FITNESS & HEALTH
Bukan Nunggu Anak Besar, Cegah Stunting Justru Dimulai dari Kehamilan
A. Firdaus
Selasa 01 September 2026 / 07:14
- Pencegahan stunting perlu dimulai sejak kehamilan. Simak pentingnya gizi ibu, pemeriksaan kehamilan, dan pemantauan tumbuh kembang sejak dini.
- Sasar 1.080 Ibu Hamil di 36 Kota
- Kecukupan gizi selama kehamilan menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan calon ibu.
Jakarta: Mencegah stunting ternyata bukan pekerjaan yang baru dimulai ketika anak sudah lahir. Upaya tersebut justru perlu dilakukan sejak jauh lebih awal, bahkan ketika seorang perempuan sedang mengandung.
Pasalnya, kondisi kesehatan dan kecukupan gizi ibu selama kehamilan turut menjadi bagian penting dalam mendukung tumbuh kembang janin.
Pesan tersebut menjadi salah satu fokus Program Merdeka Stunting 2026, gerakan kolaboratif yang digagas Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) melalui Pokja PAKIAS bersama PT Pegadaian.
Program tersebut dilaksanakan dalam rangka memperkuat pencegahan stunting sejak masa kehamilan, sekaligus menjadi bagian dari semangat memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81.
Ketua POGI Jaya, Dr. dr. J.M. Seno Adjie, Sp.O.G, Subsp. Obginsos, FISOG, mengatakan program tersebut merupakan salah satu upaya meningkatkan kesehatan perempuan sekaligus menjaga kesehatan ibu dan anak.
"POGI Jaya bekerja sama dengan Pegadaian Persero dan di bawah naungan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak berusaha untuk terus meningkatkan kualitas kehidupan perempuan di Indonesia," ujar Seno.
Menurutnya, pencegahan stunting dan penurunan angka kematian ibu serta anak perlu dilakukan melalui langkah-langkah preventif sejak dini.
Program Merdeka Stunting 2026 dilaksanakan secara serentak di 36 kota di Indonesia. Kegiatan ini melibatkan jaringan 12 Kantor Wilayah Pegadaian dan 36 cabang POGI.
Sekitar 1.080 ibu hamil ditargetkan mendapatkan manfaat dari program tersebut, termasuk ibu hamil yang merupakan nasabah Pegadaian.
Ketua Umum PP POGI, Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, Sp.O.G., Subsp. F.E.R., MPH., FRANZCOG (Hons)., FICRM, mengatakan pemeriksaan dan edukasi diberikan agar calon ibu dapat mengetahui kondisi kehamilan sekaligus memahami pentingnya pencegahan stunting sejak awal.
"Kami ingin memastikan mereka mendapatkan pemeriksaan, edukasi, dan pendampingan yang dibutuhkan sejak awal kehamilan, karena pencegahan stunting memang harus dimulai sedini mungkin," kata Budi.
Dalam program tersebut, ibu hamil mendapatkan sejumlah layanan, mulai dari pemeriksaan kesehatan, USG kehamilan, pemberian Maternal Multinutrient Supplement (MMS), hingga edukasi mengenai gizi dan pencegahan stunting.
Dalam salah satu kegiatan, pemberian MMS dari Dexamedica juga dilakukan secara simbolis kepada perwakilan ibu hamil.
Suplemen tersebut diberikan sebagai bagian dari dukungan pemenuhan kebutuhan mikronutrien selama kehamilan. Namun, kebutuhan suplemen setiap ibu hamil tetap perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing dan konsultasi dengan tenaga kesehatan.
Budi menjelaskan, stunting bukan sekadar persoalan tinggi badan anak yang lebih pendek dibandingkan anak seusianya.
Kondisi tersebut merupakan salah satu bentuk gangguan pertumbuhan yang dapat bermula sejak kehidupan janin.
"Stunting sendiri merupakan manifestasi akhir dari gagal tumbuh akibat gangguan pertumbuhan linear yang dapat dimulai sejak kehidupan janin," jelas Budi.
Gangguan pertumbuhan dapat berkaitan dengan kondisi lingkungan dalam rahim yang kurang optimal dan kemudian berlanjut akibat berbagai faktor, termasuk kekurangan gizi, infeksi berulang, serta kualitas pengasuhan yang kurang memadai selama 1.000 hari pertama kehidupan.
Karena itu, masa kehamilan menjadi periode yang tidak boleh dilewatkan dalam upaya mencegah gangguan pertumbuhan.
Kecukupan gizi selama kehamilan menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan calon ibu.
Menurut Budi, kondisi gizi yang buruk dapat mengganggu perkembangan plasenta dan pertumbuhan janin. Salah satu dampaknya adalah bayi dapat lahir dengan berat badan rendah.
"BB rendah sudah menjadi faktor risiko awal terjadinya stunting, sehingga pertumbuhannya harus terus dimonitor," ujarnya.
Setelah bayi lahir, pemantauan pertumbuhan pun tetap perlu dilakukan secara berkala. Budi menyebut keterlambatan pertumbuhan semakin terlihat pada usia sekitar 24 bulan.
Pada usia 36 bulan, anak yang mengalami stunting bahkan dapat memiliki tinggi badan hingga 20 sentimeter lebih pendek dibandingkan anak yang tumbuh normal.
Karena itu, menemukan faktor risiko dan melakukan intervensi sedini mungkin menjadi penting.
"Semakin dini kita menemukan dan menangani risikonya, semakin besar kesempatan kita mencegah gangguan pertumbuhan menjadi lebih berat," kata Budi.
Program Merdeka Stunting merupakan bagian dari SPRIN (Selamatkan PeRempuan INdonesia) yang diinisiasi POGI untuk memperkuat pencegahan dan intervensi kesehatan sejak dini.
Pesan yang dibawa cukup sederhana: "Dari Ibu Hamil, Semua Jadi Penting."
Artinya, menjaga kesehatan ibu selama kehamilan bukan hanya berkaitan dengan kondisi sang ibu atau kelancaran persalinan. Masa kehamilan juga menjadi salah satu fondasi penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak di kemudian hari.
Jadi, kalau ingin berbicara tentang generasi yang sehat dan bebas stunting, langkahnya tidak perlu menunggu sampai anak lahir.
(FIR)
Pasalnya, kondisi kesehatan dan kecukupan gizi ibu selama kehamilan turut menjadi bagian penting dalam mendukung tumbuh kembang janin.
Pesan tersebut menjadi salah satu fokus Program Merdeka Stunting 2026, gerakan kolaboratif yang digagas Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) melalui Pokja PAKIAS bersama PT Pegadaian.
Program tersebut dilaksanakan dalam rangka memperkuat pencegahan stunting sejak masa kehamilan, sekaligus menjadi bagian dari semangat memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81.
Ketua POGI Jaya, Dr. dr. J.M. Seno Adjie, Sp.O.G, Subsp. Obginsos, FISOG, mengatakan program tersebut merupakan salah satu upaya meningkatkan kesehatan perempuan sekaligus menjaga kesehatan ibu dan anak.
"POGI Jaya bekerja sama dengan Pegadaian Persero dan di bawah naungan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak berusaha untuk terus meningkatkan kualitas kehidupan perempuan di Indonesia," ujar Seno.
Menurutnya, pencegahan stunting dan penurunan angka kematian ibu serta anak perlu dilakukan melalui langkah-langkah preventif sejak dini.
Sasar 1.080 Ibu Hamil di 36 Kota
Program Merdeka Stunting 2026 dilaksanakan secara serentak di 36 kota di Indonesia. Kegiatan ini melibatkan jaringan 12 Kantor Wilayah Pegadaian dan 36 cabang POGI.
Sekitar 1.080 ibu hamil ditargetkan mendapatkan manfaat dari program tersebut, termasuk ibu hamil yang merupakan nasabah Pegadaian.
Ketua Umum PP POGI, Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, Sp.O.G., Subsp. F.E.R., MPH., FRANZCOG (Hons)., FICRM, mengatakan pemeriksaan dan edukasi diberikan agar calon ibu dapat mengetahui kondisi kehamilan sekaligus memahami pentingnya pencegahan stunting sejak awal.
"Kami ingin memastikan mereka mendapatkan pemeriksaan, edukasi, dan pendampingan yang dibutuhkan sejak awal kehamilan, karena pencegahan stunting memang harus dimulai sedini mungkin," kata Budi.
Dalam program tersebut, ibu hamil mendapatkan sejumlah layanan, mulai dari pemeriksaan kesehatan, USG kehamilan, pemberian Maternal Multinutrient Supplement (MMS), hingga edukasi mengenai gizi dan pencegahan stunting.
Dalam salah satu kegiatan, pemberian MMS dari Dexamedica juga dilakukan secara simbolis kepada perwakilan ibu hamil.
Suplemen tersebut diberikan sebagai bagian dari dukungan pemenuhan kebutuhan mikronutrien selama kehamilan. Namun, kebutuhan suplemen setiap ibu hamil tetap perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing dan konsultasi dengan tenaga kesehatan.
Stunting Bisa Berawal Sejak Janin
Budi menjelaskan, stunting bukan sekadar persoalan tinggi badan anak yang lebih pendek dibandingkan anak seusianya.
Kondisi tersebut merupakan salah satu bentuk gangguan pertumbuhan yang dapat bermula sejak kehidupan janin.
"Stunting sendiri merupakan manifestasi akhir dari gagal tumbuh akibat gangguan pertumbuhan linear yang dapat dimulai sejak kehidupan janin," jelas Budi.
Gangguan pertumbuhan dapat berkaitan dengan kondisi lingkungan dalam rahim yang kurang optimal dan kemudian berlanjut akibat berbagai faktor, termasuk kekurangan gizi, infeksi berulang, serta kualitas pengasuhan yang kurang memadai selama 1.000 hari pertama kehidupan.
Karena itu, masa kehamilan menjadi periode yang tidak boleh dilewatkan dalam upaya mencegah gangguan pertumbuhan.
Gizi Ibu Ikut Menentukan Tumbuh Kembang Janin
Kecukupan gizi selama kehamilan menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan calon ibu.
Menurut Budi, kondisi gizi yang buruk dapat mengganggu perkembangan plasenta dan pertumbuhan janin. Salah satu dampaknya adalah bayi dapat lahir dengan berat badan rendah.
"BB rendah sudah menjadi faktor risiko awal terjadinya stunting, sehingga pertumbuhannya harus terus dimonitor," ujarnya.
Setelah bayi lahir, pemantauan pertumbuhan pun tetap perlu dilakukan secara berkala. Budi menyebut keterlambatan pertumbuhan semakin terlihat pada usia sekitar 24 bulan.
Pada usia 36 bulan, anak yang mengalami stunting bahkan dapat memiliki tinggi badan hingga 20 sentimeter lebih pendek dibandingkan anak yang tumbuh normal.
Karena itu, menemukan faktor risiko dan melakukan intervensi sedini mungkin menjadi penting.
"Semakin dini kita menemukan dan menangani risikonya, semakin besar kesempatan kita mencegah gangguan pertumbuhan menjadi lebih berat," kata Budi.
Dari Ibu Hamil, Semua Jadi Penting
Program Merdeka Stunting merupakan bagian dari SPRIN (Selamatkan PeRempuan INdonesia) yang diinisiasi POGI untuk memperkuat pencegahan dan intervensi kesehatan sejak dini.
Pesan yang dibawa cukup sederhana: "Dari Ibu Hamil, Semua Jadi Penting."
Artinya, menjaga kesehatan ibu selama kehamilan bukan hanya berkaitan dengan kondisi sang ibu atau kelancaran persalinan. Masa kehamilan juga menjadi salah satu fondasi penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak di kemudian hari.
Jadi, kalau ingin berbicara tentang generasi yang sehat dan bebas stunting, langkahnya tidak perlu menunggu sampai anak lahir.
(FIR)