FAMILY
Punya Bestie Itu Seru, Tapi Cara Menjaga Pertemanan Jauh Lebih Penting
A. Firdaus
Kamis 02 Juli 2026 / 08:11
- Hubungan dengan teman bukan hanya menjadi tempat bermain atau berbagi cerita.
- Kemampuan membangun hubungan yang sehat biasanya mulai berkembang melalui proses mengamati lingkungan sekitar.
- Melalui percakapan dan berbagi pengalaman, anak tidak hanya belajar dari apa yang dialami sendiri.
Jakarta: Persahabatan menjadi salah satu pengalaman penting, yang membentuk tumbuh kembang anak. Hubungan dengan teman bukan hanya menjadi tempat bermain atau berbagi cerita, tetapi juga menjadi ruang bagi anak untuk belajar memahami orang lain, mengelola emosi, hingga menghadapi perbedaan pendapat.
Sayangnya, tidak semua anak memahami seperti apa hubungan pertemanan yang sehat. Oleh karena itu, mengenalkan nilai-nilai dasar dalam sebuah persahabatan sejak dini, menjadi bekal penting agar anak mampu membangun hubungan, yang positif dan saling mendukung hingga dewasa.
Hubungan pertemanan yang baik tidak hanya ditentukan oleh seberapa sering anak bermain bersama. Persahabatan yang sehat dibangun melalui berbagai nilai positif, seperti saling peduli, memberi dukungan, memiliki empati, menjaga kepercayaan, menghargai satu sama lain, terbuka saat berbagi cerita, hingga mampu menyelesaikan konflik dengan cara yang baik.
Tidak semua hubungan pertemanan memiliki seluruh kualitas tersebut dalam kadar yang sama. Namun, kumpulan nilai itu menjadi fondasi penting yang membantu hubungan tetap kuat. Oleh karena itu, anak perlu belajar mengenali sikap-sikap tersebut pada orang lain, sekaligus membiasakannya dalam kehidupan sehari-hari.
Dilansir dari Psychology Today menurut Pamela D. Brown, Ph.D., seorang psikolog berlisensi, kemampuan membangun hubungan yang sehat biasanya mulai berkembang melalui proses mengamati lingkungan sekitar.
Anak memperhatikan bagaimana orang lain berteman, menyelesaikan perbedaan pendapat, merespons konflik, hingga memperbaiki hubungan setelah terjadi kesalahpahaman. Dari pengamatan itu, anak mulai memahami perilaku seperti apa yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Proses belajar tersebut akan semakin kuat, ketika disertai penjelasan dari orang dewasa. Percakapan sederhana setelah melihat suatu kejadian atau membahas pengalaman, yang baru dialami anak dapat membantu mereka memahami makna dari setiap interaksi yang terjadi.
Sering kali, momen belajar itu tidak direncanakan. Obrolan singkat yang muncul secara spontan, setelah anak melihat suatu peristiwa atau mengalami situasi tertentu justru menjadi kesempatan berharga, untuk mengajarkan cara membangun hubungan yang sehat.
Melalui percakapan dan berbagi pengalaman, anak tidak hanya belajar dari apa yang dialami sendiri, tetapi juga memperoleh pelajaran dari pengalaman orang lain. Pengalaman-pengalaman tersebut kemudian menjadi bekal, yang membantu anak membangun persahabatan yang lebih kuat, saling menghargai, dan mampu bertahan dalam berbagai situasi.
Secillia Nur Hafifah
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)
Sayangnya, tidak semua anak memahami seperti apa hubungan pertemanan yang sehat. Oleh karena itu, mengenalkan nilai-nilai dasar dalam sebuah persahabatan sejak dini, menjadi bekal penting agar anak mampu membangun hubungan, yang positif dan saling mendukung hingga dewasa.
Hubungan pertemanan yang baik tidak hanya ditentukan oleh seberapa sering anak bermain bersama. Persahabatan yang sehat dibangun melalui berbagai nilai positif, seperti saling peduli, memberi dukungan, memiliki empati, menjaga kepercayaan, menghargai satu sama lain, terbuka saat berbagi cerita, hingga mampu menyelesaikan konflik dengan cara yang baik.
Tidak semua hubungan pertemanan memiliki seluruh kualitas tersebut dalam kadar yang sama. Namun, kumpulan nilai itu menjadi fondasi penting yang membantu hubungan tetap kuat. Oleh karena itu, anak perlu belajar mengenali sikap-sikap tersebut pada orang lain, sekaligus membiasakannya dalam kehidupan sehari-hari.
Anak belajar dari apa yang dilihat dan didengar
Dilansir dari Psychology Today menurut Pamela D. Brown, Ph.D., seorang psikolog berlisensi, kemampuan membangun hubungan yang sehat biasanya mulai berkembang melalui proses mengamati lingkungan sekitar.
Anak memperhatikan bagaimana orang lain berteman, menyelesaikan perbedaan pendapat, merespons konflik, hingga memperbaiki hubungan setelah terjadi kesalahpahaman. Dari pengamatan itu, anak mulai memahami perilaku seperti apa yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Proses belajar tersebut akan semakin kuat, ketika disertai penjelasan dari orang dewasa. Percakapan sederhana setelah melihat suatu kejadian atau membahas pengalaman, yang baru dialami anak dapat membantu mereka memahami makna dari setiap interaksi yang terjadi.
Sering kali, momen belajar itu tidak direncanakan. Obrolan singkat yang muncul secara spontan, setelah anak melihat suatu peristiwa atau mengalami situasi tertentu justru menjadi kesempatan berharga, untuk mengajarkan cara membangun hubungan yang sehat.
Melalui percakapan dan berbagi pengalaman, anak tidak hanya belajar dari apa yang dialami sendiri, tetapi juga memperoleh pelajaran dari pengalaman orang lain. Pengalaman-pengalaman tersebut kemudian menjadi bekal, yang membantu anak membangun persahabatan yang lebih kuat, saling menghargai, dan mampu bertahan dalam berbagai situasi.
Secillia Nur Hafifah
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)