini langsung dipaparin sama Menkes Budi Gunadi Sadikin pas konferensi pers "2 Tahun Pemerintahan Bidang Kesehatan" , Kamis (22/10).
Usut punya usut, ketiganya merupakan bagian dari Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) yang digenjot dua tahun belakangan.
Buat program CKG sendiri, antusiasmenya gokil banget! Dari target 130,3 juta sasaran, udah 109,3 juta jiwa yang terlayani—terdiri dari 88 juta peserta CKG tahunan dan 21 juta anak sekolah. Bahkan yang apply alias mendaftar tembus 116,3 juta orang!
Biar aksesnya makin gampang, layanan ini udah ready di 10.319 Puskesmas (setara 99,8% Puskesmas se-Indonesia) dan merata di 514 kabupaten/kota dari 38 provinsi.
Menkes menjelaskan kalau CKG ini disiapin biar angka harapan hidup kita auto naik dari 72 jadi 76 tahun.
Kuncinya? Deteksi dini 4 pemicu penyakit fatal: darah tinggi, gula darah, kolesterol, dan obesitas yang sering jadi dalang stroke, serangan jantung, sampai gagal ginjal. Health is wealth banget!
"Kalau kita bisa mengukur keempat faktor risiko tadi, obesitas, tekanan darah tinggi, gula darah tinggi, sama kolesterol tinggi kita bisa menurunkan sampai 80 persen dari kematian yang disebabkan oleh penyakit kardiovaskular seperi penyakit jantung, pembuluh darah, stroke, serangan jantung, dan masalah ginjal," ujar Menkes Budi.
Temuan dari pemeriksaan itu selanjutnya ditindaklanjuti di lapangan. Warga yang terdeteksi berisiko mendapat tata laksana dan pengobatan gratis di Puskesmas agar indikator kesehatannya kembali normal atau masuk kategori hijau.
Pada pilar kedua, pemerintah telah membangun 66 Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) di daerah tertinggal yang sebelumnya berstatus Kelas D.
“Pembangunannya dibagi dalam beberapa tahap: 22 RSUD masuk batch 1 dan 2 tahun 2025, dengan 21 unit di antaranya sudah rampung 100 persen dan beroperasi penuh."
"Sebanyak 20 RSUD lain tergabung dalam batch 3 dan 4 tahun 2026, sedangkan 24 RSUD pada batch 5 dan 6 tahun 2027 masih dalam tahap perencanaan,” tandas Menkes Budi.
Menkes Budi melanjutkan, Rumah sakit di Kabupaten Kepulauan Anambas, Buru, Bengkulu Tengah, hingga Kab. Keerom di Prov. Papua kini dilengkapi alat kesehatan setara rumah sakit di Pulau Jawa.
Meliputi mammografi untuk deteksi dini kanker payudara, CT scan, serta cath lab untuk tindakan jantung dan stroke.
Meski begitu, pemenuhan tenaga medis masih menjadi pekerjaan rumah. Kemenkes mencatat, dari 66 RSUD tersebut baru 34 unit atau 51 persen yang memiliki tujuh jenis dokter spesialis dasar secara lengkap.
Pada pilar ketiga, Menkes Budi menerangkan bahwa Indonesia mencatat hal yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Mengacu pada estimasi WHO Global TB Report, angka insiden tuberkulosis menurun secara berkelanjutan untuk pertama kalinya, dengan estimasi kasus pada 2026 turun menjadi 1.080.000 dari 1.092.000 pada 2024.
Hingga Oktober 2026, sebanyak 666.985 kasus telah ditemukan dan dilaporkan atau 61 persen dari target 972.000 kasus.
Dari jumlah itu, 599.425 pasien atau 90 persen dari target sudah memulai pengobatan. Penemuan kasus ini ditopang penyediaan portable X-ray dan mesin tes molekuler Near Point of Care (NPOC) di ribuan Puskesmas.
Skrining TB juga diintegrasikan dengan layanan CKG dan dibawa langsung ke tempat warga berkumpul. Sebanyak 40.910 warga binaan di lapas dan rutan serta 24.623 santri di pondok pesantren telah diperiksa.
Kemenkes turut menggandeng kementerian/lembaga lain dan sektor swasta, termasuk memeriksa 8.914 karyawan dan mitra layanan transportasi daring seperti Gojek dan Grab.
Dari sisi pengobatan, Kemenkes memperpendek durasi terapi melalui regimen obat modern. Indonesia juga ikut dalam uji klinis tahap 3 kandidat vaksin TB M72 yang ditargetkan mulai diproduksi pada awal 2029.
“Dulu TB ini minum obatnya panjang sekali, bisa sampai lebih dari 1 tahun dia minum obat setiap hari. Sekarang turun jadi 12 bulan, turun lagi jadi 6 bulan, yang terakhir kita sudah bisa ada yang bisa 4 bulan. Jadi dengan demikian, obat-obatan TB-nya makin lama makin mudah diterima oleh masyarakat,” tandas Menkes Budi.
(TIN)
Semua capaian keren ini langsung dipaparin sama Menkes Budi Gunadi Sadikin pas konferensi pers "2 Tahun Pemerintahan Bidang Kesehatan" , Kamis (22/10).
Usut punya usut, ketiganya merupakan bagian dari Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) yang digenjot dua tahun belakangan.
Buat program CKG sendiri, antusiasmenya gokil banget! Dari target 130,3 juta sasaran, udah 109,3 juta jiwa yang terlayani—terdiri dari 88 juta peserta CKG tahunan dan 21 juta anak sekolah. Bahkan yang apply alias mendaftar tembus 116,3 juta orang!
Biar aksesnya makin gampang, layanan ini udah ready di 10.319 Puskesmas (setara 99,8% Puskesmas se-Indonesia) dan merata di 514 kabupaten/kota dari 38 provinsi.
Menkes menjelaskan kalau CKG ini disiapin biar angka harapan hidup kita auto naik dari 72 jadi 76 tahun.
Kuncinya? Deteksi dini 4 pemicu penyakit fatal: darah tinggi, gula darah, kolesterol, dan obesitas yang sering jadi dalang stroke, serangan jantung, sampai gagal ginjal. Health is wealth banget!
"Kalau kita bisa mengukur keempat faktor risiko tadi, obesitas, tekanan darah tinggi, gula darah tinggi, sama kolesterol tinggi kita bisa menurunkan sampai 80 persen dari kematian yang disebabkan oleh penyakit kardiovaskular seperi penyakit jantung, pembuluh darah, stroke, serangan jantung, dan masalah ginjal," ujar Menkes Budi.
Temuan dari pemeriksaan itu selanjutnya ditindaklanjuti di lapangan. Warga yang terdeteksi berisiko mendapat tata laksana dan pengobatan gratis di Puskesmas agar indikator kesehatannya kembali normal atau masuk kategori hijau.
Pada pilar kedua, pemerintah telah membangun 66 Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) di daerah tertinggal yang sebelumnya berstatus Kelas D.
(Capaian dua tahun Kemenkes meliputi layanan CKG massal, RSUD 3T baru, dan penanganan TB. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
“Pembangunannya dibagi dalam beberapa tahap: 22 RSUD masuk batch 1 dan 2 tahun 2025, dengan 21 unit di antaranya sudah rampung 100 persen dan beroperasi penuh."
"Sebanyak 20 RSUD lain tergabung dalam batch 3 dan 4 tahun 2026, sedangkan 24 RSUD pada batch 5 dan 6 tahun 2027 masih dalam tahap perencanaan,” tandas Menkes Budi.
Menkes Budi melanjutkan, Rumah sakit di Kabupaten Kepulauan Anambas, Buru, Bengkulu Tengah, hingga Kab. Keerom di Prov. Papua kini dilengkapi alat kesehatan setara rumah sakit di Pulau Jawa.
Meliputi mammografi untuk deteksi dini kanker payudara, CT scan, serta cath lab untuk tindakan jantung dan stroke.
Meski begitu, pemenuhan tenaga medis masih menjadi pekerjaan rumah. Kemenkes mencatat, dari 66 RSUD tersebut baru 34 unit atau 51 persen yang memiliki tujuh jenis dokter spesialis dasar secara lengkap.
Pada pilar ketiga, Menkes Budi menerangkan bahwa Indonesia mencatat hal yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Mengacu pada estimasi WHO Global TB Report, angka insiden tuberkulosis menurun secara berkelanjutan untuk pertama kalinya, dengan estimasi kasus pada 2026 turun menjadi 1.080.000 dari 1.092.000 pada 2024.
Hingga Oktober 2026, sebanyak 666.985 kasus telah ditemukan dan dilaporkan atau 61 persen dari target 972.000 kasus.
Dari jumlah itu, 599.425 pasien atau 90 persen dari target sudah memulai pengobatan. Penemuan kasus ini ditopang penyediaan portable X-ray dan mesin tes molekuler Near Point of Care (NPOC) di ribuan Puskesmas.
Skrining TB juga diintegrasikan dengan layanan CKG dan dibawa langsung ke tempat warga berkumpul. Sebanyak 40.910 warga binaan di lapas dan rutan serta 24.623 santri di pondok pesantren telah diperiksa.
Kemenkes turut menggandeng kementerian/lembaga lain dan sektor swasta, termasuk memeriksa 8.914 karyawan dan mitra layanan transportasi daring seperti Gojek dan Grab.
Dari sisi pengobatan, Kemenkes memperpendek durasi terapi melalui regimen obat modern. Indonesia juga ikut dalam uji klinis tahap 3 kandidat vaksin TB M72 yang ditargetkan mulai diproduksi pada awal 2029.
“Dulu TB ini minum obatnya panjang sekali, bisa sampai lebih dari 1 tahun dia minum obat setiap hari. Sekarang turun jadi 12 bulan, turun lagi jadi 6 bulan, yang terakhir kita sudah bisa ada yang bisa 4 bulan. Jadi dengan demikian, obat-obatan TB-nya makin lama makin mudah diterima oleh masyarakat,” tandas Menkes Budi.
(TIN)