FAMILY

Kebanyakan Main Gadget? Skill Sosial Anak Bisa Ikut Kena Imbas

A. Firdaus
Kamis 02 Juli 2026 / 07:09
Ringkasnya gini..
  • Meski teknologi memberikan banyak manfaat, ada satu hal yang mulai menjadi perhatian.
  • Ketika waktu bersama layar semakin banyak menggantikan interaksi tatap muka, perkembangan keterampilan sosial anak pun berisiko ikut terpengaruh.
  • Di sisi lain, anak kehilangan banyak kesempatan untuk bermain bebas bersama teman sebaya.
Jakarta: Di era digital, gadget sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari anak. Mulai dari belajar, bermain, hingga menikmati hiburan, hampir semua aktivitas kini melibatkan layar.

Meski teknologi memberikan banyak manfaat, ada satu hal yang mulai menjadi perhatian, yaitu berkurangnya kesempatan anak untuk berinteraksi secara langsung dengan teman sebaya.

Padahal, momen berbincang, bermain bersama, hingga menyelesaikan konflik kecil merupakan bagian penting, dalam proses belajar bersosialisasi. 
 

Ketika waktu bersama layar semakin banyak menggantikan interaksi tatap muka, perkembangan keterampilan sosial anak pun berisiko ikut terpengaruh.

 

Waktu layar mengurangi kesempatan belajar bersosialisasi


Dilansir dari Psychology Today menurut Pamela D. Brown, Ph.D., seorang psikolog berlisensi, anak-anak saat ini cenderung menghabiskan lebih banyak waktu di depan layar, dibandingkan berinteraksi langsung dengan teman-temannya.

"Kondisi tersebut, membuat kesempatan untuk melatih kemampuan sosial menjadi semakin terbatas," kata Pamela yang juga merupakan psikolog sekolah bersertifikat dan konselor profesional.

Padahal, berbagai keterampilan penting, seperti memahami perasaan orang lain, menyesuaikan diri dengan situasi, serta memikirkan dampak dari setiap tindakan, lebih banyak dipelajari melalui interaksi secara langsung. Ketika pengalaman tersebut semakin jarang terjadi, kemampuan sosial anak juga berpotensi berkembang lebih lambat.
 

Pandemi COVID-19 mempercepat perubahan kebiasaan anak


Perubahan pola interaksi ini semakin terasa sejak pandemi COVID-19. Pada masa itu, banyak orang tua harus membagi waktu antara bekerja dan mendampingi anak di rumah. 

Dalam situasi tersebut, gadget menjadi solusi yang paling praktis untuk menjaga anak tetap sibuk dan fokus, sehingga orang tua dapat menyelesaikan pekerjaan.

Di sisi lain, anak kehilangan banyak kesempatan untuk bermain bebas bersama teman sebaya. Mereka juga lebih jarang menghadapi perbedaan pendapat, atau konflik kecil yang sebenarnya menjadi bagian penting dalam proses belajar berkomunikasi, bernegosiasi, dan memahami sudut pandang orang lain.
 

Pengalaman langsung jadi kunci belajar berteman


Kemampuan bersosialisasi tidak terbentuk hanya melalui teori atau pengamatan dari jauh. Anak membutuhkan pengalaman nyata yang terjadi berulang kali, agar memahami bagaimana cara membangun hubungan yang baik dengan orang lain. 

Dari setiap interaksi, anak belajar mengenali perilaku yang dapat diterima, memahami reaksi teman, serta melihat secara langsung dampak dari setiap tindakan yang dilakukan.

Oleh karena itu, kemampuan menjalin persahabatan bukanlah keterampilan yang muncul dengan sendirinya. Kemampuan tersebut tumbuh melalui pengalaman, arahan dari orang dewasa, serta kesempatan untuk terus berinteraksi dengan lingkungan sekitar.

Dengan dukungan yang tepat, anak tidak hanya belajar mencari teman, tetapi juga membangun hubungan yang sehat dan bertahan hingga dewasa.

Secillia Nur Hafifah

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)

MOST SEARCH