Pakar Gizi IPB University, Ali Khomsan, menyebut kacang hijau sebagai salah satu sumber protein nabati penting. Kandungan proteinnya relatif tinggi dapat mendukung pemenuhan gizi, khususnya pada anak-anak dan ibu hamil.
“Kalau kita bicara tentang kacang hijau sebagai leguminosa (kacang-kacangan), itu adalah tanaman yang memang kaya protein. Kandungan proteinnya bisa berkisar 20 sampai 35 persen, sehingga relatif tinggi,” ujar dosen Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, Ali Khomsan.
Selain itu, harga kacang hijau tergolong murah sehingga terjangkau bagi keluarga-keluarga di Indonesia. Menurutnya, pemanfaatan kacang hijau sebagai makanan tambahan di posyandu dapat berkontribusi pada peningkatan asupan protein anak, terutama bagi mereka yang mengalami stunting, gizi kurang, atau gizi buruk. Namun, ia menegaskan pemberian makanan tambahan tidak bisa dilakukan sporadis.
“Kalau di posyandu pemberiannya hanya satu bulan sekali, itu pasti tidak cukup. Anak-anak yang mengalami stunting atau masalah gizi harus diutamakan pendekatan pangan, diberikan makanan setiap hari, ada yang selama tiga bulan, ada yang sampai enam bulan,” jelas dia.
Ali Khomsan menilai olahan kacang hijau dalam bentuk bubur, camilan, atau produk pangan lainnya relatif mudah diterima oleh anak-anak. Hal ini menjadikan kacang hijau berpotensi sebagai pangan lokal yang dapat diandalkan dalam upaya perbaikan gizi anak Indonesia.
Namun, ia mengingatkan protein nabati memiliki daya cerna dan daya serap lebih rendah dibandingkan dengan protein hewani. Oleh karena itu, kacang hijau tidak dapat berdiri sendiri sebagai solusi tunggal penanggulangan stunting.
“Protein nabati daya cernanya tidak setinggi pangan hewani, sehingga harus dikombinasikan dengan pangan hewani seperti susu, telur, atau sumber hewani lainnya. Tetapi pangan lokal kacang hijau ini tetap perlu dioptimalkan,” kata dia.
Ia merekomendasikan agar pemanfaatan kacang hijau diintegrasikan berkelanjutan dalam program pemberian makanan tambahan di posyandu dan edukasi gizi masyarakat. Program tersebut harus dilakukan rutin dan dalam jangka waktu cukup panjang agar berdampak nyata terhadap perbaikan status gizi dan pencegahan stunting pada anak.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News