FITNESS & HEALTH
Kemenkes Catat 2,2 Juta Anak Alami Tekanan Darah di Atas Normal, Ini Pemicunya
Fatha Annisa
Selasa 04 Agustus 2026 / 18:51
- Hasil Cek Kesehatan Gratis (CKG) 2026 mencatat sebanyak 2,2 juta anak usia sekolah dan remaja memiliki tekanan darah di atas normal.
- Kasus peningkatan tekanan darah menjadi temuan terbanyak kedua setelah gigi karies.
- Kemenkes menyebut rendahnya kebugaran fisik serta pola makan menjadi faktor utama peningkatan tekanan darah pada anak.
Jakarta: Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyoroti tingginya temuan peningkatan tekanan darah pada anak usia sekolah dan remaja berdasarkan hasil Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) 2026.
Hingga semester pertama 2026, tercatat sebanyak 2.213.028 anak usia sekolah dan remaja memiliki tekanan darah di atas normal, menjadikannya temuan terbanyak kedua setelah kasus gigi karies.
Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kementerian Kesehatan, Maria Endang Sumiwi, menjelaskan bahwa temuan tersebut belum berarti anak-anak didiagnosis menderita hipertensi. Pemeriksaan di sekolah hanya menunjukkan tekanan darah yang berada di atas batas normal sehingga masih memerlukan pemeriksaan lanjutan.
Menurutnya, salah satu penyebab utama kondisi tersebut adalah rendahnya tingkat kebugaran anak-anak. Dari hasil evaluasi Kemenkes, sekitar 30 persen anak memiliki tingkat kebugaran yang kurang baik.
“Memang anak-anak kalau kita lihat data kebugaran itu masih belum cukup baik. Saya rasa ya kebugaran kurang itu mungkin sekitar 30 persen,” ujar Endang dalam media briefing di Jakarta, Selasa, 4 Agustus 2026.
Selain aktivitas fisik yang rendah, Endang menyebut bahwa pola makan yang kurang sehat juga menjadi faktor yang berkontribusi terhadap meningkatnya tekanan darah pada anak usia sekolah dan remaja.
“Anak-anak kita suka makan manis 50 persen. Lalu, suka makan gurih yang asin-asin itu juga sekitar 40 persen. Minuman manis 50 persen. Waktu kita lihat peluncuran mudik di Pelabuhan Merak, itu bekalnya semua minuman manis,” jelas Endang.
Tak hanya itu, Kemenkes juga menemukan bahwa sekitar 95 persen anak masih kurang mengonsumsi buah dan sayur, sehingga pola makan menjadi salah satu aspek yang perlu segera diperbaiki.
Untuk mengatasi masalah tersebut, Kemenkes mendorong peningkatan aktivitas fisik di lingkungan sekolah maupun di rumah. Salah satu upaya yang tengah disiapkan bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) adalah pemberian tugas olahraga yang dapat dilakukan siswa di rumah.
"Nah, kami sudah ngobrol dengan Dikdasmen. Sekarang juga punya PR olahraga. Jadi anak-anak juga di rumah, 30 menit melakukan olahraga," tuturnya.
Ia berharap perbaikan pola makan dan peningkatan aktivitas fisik sejak usia sekolah dapat membantu menekan risiko tekanan darah tinggi sekaligus mencegah penyakit tidak menular di kemudian hari.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(PRI)
Hingga semester pertama 2026, tercatat sebanyak 2.213.028 anak usia sekolah dan remaja memiliki tekanan darah di atas normal, menjadikannya temuan terbanyak kedua setelah kasus gigi karies.
Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kementerian Kesehatan, Maria Endang Sumiwi, menjelaskan bahwa temuan tersebut belum berarti anak-anak didiagnosis menderita hipertensi. Pemeriksaan di sekolah hanya menunjukkan tekanan darah yang berada di atas batas normal sehingga masih memerlukan pemeriksaan lanjutan.
| Baca juga: Kemenkes: Cek Kesehatan Gratis Tembus 73 Juta Peserta hingga Juli 2026 |
Penyebab Peningkatan Tekanan Darah pada Anak dan Remaja
Menurutnya, salah satu penyebab utama kondisi tersebut adalah rendahnya tingkat kebugaran anak-anak. Dari hasil evaluasi Kemenkes, sekitar 30 persen anak memiliki tingkat kebugaran yang kurang baik.“Memang anak-anak kalau kita lihat data kebugaran itu masih belum cukup baik. Saya rasa ya kebugaran kurang itu mungkin sekitar 30 persen,” ujar Endang dalam media briefing di Jakarta, Selasa, 4 Agustus 2026.
Selain aktivitas fisik yang rendah, Endang menyebut bahwa pola makan yang kurang sehat juga menjadi faktor yang berkontribusi terhadap meningkatnya tekanan darah pada anak usia sekolah dan remaja.
| Baca juga: Demi Indonesia Sehat, Kemenkes Genjot Transformasi Layanan Kesehatan Dasar Lewat ILP |
“Anak-anak kita suka makan manis 50 persen. Lalu, suka makan gurih yang asin-asin itu juga sekitar 40 persen. Minuman manis 50 persen. Waktu kita lihat peluncuran mudik di Pelabuhan Merak, itu bekalnya semua minuman manis,” jelas Endang.
Tak hanya itu, Kemenkes juga menemukan bahwa sekitar 95 persen anak masih kurang mengonsumsi buah dan sayur, sehingga pola makan menjadi salah satu aspek yang perlu segera diperbaiki.
| Baca juga: Kemenkes Gas Pol: Penuhi Dokter Puskesmas Demi Tekan Angka Stunting |
Upaya Kemenkes dan Kemendikdasmen Tekan Risiko Tekanan Darah Tinggi pada Anak
Untuk mengatasi masalah tersebut, Kemenkes mendorong peningkatan aktivitas fisik di lingkungan sekolah maupun di rumah. Salah satu upaya yang tengah disiapkan bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) adalah pemberian tugas olahraga yang dapat dilakukan siswa di rumah."Nah, kami sudah ngobrol dengan Dikdasmen. Sekarang juga punya PR olahraga. Jadi anak-anak juga di rumah, 30 menit melakukan olahraga," tuturnya.
Ia berharap perbaikan pola makan dan peningkatan aktivitas fisik sejak usia sekolah dapat membantu menekan risiko tekanan darah tinggi sekaligus mencegah penyakit tidak menular di kemudian hari.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(PRI)