FITNESS & HEALTH

Waspada Katarak! Biang Seperlima Penyakit Penyebab Disabilitas

Yatin Suleha
Selasa 27 Oktober 2026 / 06:05
Ringkasnya gini..
  • World Sight Day alias Hari Penglihatan Sedunia itu momen tahunan global yang ingetin kita semua buat mulai care sama kesehatan mata.
  • Memang sih, masalah mata enggak langsung bikin nyawa melayang, tapi jujur deh kalau mata udah bermasalah, quality of life kita bakal langsung drop banget!
  • Wamenkes Dante menyebut katarak dan gangguan penglihatan menyumbang seperlima penyebab disabilitas di Indonesia.
Jakarta: World Sight Day alias Hari Penglihatan Sedunia itu momen tahunan global yang ingetin kita semua buat mulai care sama kesehatan mata. 

Memang sih, masalah mata enggak langsung bikin nyawa melayang, tapi jujur deh kalau mata udah bermasalah, quality of life kita bakal langsung drop banget!

Fakta mengejutkannya, di Indonesia sendiri, seperlima alias 20% kasus penyakit penyebab disabilitas ternyata bersumber dari gangguan penglihatan, lho!

 

Hal ini ditegasin langsung sama Wakil Menteri Kesehatan RI (Wamenkes), Prof. Dante Saksono Harbuwono, pas nyempetin hadir di acara peringatan World Sight Day 2026 yang digelar sama Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) di Jakarta, Sabtu kemarin.

Menurut Wamenkes Prof. Dante, ngerawat dan ngebantu ngatasin masalah penglihatan itu bukan cuma urusan mata doang, tapi investment krusial banget buat naikin Health-Adjusted Life Expectancy (HALE)—alias indikator seberapa lama seseorang bisa hidup sehat tanpa harus ngerasain sakit-sakitan atau disabilitas.

"Gangguan penglihatan, termasuk katarak, memang tidak memicu kematian secara langsung, tetapi sangat menentukan kualitas hidup seseorang. Pemerintah bersama Perdami berkomitmen mengurai antrean operasi katarak dan mengakselerasi pemerataan dokter spesialis mata hingga wilayah terpencil," ujar Wamenkes Dante.

Di tengah era aging population alias makin banyaknya populasi usia lanjut saat ini, gangguan penglihatan ternyata enggak cuma bikin repot, tapi juga langsung ngaruh ke produktivitas harian kita, Bestie. 

Makanya, buat ngatasin masalah ini, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) langsung tancap gas ngedorong percepatan Peta Jalan Kesehatan Penglihatan Nasional lewat sederet target strategis yang enggak main-main:

- Skrining Massal: Pemerintah pasang target minimal 1 juta orang yang masuk kategori berisiko bisa dapet akses deteksi dini kesehatan mata secara gratis di fasilitas kesehatan primer terdekat.

- Operasi Katarak Nyata: Targetnya, 80% penderita katarak tingkat sedang sampai berat bisa tercover operasi, dengan jaminan minimal 80% pasien pasca-operasi sukses dapet kembali tajam penglihatan yang prima.

 
katarak 12
(Wamenkes Dante menyebut katarak dan gangguan penglihatan menyumbang seperlima penyebab disabilitas di Indonesia. Foto: Dok. Birkom Kemenkes)

- Genjot Angka CSR: Kemenkes juga ngebut naikin target Cataract Surgical Rate (CSR)—alias jumlah tindakan operasi katarak per satu juta penduduk—biar bisa tembus minimal 3.000 tindakan secara nasional per 1 juta peserta BPJS Kesehatan.

Semua langkah taktis ini juga diimbangi dengan perluasan layanan medis di faskes dasar, Bestie. Salah satunya lewat pemanfaatan alat canggih seperti funduskopi atau oftalmoskopi, yaitu metode keren buat ngecek bagian dalam mata (seperti retina dan pembuluh darah) demi mendeteksi penyakit mata berat sejak dini.

"Kalau semua dokter umum melakukan pemeriksaan funduskopi, kelainan mata akan makin banyak terlihat. Begitu pula jika semua dokter endokrin seperti saya melakukan funduskopi, retinopati diabetik (kerusakan pembuluh darah retina akibat komplikasi diabetes) akan makin banyak terdeteksi secara dini," tegas Wamenkes Dante.

Sebelumnya, Ketua Pengurus Pusat Perdami, Prof. Budu melaporkan bahwa selain katarak, kasus kebutaan di Indonesia kini makin kompleks. 

Diantaranya akibat meningkatnya gangguan refraksi (kelainan fokus cahaya pada mata seperti minus atau silinder), retinopati diabetik, age-related macular degeneration (AMD/degenerasi makula terkait usia yaitu kerusakan bagian tengah retina), hingga glaukoma (kerusakan saraf mata akibat tekanan bola mata tinggi).

Perubahan pola hidup dan transisi Indonesia ke arah negara berkembang turut memicu pergeseran tren penyakit mata tersebut.

"Tentu katarak menjadi penyebab kebutaan tertinggi di dunia, dan bahkan Indonesia sudah mulai merangkak masuk ke level kedua kebutaan di dunia. Ini betul-betul harus kita antisipasi dengan baik," tandas Prof. Budu.
 
Ia pun menyambut baik penguatan sinergi dengan Kementerian Kesehatan dalam mengatasi beban berat kesehatan mata nasional.

"Kami mengapresiasi Kemenkes yang menempatkan Perdami sebagai mitra strategis. Seiring meningkatnya tantangan kesehatan mata akibat pergeseran gaya hidup dan penuaan populasi, kami mengajak seluruh cabang Perdami di Indonesia mempercepat pemberantasan kebutaan katarak," pungkasnya.


Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(TIN)

MOST SEARCH