Habis Ngobrol Malah Kepikiran Terus? Ini yang Terjadi di Otak
- Mengulang percakapan di kepala bisa muncul karena kita ingin tahu bagaimana orang lain menilai diri kita.
- Rasa takut ditolak bisa bikin detail kecil dalam obrolan terasa lebih penting dari yang sebenarnya.
- Terus mencari kepastian dari orang lain bisa bikin lega sesaat, tapi siklusnya bisa berulang.
Jakarta: Pernah nggak, sih, selesai ngobrol sama seseorang, tapi beberapa jam kemudian obrolannya malah muter lagi di kepala? Tiba-tiba kepikiran, “Tadi gue jawabnya aneh nggak, ya?” atau “Jangan-jangan dia tersinggung?”
Padahal, bisa aja percakapannya berjalan biasa aja dan orang tersebut bahkan nggak memikirkannya lagi. Tapi buat kita, satu kalimat atau ekspresi tertentu malah terus keputer.
Fenomena ini dibahas psikoterapis Carolyn Karoll, LCSW-C, CEDS-C, dalam artikel Psychology Today berjudul Why Do I Keep Replaying Conversations in My Head? Karoll merupakan terapis yang menangani gangguan makan dan ikut menulis buku tentang terapi kelompok untuk gangguan makan.

(Ilustrasi dua orang sedang berbincang. Foto: AI Generated)
Bukan cuma soal percakapannya
Menurut Karoll, ketika seseorang terus mengulang percakapan, yang dicari sebenarnya belum tentu kesalahan dalam obrolan tersebut. Bisa jadi, kita sedang berusaha mencari tahu bagaimana orang lain melihat dan menilai diri kita.
Contohnya, teman tiba-tiba melihat ponsel saat kita sedang cerita. Pikiran langsung bisa ke mana-mana. “Dia bosen nggak, ya?” atau “Gue kebanyakan ngomong nggak?”
Saat sedang cemas, perhatian kita juga bisa lebih tertuju pada hal-hal yang dianggap sebagai tanda penolakan. Respons positif atau bagian obrolan yang berjalan lancar malah jadi nggak terlalu diperhitungkan.
Kok makin dipikir malah makin panjang?
Mengulang percakapan bisa terasa seperti cara untuk mencari jawaban sekaligus melindungi diri dari kemungkinan ditolak. Kita mencoba menemukan bagian yang dianggap salah supaya ke depannya bisa menghindari kejadian yang sama.
Masalahnya, kebiasaan ini justru bisa bikin pikiran makin sibuk. Satu ekspresi wajah dianalisis, intonasi suara dipikirkan lagi, lalu satu kalimat dihubungkan dengan berbagai kemungkinan.
Padahal, merasa malu atau nggak nyaman setelah ngobrol nggak otomatis berarti kita memang melakukan kesalahan. Bisa aja kita cuma terlalu fokus pada satu bagian kecil dari percakapan.
Reassurance memang bikin lega, tapi...
Saat mulai ragu, kita mungkin langsung bertanya ke teman, “Menurut lo tadi gue aneh nggak?”
Jawaban dari orang lain memang bisa bikin tenang. Namun, kalau setiap kali merasa nggak yakin kita selalu membutuhkan kepastian dari orang lain, siklus tersebut bisa terus berulang.
Meminta pendapat orang lain tentu nggak selalu jadi masalah. Yang perlu diperhatikan adalah ketika kita merasa harus mendapatkan kepastian berulang kali supaya bisa tenang.
Pada akhirnya, kita nggak mungkin tahu persis apa yang dipikirkan orang lain. Jadi, daripada terus memutar ulang satu percakapan, coba lihat obrolannya secara utuh. Bisa jadi, percakapan yang menurut kita super awkward itu sebenarnya cuma percakapan biasa buat orang lain.
Desi Indasari
(FIR)