FITNESS & HEALTH
Operasi Katarak Kini Fokus pada Kualitas Penglihatan, Bukan Melihat Jelas Saja
Fatha Annisa
Rabu 30 September 2026 / 23:17
- Operasi katarak kini tak hanya bertujuan mengembalikan penglihatan yang jelas, tetapi juga kualitas penglihatan setelah operasi.
- Dokter spesialis mata menjelaskan teknologi FLACS dapat membantu operasi katarak lebih presisi.
- Pilihan lensa juga perlu disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing pasien.
Jakarta: Operasi katarak kini tidak hanya bertujuan membuat pasien kembali melihat dengan jelas. Perkembangan teknologi membuat dokter juga mempertimbangkan quality of vision atau kualitas penglihatan setelah operasi.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat sekitar 600 ribu hingga 650 ribu kasus kebutaan akibat katarak sepanjang 2025. Tak hanya itu, katarak juga menjadi penyebab utama kebutaan pada penduduk berusia di atas 50 tahun dengan proporsi mencapai 81,2 persen.
Katarak sendiri terjadi ketika lensa alami mata yang semula bening menjadi keruh. Kondisi tersebut dapat membuat penglihatan berkabut dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Untungnya, kondisi ini bisa ditangani dengan prosedur operasi.
Tujuan operasi katarak saat ini pun bukan hanya membuat pasien kembali melihat lebih jelas (clear vision), tetapi bagaimana kualitas penglihatan (quality of vision) tersebut dapat mendukung aktivitas sehari-hari.
Dokter spesialis mata JEC Eye Hospitals and Clinics, Dr. Milzan Murtadha, SpM, menjelaskan clear vision mengacu pada kemampuan melihat dengan jelas. Sementara itu, quality of vision memiliki cakupan lebih luas.
“Untuk clear vision itu kita cukup untuk melihat dengan jelas. Sedangkan quality of vision itu banyak maknanya, bisa dari kontras, melihatnya tajam atau tidak, terus blur (atau enggak). Itu juga masuk di quality of vision,” ujar Dr. Milzan dalam Media Briefing pada Rabu, 30 September 2026.
Perkembangan teknologi juga menghadirkan Femtosecond Laser-Assisted Cataract Surgery (FLACS). Metode ini menggunakan laser untuk membantu sejumlah tahapan operasi, mulai dari membuat insisi dan bukaan kapsul lensa hingga memecah lensa yang keruh.
Menurut Dr. Milzan, penggunaan laser dapat membantu meningkatkan presisi dalam operasi dan mengurangi energi ultrasonik yang diperlukan saat memecah lensa.
“Jadi tentu aja kalau bisa laser, dia akan lebih presisi, waktu yang lebih singkat, resikonya juga lebih rendah.
“Ini teknologi kita yang terbaru, yaitu FLACS. Ini juga bagus, menggunakan laser dan lebih presisi, waktunya lebih singkat, serta banyak mengurangi human factor,” jelasnya.
Lensa monofokal umumnya memiliki satu fokus untuk penglihatan jauh. Karena lensa tersebut tidak memiliki kemampuan akomodasi seperti lensa mata alami, pasien biasanya masih membutuhkan kacamata untuk melihat dekat.
Sementara itu, lensa multifokal memiliki beberapa fokus sehingga dapat membantu penglihatan jauh, menengah, dan dekat. Ada pula lensa Extended Depth of Focus (EDOF) yang memberikan rentang penglihatan dengan transisi yang lebih luas, terutama untuk jarak menengah.
Namun, Dr. Milzan menekankan bahwa lensa premium tidak otomatis menjadi pilihan terbaik untuk semua pasien. Kondisi mata, kebutuhan aktivitas, serta target penglihatan perlu diperiksa sebelum menentukan jenis lensa.
“Tidak semua yang paling mahal itu sama dengan yang paling bagus. Tetap semua harus dikondisikan dan dikustomisasi untuk setiap pasien itu sendiri, karena semua mata kita berbeda, bahkan mata kanan dan mata kiri saja berbeda,” tutupnya.
(PRI)
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat sekitar 600 ribu hingga 650 ribu kasus kebutaan akibat katarak sepanjang 2025. Tak hanya itu, katarak juga menjadi penyebab utama kebutaan pada penduduk berusia di atas 50 tahun dengan proporsi mencapai 81,2 persen.
Katarak sendiri terjadi ketika lensa alami mata yang semula bening menjadi keruh. Kondisi tersebut dapat membuat penglihatan berkabut dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Untungnya, kondisi ini bisa ditangani dengan prosedur operasi.
Tujuan operasi katarak saat ini pun bukan hanya membuat pasien kembali melihat lebih jelas (clear vision), tetapi bagaimana kualitas penglihatan (quality of vision) tersebut dapat mendukung aktivitas sehari-hari.
Dokter spesialis mata JEC Eye Hospitals and Clinics, Dr. Milzan Murtadha, SpM, menjelaskan clear vision mengacu pada kemampuan melihat dengan jelas. Sementara itu, quality of vision memiliki cakupan lebih luas.
“Untuk clear vision itu kita cukup untuk melihat dengan jelas. Sedangkan quality of vision itu banyak maknanya, bisa dari kontras, melihatnya tajam atau tidak, terus blur (atau enggak). Itu juga masuk di quality of vision,” ujar Dr. Milzan dalam Media Briefing pada Rabu, 30 September 2026.
Operasi Katarak dengan Teknologi Laser
Saat ini, operasi katarak umumnya dilakukan dengan metode fakoemulsifikasi. Pada prosedur tersebut, lensa yang keruh dipecah menggunakan energi ultrasonik, kemudian dibersihkan dan diganti dengan lensa tanam.Perkembangan teknologi juga menghadirkan Femtosecond Laser-Assisted Cataract Surgery (FLACS). Metode ini menggunakan laser untuk membantu sejumlah tahapan operasi, mulai dari membuat insisi dan bukaan kapsul lensa hingga memecah lensa yang keruh.
Menurut Dr. Milzan, penggunaan laser dapat membantu meningkatkan presisi dalam operasi dan mengurangi energi ultrasonik yang diperlukan saat memecah lensa.
“Jadi tentu aja kalau bisa laser, dia akan lebih presisi, waktu yang lebih singkat, resikonya juga lebih rendah.
“Ini teknologi kita yang terbaru, yaitu FLACS. Ini juga bagus, menggunakan laser dan lebih presisi, waktunya lebih singkat, serta banyak mengurangi human factor,” jelasnya.
Pilihan Lensa Tak Bisa Disamakan
Setelah lensa mata yang keruh diangkat, dokter akan memasang lensa intraokular atau intraocular lens (IOL). Jenis lensa yang digunakan dapat memengaruhi kualitas penglihatan pasien setelah operasi.Lensa monofokal umumnya memiliki satu fokus untuk penglihatan jauh. Karena lensa tersebut tidak memiliki kemampuan akomodasi seperti lensa mata alami, pasien biasanya masih membutuhkan kacamata untuk melihat dekat.
Sementara itu, lensa multifokal memiliki beberapa fokus sehingga dapat membantu penglihatan jauh, menengah, dan dekat. Ada pula lensa Extended Depth of Focus (EDOF) yang memberikan rentang penglihatan dengan transisi yang lebih luas, terutama untuk jarak menengah.
Namun, Dr. Milzan menekankan bahwa lensa premium tidak otomatis menjadi pilihan terbaik untuk semua pasien. Kondisi mata, kebutuhan aktivitas, serta target penglihatan perlu diperiksa sebelum menentukan jenis lensa.
“Tidak semua yang paling mahal itu sama dengan yang paling bagus. Tetap semua harus dikondisikan dan dikustomisasi untuk setiap pasien itu sendiri, karena semua mata kita berbeda, bahkan mata kanan dan mata kiri saja berbeda,” tutupnya.
(PRI)