FITNESS & HEALTH

Krisis Nakes Membayangi Asia Pasifik, AI Mulai Dilirik Jadi Solusi

Yatin Suleha
Minggu 08 November 2026 / 07:00
Ringkasnya gini..
  • Kelangkaan dan ketimpangan penyebaran tenaga kesehatan masih menjadi PR besar bagi berbagai negara di kawasan Asia Pasifik.
  • Menanggapi masalah ini, Asia Pacific Action Alliance on Human Resources for Health mendorong peningkatan kualitas nakes lewat transformasi digital.
  • Gelaran ini menghadirkan perwakilan dari 22 negara anggota bersama jajaran mitra internasional untuk merumuskan strategi penguatan SDM kesehatan.
Jakarta: Kelangkaan dan ketimpangan penyebaran tenaga kesehatan masih menjadi PR besar bagi berbagai negara di kawasan Asia Pasifik. 

Menanggapi masalah ini, Asia Pacific Action Alliance on Human Resources for Health (AAAH) mendorong peningkatan kualitas nakes lewat transformasi digital, salah satunya dengan mengoptimalkan peran kecerdasan buatan alias artificial intelligence (AI).

Isu krusial ini menjadi salah satu fokus utama dalam Konferensi ke-14 AAAH yang digelar di Bali pada 2–5 November 2026. 
 
Gelaran ini menghadirkan perwakilan dari 22 negara anggota bersama jajaran mitra internasional untuk merumuskan strategi penguatan sumber daya manusia (SDM) kesehatan di Asia Pasifik.

Ketua AAAH periode 2024–2026 sekaligus Sekretaris Ditjen Farmasi dan Alat Kesehatan, Anna Kurniati, mengungkapkan bahwa tantangan SDM kesehatan saat ini makin rumit. 

Selain masalah keterbatasan dan pemerataan nakes, berbagai negara juga harus bersiap menghadapi lonjakan populasi lansia, maraknya penyakit tidak menular, hingga krisis kesehatan yang dipicu oleh perubahan iklim.

Menurut Anna, tidak ada satu negara pun yang dapat menyelesaikan persoalan tersebut secara mandiri. Karena itu, kolaborasi regional diperlukan untuk memperkuat kapasitas tenaga kesehatan melalui pertukaran pengalaman dan praktik baik antarnegara.

Dalam konferensi tersebut, AAAH mengusung tiga pilar utama, yakni Leadership and Governance, Transformative Education and Wellbeing, serta Digital Transformation.

Pada pilar transformasi digital, pemanfaatan teknologi dinilai dapat memperkuat pengambilan keputusan berbasis data, sistem informasi kesehatan, serta akses terhadap pendidikan dan pengembangan kompetensi tenaga kesehatan.

"Perkembangan teknologi termasuk teknologi digital harus dapat dimanfaatkan oleh seluruh tenaga kesehatan, termasuk mereka yang berada di wilayah terpencil. Termasuk berkembangnya teknologi Artificial Intelligence, ini harus menjadi instrumen yang bisa membantu tenaga kesehatan," kata Anna.

 
cpr
(Asia Pasifik dorong pemanfaatan AI guna mengatasi krisis dan ketimpangan distribusi tenaga kesehatan. Foto: Dok. Birkom Kemenkes)
 
Ia menambahkan, penguatan teknologi harus berjalan beriringan dengan tata kelola yang baik serta pendidikan yang mampu menghasilkan tenaga kesehatan yang kompeten dan adaptif.

Sementara itu, Direktur Penyediaan SDM Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, Ika Trisia, memaparkan bahwa Indonesia saat ini memiliki 180.327 dokter teregistrasi dengan rasio 0,62 per 1.000 penduduk. 
Berdasarkan data nasional, sebanyak 63 persen Puskesmas atau 6.520 dari 10.337 Puskesmas telah memiliki sembilan jenis tenaga kesehatan sesuai standar. 

Sementara itu, 80,8 persen RSUD atau 681 dari 843 rumah sakit telah memiliki tujuh jenis dokter spesialis dasar.

"Angka-angka ini menunjukkan kemajuan yang telah kita capai, sekaligus mengingatkan kita bahwa masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Kami masih menghadapi tantangan dalam memenuhi kebutuhan dokter spesialis serta memastikan pemerataan distribusi tenaga kesehatan, khususnya di daerah terpencil, perbatasan, dan kepulauan," ujar Ika.

Ika menegaskan, fokus pemerintah tidak hanya pada pemenuhan jumlah tenaga kesehatan, tetapi juga pada kualifikasi dan penempatan tenaga kesehatan sesuai standar dan kebutuhan pelayanan.

"Tantangan kita bukan hanya menghasilkan lebih banyak tenaga kesehatan, tetapi juga memastikan bahwa tenaga kesehatan yang tepat tersedia di tempat yang tepat, dengan kompetensi yang tepat," tegasnya.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Indonesia terus menjalankan pendekatan komprehensif dalam transformasi SDM kesehatan melalui empat langkah strategis.

Pertama, memperkuat perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan berbasis bukti dan data nasional yang berkualitas agar ketersediaannya selaras dengan kebutuhan sistem kesehatan di masa depan.

Kedua, memperkuat pendidikan dan pelatihan melalui kurikulum berbasis kompetensi, pembelajaran dengan simulasi klinis, serta pengembangan keterampilan profesional yang adaptif terhadap pelayanan kesehatan modern.

Ketiga, mempercepat pemerataan distribusi tenaga kesehatan di wilayah yang masih mengalami keterbatasan akses sekaligus mengatasi kesenjangan pelayanan dokter spesialis.
 
Keempat, mendorong transformasi digital melalui platform dan sistem informasi SDM kesehatan untuk memperluas kesempatan pengembangan profesional berkelanjutan serta meningkatkan akses tenaga kesehatan terhadap pengembangan kompetensi.

Melalui empat langkah tersebut, pemerintah berupaya memastikan pemenuhan SDM kesehatan tidak hanya berorientasi pada jumlah, tetapi juga pemerataan distribusi dan kesesuaian kompetensi dengan kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat.


Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(TIN)

MOST SEARCH