FITNESS & HEALTH
Kemenkes Gas Pol: Penuhi Dokter Puskesmas Demi Tekan Angka Stunting!
Yatin Suleha
Senin 03 Agustus 2026 / 07:05
- Kemenkes lagi gas pol memperkuat layanan kesehatan dasar di seluruh penjuru negeri.
- Mulai dari melengkapi alat kesehatan, meratakan tenaga medis, sampai fokus basmi stunting dan penyakit tidak menular.
- Menurut dr. Endang, ngebut bikin teknologi makin canggih di faskes tingkat dasar jadi prioritas utama biar warga bisa gampang cek kesehatan.
Jakarta: Kemenkes lagi gas pol memperkuat layanan kesehatan dasar di seluruh penjuru negeri, mulai dari melengkapi alat kesehatan, meratakan tenaga medis, sampai fokus basmi stunting dan penyakit tidak menular.
Kabar seru ini dibongkar langsung sama Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes, dr. Maria Endang Sumiwi, waktu ngobrol santai di jumpa pers rangkaian Leimena Conference 2026 yang diadain di Gedung BRIN, Jakarta, Senin lalu.
Menurut dr. Endang, ngebut bikin teknologi makin canggih di faskes tingkat dasar jadi prioritas utama biar warga bisa gampang cek kesehatan tanpa harus ribet dirujuk ke rumah sakit besar.
"Kami ingin teknologi itu turun dan bisa ditemui masyarakat. Puskesmas kini dilengkapi elektrokardiografi (EKG), ultrasonografi (USG), pemeriksaan laboratorium yang lebih lengkap, serta dilanjutkan dengan pengadaan alat X-ray," ujar dr. Endang.
.jpg)
(Kemenkes kejar target rasio dokter puskesmas dan tekan stunting lewat layanan primer. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Selain fasilitas medis, Kemenkes berfokus pada pemerataan sumber daya manusia. Saat ini, rasio dokter umum Indonesia tercatat 0,6 per 1.000 penduduk.
Meski membaik dibanding dua tahun lalu, angka tersebut belum memenuhi standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebesar 1 per 1.000 penduduk.
"Dari 10.300 puskesmas di Indonesia, saat ini masih ada sekitar 400 puskesmas yang belum memiliki dokter. Pemenuhan kebutuhan tenaga dokter di puskesmas tersebut dibuka pada tahun ini," kata dr. Endang.
Soal urusan gizi, Kemenkes lagi gencar-gencarnya ngejar target buat nurunin angka stunting nasional yang sempat nongkrong di angka 19,8 persen (berdasarkan data 2024).
Gerakan pencegahannya pun digeber dari akar rumput, mulai dari rutin cek kehamilan, bagi-bagi makanan tambahan, sampai rajin nimbang balita tiap bulan di posyandu, bestie.
Enggak cuma itu, buat ngatasin penyakit tidak menular yang horor kayak jantung, stroke, sampai gagal ginjal, Kemenkes juga ngebut andalkan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di puskesmas supaya warga bisa deteksi dini tensi tinggi dan gula darah sebelum terlambat.
Upaya penguatan layanan primer ini turut didukung oleh kolaborasi riset berbasis bukti.
Deputi BRIN, Indi Dharmayanti, menyatakan pihak riset telah menyelaraskan peta jalan (roadmap) penelitian dengan program transformasi kesehatan Kemenkes.
Dukungan juga datang dari Director Division of Health Systems and Services WHO WPRO, Lluis Vinyals Torres, yang mengapresiasi komitmen Indonesia dalam menempatkan layanan primer sebagai prioritas utama reformasi kesehatan.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(TIN)
Kabar seru ini dibongkar langsung sama Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes, dr. Maria Endang Sumiwi, waktu ngobrol santai di jumpa pers rangkaian Leimena Conference 2026 yang diadain di Gedung BRIN, Jakarta, Senin lalu.
Menurut dr. Endang, ngebut bikin teknologi makin canggih di faskes tingkat dasar jadi prioritas utama biar warga bisa gampang cek kesehatan tanpa harus ribet dirujuk ke rumah sakit besar.
"Kami ingin teknologi itu turun dan bisa ditemui masyarakat. Puskesmas kini dilengkapi elektrokardiografi (EKG), ultrasonografi (USG), pemeriksaan laboratorium yang lebih lengkap, serta dilanjutkan dengan pengadaan alat X-ray," ujar dr. Endang.
Pemerataan dokter dan intervensi stunting
.jpg)
(Kemenkes kejar target rasio dokter puskesmas dan tekan stunting lewat layanan primer. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Selain fasilitas medis, Kemenkes berfokus pada pemerataan sumber daya manusia. Saat ini, rasio dokter umum Indonesia tercatat 0,6 per 1.000 penduduk.
Meski membaik dibanding dua tahun lalu, angka tersebut belum memenuhi standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebesar 1 per 1.000 penduduk.
"Dari 10.300 puskesmas di Indonesia, saat ini masih ada sekitar 400 puskesmas yang belum memiliki dokter. Pemenuhan kebutuhan tenaga dokter di puskesmas tersebut dibuka pada tahun ini," kata dr. Endang.
Soal urusan gizi, Kemenkes lagi gencar-gencarnya ngejar target buat nurunin angka stunting nasional yang sempat nongkrong di angka 19,8 persen (berdasarkan data 2024).
Gerakan pencegahannya pun digeber dari akar rumput, mulai dari rutin cek kehamilan, bagi-bagi makanan tambahan, sampai rajin nimbang balita tiap bulan di posyandu, bestie.
Enggak cuma itu, buat ngatasin penyakit tidak menular yang horor kayak jantung, stroke, sampai gagal ginjal, Kemenkes juga ngebut andalkan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di puskesmas supaya warga bisa deteksi dini tensi tinggi dan gula darah sebelum terlambat.
Upaya penguatan layanan primer ini turut didukung oleh kolaborasi riset berbasis bukti.
Deputi BRIN, Indi Dharmayanti, menyatakan pihak riset telah menyelaraskan peta jalan (roadmap) penelitian dengan program transformasi kesehatan Kemenkes.
Dukungan juga datang dari Director Division of Health Systems and Services WHO WPRO, Lluis Vinyals Torres, yang mengapresiasi komitmen Indonesia dalam menempatkan layanan primer sebagai prioritas utama reformasi kesehatan.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(TIN)