FITNESS & HEALTH
Kenapa Air Pegunungan Terasa Lebih Adem? Ini Rahasianya
A. Firdaus
Sabtu 09 Mei 2026 / 08:14
- Ada perjalanan panjang dari alam yang ikut menentukan bagaimana rasa air sampai ke tangan kita.
- Bukit Emmon bukan sekadar lokasi wisata dengan pemandangan hijau khas pegunungan.
- Menjaga kawasan hulu bukan hanya soal mempertahankan lanskap tetap hijau.
Boyolali: Di tengah cuaca yang makin panas, minum air dingin sering jadi solusi paling dicari. Tapi ternyata, rasa segar dan sensasi 'adem' pada air bukan cuma soal suhu atau baru keluar dari kulkas. Ada perjalanan panjang dari alam yang ikut menentukan bagaimana rasa air sampai ke tangan kita.
Banyak orang mungkin tidak sadar, kualitas air justru dimulai jauh sebelum air itu dikemas atau diminum. Semuanya bermula dari kawasan hutan, tanah, dan ekosistem yang masih terjaga.
Di lereng Gunung Merapi, tepatnya di kawasan Bukit Emmon, Klaten dan Boyolali, proses itu berlangsung secara alami setiap hari. Kawasan ini menjadi salah satu daerah tangkapan air atau recharge area, tempat air hujan pertama kali meresap ke dalam tanah sebelum melanjutkan perjalanan panjang sebagai cadangan air tanah dalam.
“Air yang baik tidak diciptakan, tapi dijaga sejak dari alamnya. Karena itu, menjaga ekosistem sumber air adalah fondasi utama untuk memastikan kualitasnya tetap konsisten, termasuk sensasi adem yang dimiliki air,” jelas Senior Manager Public Affairs & Sustainability AQUA, Jeffri Ricardo.
Bukit Emmon bukan sekadar lokasi wisata dengan pemandangan hijau khas pegunungan. Kawasan ini punya peran penting menjaga keseimbangan air di bawah permukaan tanah. Saat hujan turun, tanah yang masih sehat akan membantu air meresap perlahan, tersaring secara alami, lalu tersimpan sebagai cadangan air.

Menurut Water Science Team AQUA, Arif Fadhillah, kondisi vegetasi sangat menentukan proses tersebut. Dok. Ist
“Semakin baik kondisi daerah tangkapan air, semakin besar kemampuan alam untuk menyerap, menyaring, dan melindungi air sejak awal prosesnya,” ujarnya.
Karena itu, menjaga kawasan hulu bukan hanya soal mempertahankan lanskap tetap hijau. Ada proses konservasi yang dilakukan agar tanah tetap mampu menyerap air dengan baik, mulai dari pengendalian alih fungsi lahan hingga penerapan agroforestry.
Menariknya, upaya menjaga alam di kawasan ini juga melibatkan masyarakat sekitar.
Melalui Rumah PAKEM, warga ikut terlibat dalam berbagai kegiatan konservasi, mulai dari pembibitan tanaman, perawatan kawasan hijau, hingga pemantauan lingkungan. Perlahan, cara pandang masyarakat pun berubah. Hutan tidak lagi dianggap sekadar bagian dari alam, tetapi sumber kehidupan yang harus dijaga bersama.
“Kalau sudah merasa memiliki, menjaga alam itu jadi bagian dari kehidupan sehari-hari,” ujar Ketua Rumah PAKEM, Joko.

Melalui Rumah PAKEM, warga ikut terlibat dalam berbagai kegiatan konservasi. Dok. Ist
Bukan cuma pepohonan besar yang punya peran penting. Di kawasan ini, konservasi juga dilakukan lewat pelestarian Anggrek Merapi atau Vanda tricolor, anggrek endemik yang menjadi penanda alami kesehatan lingkungan.
Jika anggrek tersebut tumbuh dengan baik, berarti kondisi ekosistem di sekitarnya masih terjaga.
Hal serupa juga terlihat dari budidaya Kopi Gumuk yang berkembang di kawasan lereng Merapi. Selain memberi nilai ekonomi bagi warga, tanaman kopi ternyata membantu menjaga struktur tanah dan kelembapan lingkungan.
Bagi Painu, petani konservasi sekaligus pengelola Kedai Kopi Gumuk, hubungan antara alam, air, dan kopi terasa nyata dalam kehidupan sehari-hari.
“Kopi yang nikmat hanya bisa tumbuh di lingkungan yang seimbang. Kalau hulunya tidak lagi terjaga, bukan cuma air yang berubah, tapi rasa kopi ini juga bisa hilang,” katanya.
Pada akhirnya, semua hal yang terasa sederhana saat kita minum air ternyata punya cerita panjang di belakangnya. Sensasi segar dan adem itu lahir dari hutan yang tetap rimbun, tanah yang masih mampu menyerap air, hingga masyarakat yang memilih ikut menjaga alamnya.
Karena sebelum air sampai ke gelas kita, ada alam yang lebih dulu bekerja menjaganya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Banyak orang mungkin tidak sadar, kualitas air justru dimulai jauh sebelum air itu dikemas atau diminum. Semuanya bermula dari kawasan hutan, tanah, dan ekosistem yang masih terjaga.
Di lereng Gunung Merapi, tepatnya di kawasan Bukit Emmon, Klaten dan Boyolali, proses itu berlangsung secara alami setiap hari. Kawasan ini menjadi salah satu daerah tangkapan air atau recharge area, tempat air hujan pertama kali meresap ke dalam tanah sebelum melanjutkan perjalanan panjang sebagai cadangan air tanah dalam.
Di tempat inilah alam bekerja diam-diam
“Air yang baik tidak diciptakan, tapi dijaga sejak dari alamnya. Karena itu, menjaga ekosistem sumber air adalah fondasi utama untuk memastikan kualitasnya tetap konsisten, termasuk sensasi adem yang dimiliki air,” jelas Senior Manager Public Affairs & Sustainability AQUA, Jeffri Ricardo.
Bukit Emmon bukan sekadar lokasi wisata dengan pemandangan hijau khas pegunungan. Kawasan ini punya peran penting menjaga keseimbangan air di bawah permukaan tanah. Saat hujan turun, tanah yang masih sehat akan membantu air meresap perlahan, tersaring secara alami, lalu tersimpan sebagai cadangan air.

Menurut Water Science Team AQUA, Arif Fadhillah, kondisi vegetasi sangat menentukan proses tersebut. Dok. Ist
“Semakin baik kondisi daerah tangkapan air, semakin besar kemampuan alam untuk menyerap, menyaring, dan melindungi air sejak awal prosesnya,” ujarnya.
Karena itu, menjaga kawasan hulu bukan hanya soal mempertahankan lanskap tetap hijau. Ada proses konservasi yang dilakukan agar tanah tetap mampu menyerap air dengan baik, mulai dari pengendalian alih fungsi lahan hingga penerapan agroforestry.
Rumah PAKEM wadah untuk melibatkan masyarakat
Menariknya, upaya menjaga alam di kawasan ini juga melibatkan masyarakat sekitar.
Melalui Rumah PAKEM, warga ikut terlibat dalam berbagai kegiatan konservasi, mulai dari pembibitan tanaman, perawatan kawasan hijau, hingga pemantauan lingkungan. Perlahan, cara pandang masyarakat pun berubah. Hutan tidak lagi dianggap sekadar bagian dari alam, tetapi sumber kehidupan yang harus dijaga bersama.
“Kalau sudah merasa memiliki, menjaga alam itu jadi bagian dari kehidupan sehari-hari,” ujar Ketua Rumah PAKEM, Joko.

Melalui Rumah PAKEM, warga ikut terlibat dalam berbagai kegiatan konservasi. Dok. Ist
Bukan cuma pepohonan besar yang punya peran penting. Di kawasan ini, konservasi juga dilakukan lewat pelestarian Anggrek Merapi atau Vanda tricolor, anggrek endemik yang menjadi penanda alami kesehatan lingkungan.
Jika anggrek tersebut tumbuh dengan baik, berarti kondisi ekosistem di sekitarnya masih terjaga.
Hal serupa juga terlihat dari budidaya Kopi Gumuk yang berkembang di kawasan lereng Merapi. Selain memberi nilai ekonomi bagi warga, tanaman kopi ternyata membantu menjaga struktur tanah dan kelembapan lingkungan.
Bagi Painu, petani konservasi sekaligus pengelola Kedai Kopi Gumuk, hubungan antara alam, air, dan kopi terasa nyata dalam kehidupan sehari-hari.
“Kopi yang nikmat hanya bisa tumbuh di lingkungan yang seimbang. Kalau hulunya tidak lagi terjaga, bukan cuma air yang berubah, tapi rasa kopi ini juga bisa hilang,” katanya.
Pada akhirnya, semua hal yang terasa sederhana saat kita minum air ternyata punya cerita panjang di belakangnya. Sensasi segar dan adem itu lahir dari hutan yang tetap rimbun, tanah yang masih mampu menyerap air, hingga masyarakat yang memilih ikut menjaga alamnya.
Karena sebelum air sampai ke gelas kita, ada alam yang lebih dulu bekerja menjaganya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)