FAMILY

Nggak Enak, tapi Tetap Bertahan? Begini Cara Circle Toxic 'Ngikat' Seseorang

A. Firdaus
Selasa 30 Juni 2026 / 08:10
Ringkasnya gini..
  • Salah satu alasan seseorang tetap bertahan dalam situasi tersebut alasannya karena, kelompok itu menjadi satu-satunya sumber rasa memiliki.
  • Pada awalnya, kelompok pertemanan yang toxic sering kali terlihat menarik.
  • Ketika seseorang mulai menjadi sasaran ejekan atau perlakuan tidak menyenangkan, hubungan pertemanan biasanya berubah menjadi beban emosional.
Jakarta: Lingkaran pertemanan seharusnya menjadi tempat yang membuat seseorang merasa diterima, didukung, dan nyaman menjadi diri sendiri.  Namun, tidak semua circle pertemanan memberikan pengalaman seperti itu.

Ada kalanya sebuah circle justru dipenuhi kebiasaan bergosip, saling merendahkan, hingga menjadikan orang lain sebagai bahan ejekan. Meski suasananya tidak sehat, banyak orang tetap memilih bertahan.

Fenomena ini bukan sekadar soal sulit mencari teman baru, melainkan berkaitan dengan kebutuhan dasar manusia, untuk merasa diterima dan memiliki tempat dalam sebuah kelompok.
 

Mengapa orang bertahan di circle yang toxic?


Pada awalnya, kelompok pertemanan yang toxic sering kali terlihat menarik. Anggotanya bisa saja dikenal pintar, menyenangkan, percaya diri, atau populer. 

Namun, seiring waktu, muncul perilaku negatif seperti gemar bergosip, meremehkan orang lain, hingga saling melontarkan komentar yang menyakitkan.

Dilansir dari Psychology Today menurut Susan Heitler, Ph.D., psikolog dan penulis sejumlah buku, antara lain From Conflict to Resolution dan The Power of Two, salah satu alasan seseorang tetap bertahan dalam situasi tersebut alasannya karena, kelompok itu menjadi satu-satunya sumber rasa memiliki.

Kondisi ini lebih mudah terjadi, ketika seseorang tidak memiliki hubungan yang hangat dengan keluarga, atau tidak mempunyai lingkungan pertemanan lain di luar sekolah maupun komunitasnya.

Akibatnya, meski menyadari perilaku kelompok tersebut tidak sehat, mereka tetap memilih bertahan karena takut kehilangan tempat untuk diterima.

Sebaliknya, seseorang yang memiliki hubungan dekat dengan keluarga, sahabat, atau komunitas lain biasanya tidak terlalu bergantung pada satu kelompok pertemanan. 

Kehadiran lingkungan pendukung membuat mereka lebih berani menjaga nilai-nilai, yang diyakini dan tidak mudah terjebak dalam hubungan yang merugikan.
 

Rasa berkuasa bisa memicu perilaku kejam


Dalam beberapa kelompok, perilaku merendahkan orang lain dapat menjadi cara untuk memperoleh pengaruh atau menunjukkan dominasi. Mengejek, mengolok-olok, atau mempermalukan orang lain bisa memberikan perasaan lebih kuat, dan lebih berkuasa bagi sebagian anggota kelompok.

Di sisi lain, anggota yang menyaksikan perilaku tersebut juga dapat merasa khawatir menjadi target berikutnya. Akibatnya, mereka memilih ikut tertawa atau bahkan terlibat dalam tindakan tersebut, agar tetap dianggap sebagai bagian dari kelompok. 

Tanpa disadari, kondisi ini membuat budaya toxic terus berulang, karena setiap anggota berusaha mempertahankan posisinya.
 

Saat menjadi target, pergi bisa jadi pilihan terbaik


Ketika seseorang mulai menjadi sasaran ejekan atau perlakuan tidak menyenangkan, hubungan pertemanan biasanya berubah menjadi beban emosional. Dalam kondisi seperti ini, menjaga jarak atau meninggalkan kelompok bukan berarti kalah, tetapi dapat menjadi langkah untuk melindungi diri.

Bagi orang yang memiliki dukungan dari keluarga, sahabat, atau komunitas lain, proses keluar dari circle toxic umumnya akan terasa lebih mudah. 

Kehadiran lingkungan yang positif membantu membangun kembali rasa percaya diri, sekaligus mengingatkan bahwa hubungan yang sehat tidak dibangun, melalui rasa takut atau saling menjatuhkan.

Secillia Nur Hafifah

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)

MOST SEARCH