FITNESS & HEALTH
Penyakit Tropis Masih Tinggi, Biaya Rawatnya Bisa Bikin Dompet Ikut Sakit
A. Firdaus
Selasa 23 Juni 2026 / 17:10
- Indonesia menempati posisi kedua dengan jumlah kasus TBC terbanyak di dunia pada 2024.
- Selain jumlah kasus yang masih tinggi, biaya perawatan penyakit tropis juga mengalami kenaikan signifikan.
- Masyarakat disarankan memastikan kepesertaan BPJS Kesehatan tetap aktif,
Jakarta: Demam Berdarah Dengue (DBD), demam tifoid, dan tuberkulosis (TBC) masih menjadi ancaman kesehatan yang perlu diwaspadai masyarakat Indonesia. Meski penyakit ini sudah lama dikenal, jumlah kasusnya masih tinggi dan biaya pengobatannya terus meningkat dari tahun ke tahun.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Indonesia menempati posisi kedua dengan jumlah kasus TBC terbanyak di dunia pada 2024, yakni mencapai sekitar 1,06 juta kasus per tahun. Pada periode yang sama, tercatat 210.644 kasus DBD dengan 1.239 kematian, sementara demam tifoid masih menyebabkan puluhan ribu kasus setiap tahunnya.
Data klaim kesehatan Allianz Indonesia hingga pertengahan Juni 2026 juga menunjukkan penyakit tropis masih menjadi alasan utama masyarakat menjalani perawatan medis. Tercatat sebanyak 1.686 klaim DBD dengan nilai lebih dari Rp21,5 miliar, 1.534 klaim demam tifoid senilai Rp14,5 miliar, serta 815 klaim TBC dengan nilai klaim lebih dari Rp5,4 miliar.
Head of Health Analytics Allianz Life Indonesia, dr. Tubagus Argie F.S. Sunartadirdja, mengatakan selain jumlah kasus yang masih tinggi, biaya perawatan penyakit tropis juga mengalami kenaikan signifikan.
"Data klaim menunjukkan bahwa penyakit tropis masih menjadi salah satu alasan masyarakat membutuhkan perawatan medis. Di saat yang sama, biaya pengobatan beberapa penyakit tropis juga terus meningkat. Karena itu, pencegahan dan deteksi dini menjadi sangat penting, bukan hanya untuk menjaga kesehatan tetapi juga mengurangi risiko beban finansial," ujar dr. Tubagus dalam kegiatan Ngobrol Bareng Allianz Citizens (NgobrAZ) bertajuk Waspada Tropical Diseases.
Dokter sekaligus edukator kesehatan, dr. Dion Haryadi, menilai salah satu tantangan terbesar dalam pengendalian penyakit tropis adalah anggapan bahwa penyakit tersebut sudah biasa terjadi sehingga dianggap tidak terlalu berbahaya.
"Padahal sebagian besar penyakit tropis sebenarnya dapat dicegah. Sayangnya, banyak orang baru memeriksakan diri ketika gejala sudah berat," kata dr. Dion.
Pada kasus DBD, misalnya, masyarakat sering mengira kondisi pasien membaik saat demam mulai turun. Padahal, fase tersebut justru menjadi masa paling kritis yang membutuhkan pemantauan ketat.
Sementara pada demam tifoid, gejala seperti demam berkepanjangan, tubuh lemas, atau gangguan pencernaan sering dianggap sebagai kelelahan biasa. Begitu pula dengan TBC, batuk yang berlangsung lama kerap disepelekan dan tidak segera diperiksakan.
Kondisi iklim tropis, kepadatan penduduk, sanitasi yang belum merata, serta keberadaan nyamuk Aedes aegypti turut membuat penyakit-penyakit tersebut masih banyak ditemukan di Indonesia.
Selain risiko kesehatan, penyakit tropis juga dapat menimbulkan beban ekonomi yang tidak sedikit. Biaya rawat inap pasien DBD, misalnya, dapat mencapai Rp5 juta hingga Rp20 juta tergantung tingkat keparahan, lama perawatan, serta adanya komplikasi.
Berdasarkan data Allianz Indonesia periode 2020-2025, rata-rata biaya perawatan demam tifoid meningkat hingga 66 persen, sedangkan biaya penanganan DBD naik sekitar 88 persen.
Karena itu, masyarakat disarankan memastikan kepesertaan BPJS Kesehatan tetap aktif serta mempertimbangkan perlindungan tambahan melalui asuransi kesehatan swasta.
Menurut para ahli, pencegahan jauh lebih murah dibandingkan biaya pengobatan. Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan antara lain:
- Hindari kebiasaan menggantung pakaian kotor terlalu lama di kamar karena dapat menjadi tempat beristirahat nyamuk Aedes aegypti penyebab DBD.
- Pastikan rumah memiliki ventilasi dan pencahayaan yang baik untuk membantu mengurangi risiko penularan TBC.
- Hindari mengonsumsi makanan atau es batu yang kebersihannya tidak terjamin, terutama saat bepergian.
- Rutin memeriksa talang air, dispenser, vas bunga, serta tempat penampungan air yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.
- Segera periksakan diri jika mengalami gejala awal dan jangan menunggu hingga kondisi memburuk.
"Penyakit tropis mungkin terdengar akrab bagi masyarakat Indonesia, tetapi bukan berarti bisa dianggap sepele. Mengenali gejala sejak dini dan melakukan pencegahan sederhana dapat membantu melindungi diri sendiri maupun orang-orang terdekat," tutup dr. Tubagus.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Indonesia menempati posisi kedua dengan jumlah kasus TBC terbanyak di dunia pada 2024, yakni mencapai sekitar 1,06 juta kasus per tahun. Pada periode yang sama, tercatat 210.644 kasus DBD dengan 1.239 kematian, sementara demam tifoid masih menyebabkan puluhan ribu kasus setiap tahunnya.
Data klaim kesehatan Allianz Indonesia hingga pertengahan Juni 2026 juga menunjukkan penyakit tropis masih menjadi alasan utama masyarakat menjalani perawatan medis. Tercatat sebanyak 1.686 klaim DBD dengan nilai lebih dari Rp21,5 miliar, 1.534 klaim demam tifoid senilai Rp14,5 miliar, serta 815 klaim TBC dengan nilai klaim lebih dari Rp5,4 miliar.
Head of Health Analytics Allianz Life Indonesia, dr. Tubagus Argie F.S. Sunartadirdja, mengatakan selain jumlah kasus yang masih tinggi, biaya perawatan penyakit tropis juga mengalami kenaikan signifikan.
"Data klaim menunjukkan bahwa penyakit tropis masih menjadi salah satu alasan masyarakat membutuhkan perawatan medis. Di saat yang sama, biaya pengobatan beberapa penyakit tropis juga terus meningkat. Karena itu, pencegahan dan deteksi dini menjadi sangat penting, bukan hanya untuk menjaga kesehatan tetapi juga mengurangi risiko beban finansial," ujar dr. Tubagus dalam kegiatan Ngobrol Bareng Allianz Citizens (NgobrAZ) bertajuk Waspada Tropical Diseases.
Penyakit yang sudah familiar justru sering diremehkan
Dokter sekaligus edukator kesehatan, dr. Dion Haryadi, menilai salah satu tantangan terbesar dalam pengendalian penyakit tropis adalah anggapan bahwa penyakit tersebut sudah biasa terjadi sehingga dianggap tidak terlalu berbahaya.
"Padahal sebagian besar penyakit tropis sebenarnya dapat dicegah. Sayangnya, banyak orang baru memeriksakan diri ketika gejala sudah berat," kata dr. Dion.
Pada kasus DBD, misalnya, masyarakat sering mengira kondisi pasien membaik saat demam mulai turun. Padahal, fase tersebut justru menjadi masa paling kritis yang membutuhkan pemantauan ketat.
Sementara pada demam tifoid, gejala seperti demam berkepanjangan, tubuh lemas, atau gangguan pencernaan sering dianggap sebagai kelelahan biasa. Begitu pula dengan TBC, batuk yang berlangsung lama kerap disepelekan dan tidak segera diperiksakan.
Kondisi iklim tropis, kepadatan penduduk, sanitasi yang belum merata, serta keberadaan nyamuk Aedes aegypti turut membuat penyakit-penyakit tersebut masih banyak ditemukan di Indonesia.
Biaya perawatan bisa mencapai puluhan juta rupiah
Selain risiko kesehatan, penyakit tropis juga dapat menimbulkan beban ekonomi yang tidak sedikit. Biaya rawat inap pasien DBD, misalnya, dapat mencapai Rp5 juta hingga Rp20 juta tergantung tingkat keparahan, lama perawatan, serta adanya komplikasi.
Berdasarkan data Allianz Indonesia periode 2020-2025, rata-rata biaya perawatan demam tifoid meningkat hingga 66 persen, sedangkan biaya penanganan DBD naik sekitar 88 persen.
Karena itu, masyarakat disarankan memastikan kepesertaan BPJS Kesehatan tetap aktif serta mempertimbangkan perlindungan tambahan melalui asuransi kesehatan swasta.
Cara sederhana mencegah penyakit tropis
Menurut para ahli, pencegahan jauh lebih murah dibandingkan biaya pengobatan. Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan antara lain:
- Hindari kebiasaan menggantung pakaian kotor terlalu lama di kamar karena dapat menjadi tempat beristirahat nyamuk Aedes aegypti penyebab DBD.
- Pastikan rumah memiliki ventilasi dan pencahayaan yang baik untuk membantu mengurangi risiko penularan TBC.
- Hindari mengonsumsi makanan atau es batu yang kebersihannya tidak terjamin, terutama saat bepergian.
- Rutin memeriksa talang air, dispenser, vas bunga, serta tempat penampungan air yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.
- Segera periksakan diri jika mengalami gejala awal dan jangan menunggu hingga kondisi memburuk.
"Penyakit tropis mungkin terdengar akrab bagi masyarakat Indonesia, tetapi bukan berarti bisa dianggap sepele. Mengenali gejala sejak dini dan melakukan pencegahan sederhana dapat membantu melindungi diri sendiri maupun orang-orang terdekat," tutup dr. Tubagus.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)